Sosialisasi Credit Union Filosofi Petani

February 9, 2012 by  
Filed under Opini dan Berita

Hari Senin dan Selasa tanggal 30-31 Januari 2012, di Hotel Amaris Palangka Raya dilaksanakan Sosialisasi Credit Union Filosofi Petani yang difasilitasi oleh Bapak A.R. Mecer tokoh penggerak Credit Union dan juga Ketua Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan yang dihadiri oleh Penasehat, Dewan Pengurus, Badan Pengawas, dan unsur Pimpinan Manajemen CU Betang Asi.

Mengawali sosialisasi tersebut, A.R. Mecer menggambarkan kehidupan yang dilakukan para petani dulu, dari kegiatan untuk menyediakan Makan dan Minum dalam rangka memenuhi kebutuhan hari-hari, Bercocok Tanam untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang, Kebutuhan Sosial dalam membangun sikap solidaritas, kebersamaan serta keharmonisan antar sesama, Memohon berkat dan Bersyukur atas apa yang dilakukan dan yang telah diterima dari sang pencipta.  Filosofi petani ini merefleksikan apa dan seperti apa yang telah Credit Union implementasikan kepada masyarakat dan anggota pada khususnya.

A.R. Mecer juga menyampaikan mengenai beberapa pandangan masyarakat Credit Union terhadap pergerakan Credit Union yang mulai keluar dari jalur pemberdayaan terhadap masyarakat kecil.  Hal ini yang selalu menjadi pikiran dan perenungan panjang bagi Bapak A.R. Mecer sehingga muncul gagasan mengenai Credit Union Filosofi Petani.

Dalam sosialisasi Credit Union Filosofi Petani, A.R. Mecer dengan sangat gampang dan jelas memberikan penjelasan kepada peserta sosialisasi berkenaan dengan pola pengembangan Credit Union Filosofi Petani yang diharapkan semua Credit Union dibawah jaringan Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan dapat menyesuaikan pola pelayanan dan pengembanganya berdasarkan Filosofi Petani dengan harapan bahwa keberadaan Credit Union di tengah masyarakat betul-betul melayani kepentingan seluruh anggota khususnya anggota lapisan menegah kebawah.

Manager CU Betang Asi Tempat Pelayanan Betang Sinta – Sepang Kota, Sylvester Suanda mengatakan bahwa Credit Union Filosofi Petani yang disosialisasikan oleh Bapak A.R. Mecer betul-betul memberikan pencerahan dan dapat memberikan manfaat yang besar bagi pergerakan CU Betang Asi kedepan.

Manager CU Betang Asi Tempat Pelayanan Betang Batarung – Kuala Kurun, Yepta Diharja, SP. Menaggapi sosialisasai Credit Union Filosofi Petani yang disampaikan oleh A.R. Mecer betul-betul dapat mengembalikan semangat gerakan Credit Union.  Yepta mengatakan bahwa pola Credit Union Filosofi Petani dalam mengelola Credit Union betul-betul sesuai dengan dengan semangat Credit Union yang terdiri dari “Kumpulan orang-orang” jadi yang dikelola adalah betul-betul kumpulan orang bukan uang, karena uang adalah dampak dari segala kegiatan yang dilakukan.  Disamping itu, Credit Union betul-betul memberikan hak yang sama kepada semua anggotanya tanpa membedakan tingkat kemampuan sosial ekonomi anggota.

Credit Union Filosofi Petani dalam pengelolaan produk simpanan betul-betul memberikan harapan kepada anggotanya untuk dapat memperolehnya berdasarkan tingkat kemampuannya, dimana keistimewaannya adalah anggota dapat betul-betul menggunakan produk dan merancangnya secara terencana, sehingga mengurangi spekulan-spekulan yang hanya ingin memanfaatkan Credit Union untuk memperkaya diri sendiri.  Ujar Yepta.

Kegaitan Sosialisasi Credit Union Filosofi Petani direspon baik oleh semua peserta yang langsung menindak lanjuti dengan mengadakan pertemuan kembali hari kamis 2 Pebruari 2012 di Hotel Amaris untuk membahas hasil sosialisasi tersebut.

TPK Timpah Mulai Berbenah

January 17, 2012 by  
Filed under Opini dan Berita

Akhir minggu pertama bulan Januari 2012, penulis mengunjungi TPK Timpah yang terletak di koordinat S 01° 43′ 48.33″, E 114° 28′ 42.47″. Desember 2011 lalu Ernesto Kardinal baru saja di berikan SK oleh pengurus sebagai koordinator TPK Timpah. Pencapaian target diharapkan dapat tercapai hingga akhir tahun ini.

Sebagai upaya pencapaian target tersebut diharapkan pendirian kantor baru TPK Timpah agar meningkatkan motivasi calon-calon anggota CU yang berada di wilayah ini sehingga aktivitas anggota dan penggiat CU dapat dipantau dari lintas Palangka Raya- Buntok. Berikut petikan wawancara yang dilakukan penulis:

Strategi untuk pencapaian target di tahun 2012?

Yang pasti untuk pencapaian target lebih mengoptimalkan kolektor, karena mereka sebagai ujung tombak di lapangan, yang pasti memberikan pemahaman-pemahaman kepada kolektor mengenai organisasi CU mereka (kolektor) juga harus tahu.

Berarti ada pertemuan-pertemuan atau pelatihan di tingkat kolektor?

Iya,itu harus dilakukan

Berapa orang kolektor di wilayah ini?

Ada 7 orang, namun 1 orang belum diberikan SK kolektor karena masih diusulkannya, di daerah Batapah belum terlalu berkembang, karena belum ada motivasi. Di daerah ini 100% penghasilan masyarakat dari menyadap karet, ada kemungkinan perkembangan CU akan baik di daerah sana.

Paska pendirian TPK Timpah di bawah kantor TP Batuah Marajaki, Petuk Liti, dilihat dari kendala ataupun keuntungan-keuntungan yang terjadi?

Dari segi kendala tidak ada yang terlalu menghambat kinerja, untuk administrasi awalnya kita agak berbelit-belit karena harus mutasi dan lain-lain. Tapi ini tidak masalah menurut saya, namun berdasarkan pandangan anggota di Petuk Liti sudah ada kantor yang megah, itu akan menambah kepercayaan kepada anggota dan ada harapan anggota yang bertanya kapan didirikan kantor di TPK Timpah ini.

Jadi lebih banyak anggota ingin melihat bukti fisik, kantor sudah berdiri?

Iya seperti itu.

Dari sumber daya yang ada, berapa orang yang membantu anda di sini?

Ada 2 orang, 1 orang volunter dan 1 orang staf. Terkait masalah pendidikan kami masih di bantu oleh TP Batuah Marajaki, Petuk Liti juga dari kantor pusat.

Dari analisa anda, bagaimana potensi anggota maupun penyaluran kredit di daerah sini?

Kalau untuk peminjaman di daerah Timpah, kebanyakan mereka belum terlalu percaya karena ada yang lain misalnya CERD, di daerah Tumbang Randang, Danau Pantau. Di daerah Danau Pantau CERDnya sudah berjalan baik, tapi di daerah Tumbang Randang sudah mulai tidak ada.
Kendala yang lain, saat mengumpulkan orang-orang di Timpah ini cukup sulit, saya tidak tahu penyebabnya mungkin karena ada kesibukan-kesibukan tersendiri misalnya karena usaha masyarakat di sini sedot emas, juga sebagian ada yang menyadap karet.
Cukup sulit untuk mengumpulkan masyarakat, sudah beberapa kali saya berusaha untuk mengadakan pendidikan di Timpah tapi belum ada kesadaran untuk ikut. Tapi, dari kampung-kampung lain tidak sulit.

Padahal Timpah sendiri sebagai tempat pelayanan?

Iya, karena dulu di Timpah ada kolektor yang membantu dan langsung mengunjungi ke rumah-rumah anggota.

Pandangan Anda, dengan akan didirikan kantor di TPK Timpah ini, apakah ada kemajuan yang berarti untuk ketertarikan anggota?

Menurut saya iya, dari lembaga keuangan lain yang baru buka ada mendirikan kantor, berangsur-angsur nasabahnya ada. Kita mungkin bisa mengikuti cara tersebut untuk mendirikan kantor, walaupun tidak usah terlalu mewah pada tahap awal yang penting bangunan kita sendiri yang mewakili kita di sini.
Karena saat sekarang lokasi kantor kita berada agak di dalam (kampung) orang tidak terlalu melihat kegiatan kita, jika kita beralih ke jalan lintas (Palangka Raya- Buntok) kemungkinan ada orang melihat aktivitas kita sembari melewati jalan tersebut.

Harapan sebagai koordinatot TPK Timpah?

Kita berharap agar bisa mencapai target yang sudah ditetapkan, sebagai staf juga dapat mengelola diri sendiri dan dapat menjadi contoh yang baik. Target aset dan anggota per 31 Desember 2012 adalah Rp 7.989.155.350,- dan 881 orang.

Keterangan Foto: Ernesto di pintu depan kantor

Sumber Foto: Rokhmond Onasis

Sri Wulan: “Strategi, meningkatkan pengembangan dan kerjasama dengan lembaga mitra”

January 5, 2012 by  
Filed under Opini dan Berita

Memasuki tahun 2012 ini tentu banyak tantangan dan peluang yang di hadapi oleh CU Betang Asi. Sebagai Salah satu pilar dari kokohnya sebuah Credit Union, diperlukan kerja yang sungguh-sunggh dalam membangun kesadaran anggota, yaitu pilar pendidikan.

Penulis berkesempatan membincangi  Sri Wulan, A.Md sebagai manajer pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan (Diklat dan Litbang) CU Betang Asi. Pembicaraan dilakukan pada Awal Januari 2012 saat berada di Kantor pusat Palangka Raya. Berikut petikannya:

Sebagai manajer Diklat dan Litbang saat ini di CU Betang Asi strategi apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan pendidikan dan pelatihan di tahun 2012 ini?.

Strategi yang kita laksanakan adalah meningkatkan pengembangan dan kerjasama dengan lembaga mitra lainnya seperti di daerah Tangkiling, sebetulnya sudah siap untuk membuka tempat pelayanan mengingat di situ hampir 200 anggota yang dilayani. Kemaren mereka sudah menawarkan ada kontak di sana sebagai tempat pelayanan.

Selanjutnya untuk pengembangan, ke depan kita berfikir bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi di bidang bisnis yang berhubungan dengan pendapatan keluarga. Pemikiran saya kalau bisnis keluarga/ kelompok tidak berjalan dengan baik, otomatis itu berhubungan dengan kelancaran menabung, membayar pinjaman kalau usaha tidak dikembangkan dengan baik tidak mungkin kita berjalan seperti yang diharapkan.

Artinya, kalau kita mengharapkan lembaga CU ini menjadi abadi maka ke depannya harus kita lihat pada bidang pengembangan bisnis dan ekonominya. Di tempat-tempat tertentu kami di bagian Diklat cukup terbantu dengan lembaga mitra seperti Yayasan Tambuhak Sinta (YTS), CARE dan juga BOS Mawas yang membantu kami untuk lebih mendekatkan diri dengan kelompok-kelompok masyarakat yang belum terjangkau oleh bagian Diklat.

Jika bicara kelemahan yang belum teratasi di tahun 2011, apa yang akan dilakukan oleh bagian Diklat di tahun 2012 ini?

Kelemahan yang pertama, kalau pelaksanaan untuk bisnis itu sendiri kita kesulitan jika langsung melakukan pendampingan dikarenakan kita (manajemen) juga terbatas dan kita membutuhkan kerjasama dengan pihak lain sampai kegiatan (bisnis) itu bisa berjalan. Tapi juga lembaga mitra ini saling mendukung dan bekerja sama sehingga akhirnya tujuan mereka tercapai dan tujuan kita juga tercapai.

Dari terbatas  yang anda katakan, apakah dari segi jumlah orang atau ada hal lain perlu di atasi di tahun 2012?

Karena saat ini kan CU prioritasnya bukan pada bisnis, maksudnya bisnis real seperti memberikan penyuluhan, bagaimana berternak, berkebun. CU hanya mengelola keuangan, harapan ke depan akan ada pelatihan untuk menjadi dasar dari manajemen Diklat untuk memberikan pengarahan atau gambaran kepada anggota seperti apa dan bagaimana mereka melakukannya. Kalaupun  tidak bisa  dilakukan oleh bagian Diklat maka ada semacam program atau pelatihan dan kita melaksanakannya dengan pihak lain agar lebih terorganisir, hal itu terkait dengan pengembangan usaha masyarakat.

Dari sumber daya fasilitator saya kira relative, jika saya bilang kurang untuk daerah tertentu iya, seperti sekarang ini di daerah TPK Pujon, di sana sama sekali belum ada yang menjadi kader fasilitator. Kemudian dari manajemennya sendiri terbatas pada pelaksanaan tugas teknis di ruangan (kantor) saja, walaupun bisa melaksanakan pendas. Harapannya di tahun ini fasilitator dari manajemen bergandengan dengan aktivis, karena ada beberapa hal penjelasan teknis yang berhubungan dengan kredit yang penjelasannya kadang agak sedikit kurang pas, manajemen di gandengkan karena lebih tahu.

Tetapi manajemen juga tidak sepenuhnya bisa ikut di dalam pendidikan dasar karena keterbatasan berada di kantor atau di lapangan. Khusus untuk fasilitator ke depan ini akan ada dilaksanakan pelatihan atau pertemuan bagaimana menjelaskan tentang kredit, karena persoalan yang sering saya dengar ada perbedaan dalam penjelasan kredit oleh aktivis  dan manajemen. Untuk menyamakan pemahaman ini dapat berupa pertemuan antara bagian kredit dengan fasilitator.

Dengan kata lain ada pertemuan berkala yang membicarakan konteks kredit ini dalam penerapannya dan ketika kita memberikan materi di pendidikan dasar, sebagai manajer Diklat dan Litbang tentu di tahun 2012 ini banyak tantangan dan peluang yang akan dicapai. Secara pribadi maupun lembaga bagaimana anda memandang ini?

Secara pribadi kalau menghadapi tantangan pasti ada, tapi saya pikir ke depannya bagaimana kita mengatur yang sudah ada, mempertahankan yang sudah baik, memperbaiki yang sekiranya belum baik.

Kemudian, menghadapi perubahan-perubahan di luar harus kita dapat mengatasinya, juga kita berkerja sama dengan lembaga-lembaga mitra lainnya untuk melihat peluang-peluang, juga kerjasama-kerjasama yang sudah menawarkan pelatihan untuk meningkatkan lembaga ini di luar BKCUK, seperti dari Semarang dan Yogyakarta  .

Keterangan Foto: Sri Wulan saat di ruang kerja.

Jadikan Uang Bekerja Untuk Kita

December 2, 2011 by  
Filed under Opini dan Berita

Mengelola keuangan keluarga gampang-gampang susah. Gampang kalau pendapatan kita tak terbatas dan susah kalau untuk hidup sehari-hari saja rasanya kurang. Lepas dari gampang atau susah, keuangan keluarga harus dikelola dengan benar, kalau tidak mau terjebak dalam pelbagai kesulitan. Terlebih di masa-masa sulit seperti ini.

Sekitar empat tahun lalu, ketika sedang berjalan-jalan di sebuah mal di Jakarta, asyik melihat-lihat toko-toko yang ada, saya seperti tersadar pada sesuatu. Mal – di mana pun itu – tak lain tak bukan seperti sebuah pasar. Tempat bertemunya penjual dan pembeli! Seketika saya sadar, ke mana pun saya pergi, orang-orang di sekitar kita sebetulnya penjual, yang sedang berusaha memindahkan uang dari dompet kita ke dompet mereka.

Masalahnya, kita tidak sadar bahwa dalam sehari kita sering melakukan transaksi pemindahan uang dari dompet kita ke dompet orang lain dengan sangat cepat. Betul, beberapa dari transaksi itu memang betul kita butuhkan. Seperti membeli sembako, membayar uang parkir, membayar uang sekolah, sampai membayar listrik dan telepon. Akan tetapi yang menarik, sering beberapa transaksi yang kita lakukan tidak selalu untuk mendapatkan barang yang kita butuhkan. Misalnya, membeli ponsel terbaru yang kecanggihannya terlalu maju untuk zamannya sehingga banyak fitur-fitur di dalamnya tidak berguna padahal itu membikin ponsel bertambah mahal.

Padahal, dalam pembelanjaan kita harus membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebenarnya mudah mengetahui perbedaan antara keinginan dan kebutuhan. Kebutuhan itu sesuatu yang harus dipenuhi, sedangkan keinginan tidak; Kebutuhan tidak selalu Anda inginkan, sementara keinginan tidak selalu Anda butuhkan; Kebutuhan umumnya ada batasnya, sementara keinginan umumnya tidak ada batasnya. Namun, justru keinginanlah yang sering membuat gaji seseorang ludes.

Hemat tapi jangan pelit

Mungkin Anda kemudian bertanya: bagian mana dari pengeluaran kita yang sebetulnya merupakan kebutuhan, dan bagian mana dari pengeluaran kita yang merupakan keinginan?

Kalau Anda coba merinci pos-pos pengeluaran setiap bulannya, saya berani mengatakan bahwa setiap orang umumnya memiliki pos pengeluaran yang cukup banyak: sekitar 20 – 30 pos pengeluaran. Yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan?

Saran saya, cobalah kelompokkan semua pos pengeluaran Anda menjadi empat bagian: (1) pos pengeluaran yang berkaitan dengan biaya hidup; (2) pos pengeluaran yang berkaitan dengan pembayaran cicilan utang; (3) pos pengeluaran yang berkaitan dengan premi asuransi; (4) pos-pengeluaran yang berkaitan dengan setoran tabungan.

Dari keempat kelompok pengeluaran itulah Anda harus melakukan skala prioritas. Saran saya, prioritaskan pembayaran cicilan utang terlebih dahulu. Kemudian disusul setoran tabungan rutin. Lalu ketiga adalah premi asuransi. Terakhir biaya hidup. Ini adalah pengetahuan dasar tentang pembelanjaan yang harus dimiliki sebelum Anda mempelajari hal lain tentang pembelanjaan.

Selain itu, hal lain yang harus diketahui juga adalah dengan mencoba mengetahui bagaimana cara bijak dalam mengeluarkan uang untuk setiap pos pengeluaran. Sebagai contoh, salah satu pos pengeluaran Anda yaitu membayar biaya telepon. Adalah bijak, misalnya, mengurangi frekuensi bicara Anda lewat telepon ke hal-hal yang memang lebih diperlukan, mengurangi frekuensi pemakaian internet, sampai pada mengatur pemakaian telepon oleh anak-anak Anda.

Itu baru telepon. Pos lain adalah listrik. Coba pelajari bagaimana Anda bisa lebih hemat dalam membayar biaya listrik. Apakah perlu menggunakan bola lampu yang lebih hemat, apakah dengan mengurangi pemakaian listrik secara bersamaan di malam hari? Hal-hal semacam inilah yang seyogianya dikuasai sehingga Anda tahu bagaimana mengeluarkan uang secara bijak untuk setiap pos tersebut.

Cuma mesti diingat, bijak yang berkorelasi dengan hemat ini jangan sampai membuat Anda pelit. Harus dibedakan antara hemat yang pelit, dengan hemat yang kreatif. Hemat pelit misalnya hemat yang dilakukan dengan cara memaksa, enggak masuk akal. Sebagai contoh, seseorang tinggal sekitar 10 km dari rumah ke kantornya. Hanya karena ingin hemat, dia berjalan kaki. Padahal dia punya uang untuk membayar ongkos transportasi umum. Cuma mungkin bukan alat transportasi pribadi seperti taksi, tapi bus atau mikrolet, misalnya. Jadi, pengertian hemat harus diluruskan: hemat bukan berarti pelit, tapi kreatif.

Selain berhemat, berhati-hatilah terhadap tawaran diskon. Banyak toko yang berteriak memberikan diskon hingga 50%, 70%, bahkan 90%. Ingat, kalau sebuah toko melakukan obral diskon hingga katakan 70%, ini berarti dari 10 barang yang mereka diskon, mungkin hanya satu dua jenis barang yang diskonnya 70%. Yang lainnya bervariasai bahkan mungkin cuma 10%.

Berhubung Anda sudah terlanjur berada di dalam toko dan tidak enak kalau keluar tanpa menenteng barang sama sekali, maka sering pembelanjaan itu tetap dilakukan juga walaupun dengan diskon yang cuma 10%. Parahnya lagi, barang itu bukan barang yang Anda butuhkan. Kedengarannya Anda banget, ya?

Pesan saya cuma satu: belanja adalah sesuatu yang mungkin akan selalu Anda lakukan. Namun, apa yang Anda belanjakan itulah yang akan menentukan apakah gaji Anda akan habis begitu saja atau tidak.

Rugi investasi, wajar!

Memang ada orang yang gajinya habis hanya untuk belanja?

Ada, bahkan banyak yang belanja di atas gaji yang diterima. Boleh percaya boleh tidak, dari 10 orang yang saya tanya berapa persen gaji yang digunakan untuk berbelanja, 8 dari 10 orang mengatakan: 110%. Artinya, dari sejumlah orang berpenghasilan sebesar – katakan Rp 1 juta – 80%-nya membelanjakan Rp 1,1 juta.

Apa ini artinya? Tabungan Anda akan berkurang! Pertanyaannya sekarang, apa yang harus Anda lakukan? Ya, menabung. Apalagi? Lalu tabungan itu perlu “diputar” agar bisa memberi hasil yang lebih besar. Apakah itu ke reksadana, beli emas, atau masuk ke deposito. Ini disebut tindakan berinvestasi.
Menariknya, tidak semua orang paham bila diminta bicara tentang investasi. Banyak orang hanya mengerti bahwa investasi hanya terbatas pada produk-produk perbankan seperti deposito. Kalaupun tahu alternatif investasi, banyak yang takut mencoba. Kalau Anda takut mencoba, ketika bunga deposito tidak setinggi sekarang, bisa-bisa Anda pusing dalam mencari cara bagaimana mengembangkan uang Anda.

Omong-omong, seberapa besar Anda harus menyisihkan uang dari penghasilan Anda untuk diinvestasikan? Kadang-kadang Anda defisit kok mau menyisihkan uang? Oke, kalau selama ini selalu menunggu uang bersisa terlebih dahulu sebelum Anda menabung, kenapa sekarang tidak dibalik saja? Dengan demikian, enggak ada lagi alasan untuk tidak menabung.

Bagi yang takut, hal itu sebenarnya wajar. Yang mereka takutkan biasanya soal kerugian. Akan tetapi, itulah ongkos belajar. Dalam berinvestasi, Anda tidak selalu untung. Kadang Anda mengalami kerugian. Bisa saya ibaratkan, belajar berinvestasi itu seperti belajar berenang.

Maksud saya, ketika belajar berenang, Anda tidak cukup hanya belajar dari teori. Anda tidak bisa membeli buku tentang belajar berenang, membacanya semalaman, membayang-bayangkan, dan ketika masuk ke dalam air, Anda bisa langsung berenang. Tidak bisa seperti itu. Belajar berenang harus dilakukan sambil langsung mempraktikkannya di dalam air. Yang menarik, untuk bisa mahir berenang, Anda akan melalui proses tenggelam berkali-kali. Selain itu, mata Anda akan sering kemasukan air sehingga memerah dan pedih.

Tenggelam serta mata merah dan pedih itulah proses yang harus Anda lalui. Cuma, cobalah untuk meminimalkan semua risiko itu. Ketika belajar berenang, jangan langsung masuk ke kolam yang dalam, pilihlah kolam dangkal terlebih dahulu. Selain itu, pakai juga pelampung. Jangan lupa memakai kacamata renang.

Begitulah kalau ingin masuk ke sebuah produk investasi yang belum pernah Anda masuki. Cobalah untuk tidak berinvestasi dalam jumlah banyak terlebih dahulu. Sedikit saja dulu. Jadi, ketika rugi, kerugian itu bisa ditekan. Selain itu, cobalah pelajari dulu produk itu sebelum Anda masuk, walaupun jangan lupa bahwa beberapa produk ada yang memang harus dimasuki dulu sebelum bisa betul-betul dipahami.

Pahami pula, bila terus-menerus takut berinvestasi, Anda membiarkan diri pada kerepotan mencari uang terus-menerus. Dengan berinvestasi, tidak hanya Anda yang bekerja cari uang, tapi uang Anda juga melakukan hal yang sama untuk Anda. Jadi, kalau dulu sendiri, sekarang Anda dan uang Anda sama-sama bekerja untuk mendapatkan cash flow. Kata orang, bekerja secara tim lebih baik daripada bekerja sendiri. Nah, Anda dan uang Anda adalah tim, dan Andalah yang menjadi pemimpin tim itu.

Jadi kepala, jangan ekor

Jika investasi kurang Anda anggap menantang, cobalah berwirausaha. Ada fenomena menarik selama lima tahun belakangan ini yang saya tangkap soal wirausaha ini. Yaitu bahwa orang mulai memberikan penghargaan yang lebih tinggi pada kewirausahaan.

Dulu, ketika saya masih sekolah, banyak orang yang memandang wirausaha sebagai sebuah pekerjaan alternatif atau pekerjaan yang dilakukan karena terpaksa, seperti untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Atau pekerjaan yang harus dilakukan karena seseorang belum mendapat kabar baik dari perusahaan lain yang mau menerimanya bekerja sebagai karyawan. Malah banyak orangtua yang jauh lebih senang mendapatkan menantu seorang karyawan bergaji terbatas daripada menantu yang bekerja sebagai wirausahawan tetapi memiliki penghasilan yang dianggap tidak tetap sehingga dianggap lebih berisiko.

Namun, itu dulu.

Sekarang lain cerita. Banyak orang sudah mulai memuji mereka yang melakukan wirausaha. Mereka dianggap lebih tangguh karena berani mengambil risiko dan dianggap bisa belajar banyak tentang dunia usaha. Kewirausahaan pun tidak lagi menjadi mata kuliah “basa-basi” pada Fakultas Ekonomi, tetapi sudah merembet ke kursus-kursus, seminar-seminar, bahkan ada yang sampai membuat universitasnya segala.

Lalu, so what getu loh!

Mau tidak mau, membuka usaha sendiri pasti akan Anda lakukan juga, cepat atau lambat. Motivasinya macam-macam. Bisa karena butuh penghasilan tambahan, bisa karena Anda merasa tertantang, bisa juga karena Anda merasa, tak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menjalankan usaha itu kecuali Anda.

Apa pun motivasi Anda, pertama-tama pelajari dulu bidang usaha apa yang ingin Anda terjuni. Untuk mendapatkan ilham, coba sering-sering membuka majalah atau tabloid ekonomi. Ada banyak sekali tulisan yang membahas tentang bidang-bidang usaha yang bisa Anda jalani, mulai dari usaha makanan dan minuman, sembako, sampai peternakan, perikanan, hingga agrobisnis.

Berkaitan dengan bidang usaha, saya sering ditanya, “Pak Safir, menurut Anda, bidang usaha apa sih yang bagus dan menguntungkan sekarang ini?”
Saya selalu menjawab, “Bidang usaha apa yang Anda pilih, tidak selalu menjamin bahwa Anda pasti akan berhasil. Ini karena keberhasilan sebuah usaha sering tergantung pada banyak faktor, dan tidak selalu pada pemilihan bidang usahanya.”
Bukan satu dua kali saya mendengar orang mengatakan,

“Kalau mau buka usaha, buka usaha bidang makanan aja. Untungnya gede lo, bisa 100%. Dan lagi, semua orang kan butuh makan, jadi pasti usaha makanan akan laku.” Terhadap ucapan seperti ini, saya cuma bisa manggut-manggut, sambil mengatakan,

“Betul, usaha makanan untungnya memang bisa 100%. Dengan catatan, kalau ada yang beli.” Yang jelas, usaha makanan akan tetap terus ada.
Ada dua tipe orang yang membuka usaha. Pertama, orang yang menunggu datangnya kebutuhan. Sebagai contoh, di Jln. Cihampelas
Bandung dulu banyak orang yang tertarik membuka usaha jual beli jins karena melihat kebutuhannya sudah ada. Tipe seperti ini biasanya tidak tertarik membuka usaha jual jins kalau dia tidak melihat apakah sudah ada toko lain yang menjual jins atau belum. Inilah wirausahawan kategori me too product, hanya saja dengan nama yang sedikit berbeda dan harga yang biasanya lebih murah.

Tipe kedua, orang yang membuka usaha dengan cara menciptakan kebutuhan karena dia melihat kebutuhannya belum ada, atau kalau sudah ada tetapi belum dirasa butuh. Misalnya, kesuksesan salah satu merek air mineral pertama di Indonesia. Padahal, dulu air mineral itu dijual lebih mahal daripada bensin. Berhubung si pengusaha air minum itu mau menciptakan kebutuhannya (melalui iklan maupun isu-isu di media massa), maka air mineral itu laris manis dan akhirnya dibuntuti oleh para pengekor.

Sayangnya, kebanyakan orang kita masih berada pada tipe karakter yang pertama. Saran saya, kalau mau jadi wirausahawan, jadilah wirausaha yang berani menciptakan kebutuhan walaupun Anda melihat kebutuhannya belum ada, atau kalaupun kebutuhannya ada tetapi orang belum merasakannya. Bangkitkanlah kebutuhannya. Bila mampu menjadi tipe wirausaha seperti ini, maka – boleh dibilang – Anda sudah menjadi wirausahawan sejati!

Selamat berinvestasi, selamat berwirausaha, selamat mencapai kesehatan keuangan yang prima. (Safir Senduk, perencana keuangan dari Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk dan Rekan)

author : Agus Surono
Wednesday, 08 December 2010 – 06:43 pm

sumber gambar: http://moneycactus.com

Kardinel : TP. Betang Batarung harus menjadi tulang punggung gerakan CU di Kabupaten Gunung Mas.

November 10, 2011 by  
Filed under Opini dan Berita

Kardinel, pria berkulit putih dan berkumi ini adalah aktivis yang tergolong aktiv sejak awal-awal berdirinya CU Betang Asi di Kuala Kurun.  Pria kelahiran Petak Bahandang 48 tahun silam ini memiliki pikiran yang visioner, bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup departemen agama dan sekarang ini dipercayakan duduk menjabat sebagai Kepala Departemen Agama di Kabupaten Gunung Mas.

Disamping kesibukan beliua sebagai abdi negara dan sebagai pejabat dilingkungan pemerintahan, Kardinel H. Tiki nama lengkap beliua yang masuk menjadi anggota CU Betang Asi pada tanggal 10 Maret 2006 masih sering menyempatkan diri untuk terlibat aktiv dalam segala kegiatan yang dilaksanakan CU Betang Asi.  Pikiran-pikiran visioner beliu sedikit banyak telah membantu aktivis dan manajemen di TP. Betang Batarung dalam melakukan pengembangan gerakan ekonomi rakyat di wilayah kabupaten Gunung Mas.

“TP. Betang Batarung harus menjadi tulang punggung gerakan CU di Kabupaten Gunung Mas” kata Kardinel.  Melihat posisi TP. Betang Batarung yang berada di Ibukota Kabupaten Gunung Mas sangatlah diharuskan TP. Betang Batarung menjadi pusat gerakan ekonomi rakyat di Kabupaten Gunung Mas, hal ini dapat dilihat dari perkembangan TP. Betang Batarung sekarang ini serta potensi dan peluang kedepan bahwa masih banyak dan luas wilayah yang bisa dijadikan tempat pengembangan gerakan CU.

Ethos H. Lidin : Tjilik Riwut Baru Kalteng.

October 24, 2011 by  
Filed under Opini dan Berita

Masyarakat Kalimantan Tengah pasti semua mengenal siapa itu (almarhum) Tjilik Riwut. Putra Dayak Ngaju ini adalah pendiri sekaligus Gubernur pertama Provinsi Kalteng. Moralitas, kewibawaan dan kepemimpinannya selalu dikenang rakyat Kalteng hingga kini. Ia mampu memberi inspirasi, motivasi masyarakat Dayak di Kalteng khususnya untuk selalu melangkah maju, mengembangkan potensi manusia dan alam di sana.

Salah satu pesan Tjilik Riwut yang dikenal dalam bahasa Dayak Ngaju adalah “ela sampai tempun petak manana sare, tempun kajang bisa puat”. Artinya kira-kira “jangan sampai punya kampung halaman tapi tinggal dipinggiran ; punya tempat berteduh dari hujan, tapi kebasahan”.

Pesan Tjilik Riwut itulah yang membakar semangat salah seorang muda Kalteng bernama Ethos H. Lidin General Manager CU Betang Asi ini menyadari betul bahwa masyarakat adat kini mengalami apa yang yang dipesankan oleh Tjilik Riwut. “Itulah kenyataan yang dihadapi kita sebagai pewaris tanah Borneo ini. Apa yang ditakutkan Pak Tjilik Riwut sudah menyadi kenyataan. Banyak kekayaan kita (tanah, kekayaan alam, emas, batu bara) tapi orang semua yang punya (HPH, PBS, perusahaan tambang),” urai Ethos kepada KR.

Nah, melalui Credit Union Betang Asi, Ethos mengajak masyarakat Dayak di Kalteng khususnya dan masyarakat etnis lain umumnya agar menjadi tuan rumah di tanah tumpah darah sendiri. “Pintu masuk utamnya adalah dengan menjadi anggota Credit Union,” jelasa ayah dari Rian ini.

pria kelahiran Tapin Bini, 16 September 1974 ini menganal CU sejak tahun 2000. Kala itu ia aktif di Lembaga Dayak Panarung. Lembaga itu mendirikan CU Panarung namun tidak berhasil. Namun ia melihat di Kalbar. “Pucuk dicinta ulampun tiba, ada kesempatan ke Pontianak dalam rangka mengikuti Pelatihan HAM untuk Masyarakat Adat yang diselenggarakan oleh Institut Dayakologi tahun 2002, saya sempatkan mengunjungi CU Pancur Kasih dan begitu hebatnya pada waktu itu,” terang alumni S1 Fakultas Ekonomi Universitas Palangka Raya ini.

Tahun 2002 LDP mengundang Matheus Pilin (SegeraK PK) untuk melakukan assessment untuk mendirikan CU di Palangka Raya. Sebagai aktivis LDP ia ikut perencanaan strategis pendiriaan CU Betang Asi yang difasilitasi A.R. Mecer, Munaldus, dan Pilin. “Saya semacam dipaksa Pak Mecer untuk menjadi staf CU Betang Asi. Kala itu tidak ada satu pun yang mau. Saya ditunjuk Pak Mecer dan harus magang ke CU-CU di Pontianak sementera istri hamil anak kami kedua, waktu itu terasa berat benar. Namun dipercaya Pak Mecer adalah beban tanggung jawab. saya buktikan bahwa sa bisa,” kenangnya.

Ketika bergabung ke CU Betang Asi ia sebagai staf kredit dan pemasaran. Lalu diangkat menjadi Kabag. Keuangan dan Akuntansi, kemudian menjadi Kabag. Pendidikan dan Pelatihan. Menurutnya, CU adalah suatu yang baru di Palangka Raya. Sangat berat mengenalkannya kepada seluruh lapisan masyarakat. “Itulah tantangan, yakni CU membuat kita mampu melakukan sesuatu yang dianggap tidak mungkin pada saat itu namun kita mampu. Menjadikan diri lebih baik dari orang lain itu adalah moral dan manfaat dari CU,” tulisnya kepada KR.

Ethos berharap CU adalah dari, oleh, dan untuk anggota maka CU selayaknya menjadi sebuah kekuatan yang sangat luar biasa dalam pemberdayaan ekonomi anggota. Dikuatkan dengan pendidikan dan pelatihan bagi anggota sehingga anggota CU menjadi insa yang kuat dan tahan uji dalam menghadapi kondisi apapun.

Ethos tidak mau menjadi menara gading di CU. Ia sadar bahwa CU adalah alat pemberdayaan. Karena itu ia juga aktif disejumlah lembaga. Yakni ketua sebagai Dewan Daerah Walhi Kalteng, Ketua Divisi Keanggotaan Dekopin Kalteng, Ketua Komisi ekonomi, Koperasi dan UKM KNPI Kalteng, dan Pengurus HIPMI Kalteng.

ditangan Ethos CU Betang Asi terus menanjak. Sejak berdiri 26 Maret 2003 hingga 31 Juli 2011 sudah mempunyai 22.382 orang dengan total aset Rp. 303.224.689.791. Kini CU Besi mempunyai 93 staf, yang tersebar di 15 kantor pelayanan (1 kantor pusat, 6 kantor TP, 8 kantor TPK).

 

EDI V. PETEBANG

SUMBER : KALIMANTAN REVIEW, OKTOBER 2011

Menunggu atau Mencipta?

October 11, 2011 by  
Filed under Opini dan Berita

Sekarang wirausaha sedang digalakkan. Kewirausahaan pun tidak lagi menjadi mata kuliah “basa-basi” pada Fakultas Ekonomi, tetapi sudah merembet ke kursus-kursus, seminar-seminar, bahkan ada yang sampai membuat universitasnya segala.

Cepat atau lambat Anda akan melakukan wirausaha. Motivasinya macam-macam. Bisa karena butuh penghasilan tambahan, bisa karena Anda merasa tertantang, bisa juga karena Anda merasa, tak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menjalankan usaha itu kecuali Anda.

Apa pun motivasi Anda, pertama-tama pelajari dulu bidang usaha apa yang ingin Anda terjuni. Untuk mendapatkan ilham, coba sering-sering membuka majalah atau tabloid ekonomi. Ada banyak sekali tulisan yang membahas tentang bidang-bidang usaha yang bisa Anda jalani, mulai dari usaha makanan dan minuman, sembako, sampai peternakan, perikanan, hingga agrobisnis.

Usaha apa yang bagus dan menguntungkan? Safir Senduk dalam Intisari Financial Planning memberi jawab, “Bidang usaha apa yang Anda pilih, tidak selalu menjamin bahwa Anda pasti akan berhasil. Ini karena keberhasilan sebuah usaha sering tergantung pada banyak faktor, dan tidak selalu pada pemilihan bidang usahanya.”

Ada dua tipe orang yang membuka usaha. Pertama, orang yang menunggu datangnya kebutuhan. Sebagai contoh, di Jln. Cihampelas Bandung dulu banyak orang yang tertarik membuka usaha jual beli jins karena melihat kebutuhannya sudah ada. Tipe seperti ini biasanya tidak tertarik membuka usaha jual jins kalau dia tidak melihat apakah sudah ada toko lain yang menjual jins atau belum. Inilah wirausahawan kategori me too product, hanya saja dengan nama yang sedikit berbeda dan harga yang biasanya lebih murah.

Tipe kedua, orang yang membuka usaha dengan cara menciptakan kebutuhan karena dia melihat kebutuhannya belum ada, atau kalau sudah ada tetapi belum dirasa butuh. Misalnya, kesuksesan salah satu merek air mineral pertama di Indonesia. Padahal, dulu air mineral itu dijual lebih mahal daripada bensin. Berhubung si pengusaha air minum itu mau menciptakan kebutuhannya (melalui iklan maupun isu-isu di media massa), maka air mineral itu laris manis dan akhirnya dibuntuti oleh para pengekor.

Sayangnya, kebanyakan orang kita masih berada pada tipe karakter yang pertama. Saran saya, kalau mau jadi wirausahawan, jadilah wirausaha yang berani menciptakan kebutuhan walaupun Anda melihat kebutuhannya belum ada, atau kalaupun kebutuhannya ada tetapi orang belum merasakannya. Bangkitkanlah kebutuhannya. Bila mampu menjadi tipe wirausaha seperti ini, maka – boleh dibilang – Anda sudah menjadi wirausahawan sejati!

author : Agus Surono
Saturday, 23 April 2011 – 02:27 pm

sumber berita: http://intisari-online.com

sumber foto: http://bisnis-jabar.com

Credit Union: Sarana Pembebasan Rakyat Jelata?

September 5, 2011 by  
Filed under Opini dan Berita

Dalam paradigma lama CU dimengerti sebagai “sekadar alat simpan pinjam uang”. Sedangkan dalam paradigma baru, CU dihayati sebagai “sarana pembebasan rakyat jelata dari segala bentuk pemiskinan dan pembodohan”.

Bagi penulis, memahami CU dalam paradigma baru, baru menjadi keyakinan penuh pada awal tahun 2000, setelah penulis berjumpa dan menyaksikan kembali dan akhirnya menjadi anggota CU yang dirintis dan dikembangkan oleh A.R. Mecer dan kawan-kawan di Kalimantan Barat. Sebelumnya, pada awal tahun 1980-an ketika menjadi teman sejawat dalam karya sosial tokoh-tokoh sosial gereja seperti Pater Corulus Albrecht Karim Arbie, SJ dan Pater A. Kuylaars Kadarman, SJ serta Pater John dijkstra, SJ, CU masih dianggap oleh penulis hanya seperti koperasi simpan pinjam, tak lebih dari usaha bersama (UB). Tidak ada yang salah dengan system credit union yang pada awal tahun 1970-an disemai oleh CUCO, tetapi butuh direvitalisasi, butuh direformasi dan dikontekstualkan pada situasi sosial ekonomi budaya rakyat jelata, khususnya suku-suku Dayak dan masyarakat adat.

Bila mempelajari sejarah CU dari sejak kelahirannya pada tahun 1850-an di Jerman sampai perkembangan kedewasaannya di Kanada, maka kita melihat bahwa CU menjadi alat pembebasan sosial ekonomi budaya rakyat jelata. Bahwa CU mengikuti prinsip koperasi ala Rochdale, Inggris, satu orang satu suara tanpa melihat besar kecilnya saham, itu sendiri adalah gerakan pembebasan dari struktur kapitalisme yang beralaskan hak kepemilka pribadi yang menghalalkan jiwa serakah. Bahwa cu didesain untuk mengangkat harkat kelas masyarakat miskin, baik di perkotaan dengan usaha kerajinan dan dagang kecil (Hermann Schulze-Delitzsch dan Luigi Luzzati) maupun di pedesaan dengan pertanian sedang sampai gurem (Friedrich Wilhelm Raiffeisen dan Leone Wollemborg), itu jelas untuk usaha gerakan pembebasan dari pemiskinan. Bahwa CU di Kanada di tekankan sebagai kumpulan orang daripada sekadar kumpulan uang oleh Alphonse Derjardins dan pengikutnya, itu pertanda CU adalah solusi sosial populis.

Oleh A.R. Mecer dan kawan-kawannya, pada tahun 2006 CU dengan paradigma pembebasan rakyat jelata itu dibakukan sebagai “CU filosofi petani”.

Tiga bulan, dua belas tahun lalu, sebelum pastor Albrecht ditembak mati di Timor Timur oleh kaum milisi, saya masih berkomunikasi intens dengan beliau. Sambil lalu beliau pernah bertanya, mengapa saya kurang tertarik pada CU, kurang progresif sebagai gerakan sosialkah? Dengan amat sopan saya bila, “bukan kurang tertarik, tetapi belum cukup mempelajarinya, saya belum tahu apa yang masih dapat saya sumbangkan”.

Dari A.R. Mecer dan kawan-kawan di Kalimantan Barat, saya telah dibuat tahu apa yang sudah dapat mereka sumbangkan kepada CU. Sayang pada puncak pencapaian kesadaran CU filosofi petani, justru sang tokoh pembaru dengan Badan Koordinasi CU Kalimantan (BKCU-K) yang memanyungi 40 cu di nusantara di tinggalkan oleh sebagian kecil CU kawan-kawan di Kalimantan Barat.

Sebuah kemunduran terjadi: oleh sejumput elit gerakan CU, CU berparadigma “gerakan pembebasan rakyat jelata Dayak” telah ditetapkan pada ancaman menjadi “CU anthek perusahaan asuransi”. Syukur BKCU-K tetap teguh mengemban kepercayaan nusantara, hingga CU sebagai gerakan pembebasan rakyat jelata tetap berlangsung. Semoga kawan-kawan yang meninggalkan kandang lekas sadar akan semboyan “right or wrong is my credit union- sarana pembebasan rakyat jelata”. Koreksi harus dilakukan kedua belah pihak. Kita semua salah, untuk berani mawas diri dan koreksi maju bersama. CU bukan urusan sentiment pribadi, demokrasi membutuhkan kedewasaan berpikir, bersikap dan bertindak. Kata-kata mendiang Albercht mengiang kembali di telinga penulis “tolong Wahono, sukalah meluangkan waktu kapan-kapan longgar memperhatikan CU. Jangan lupa itu gerakan pembebasan rakyat juga (maksudnya tidak hanya bukumu saja).

Sumber: Jejak, 14 Agustus 2011. Halaman 16

TPK Tumbang Sangai Terbakar

August 11, 2011 by  
Filed under Opini dan Berita

Kantor Tempat pelayanan khusus (TPK) Cu Betang Asi di Tumbang Sangai, kecamatan Antang Kalang, kabupaten Kotawaringin Timur, hangus terkena musibah kebakaran.

TPK yang baru diresmikan pada tanggal 18 Mei 2009 lalu terbakar akibat arus pendek listrik. “Kejadian terjadi pada pukul 11 siang, kata Ethos H.L, via telpon kepada penulis,”. Informasi yang berhasil dikumpulkan oleh penulis, kerugian akibat musibah ini sekitar 1 M. Walaupun demikian, nilai bangunan sekitar 800 juta telah diasuransikan melewati Jasindo.

Menurut Ethos yang berada di lokasi kejadian, pelayanan tetap dilakukan pada hari Rabu (10/8) dengan menyewa salah satu ruangan kelas di SMP PGRI Tumbang Sangai sebagai kantor sementara. “Anggota tetap kami layani dengan fasilitas yang masih bisa kami gunakan,”  jelas Ethos.

Musibah ini terjadi pada Selasa (9/8). Seluruh bangunan kantor yang berlantai 2 habis terbakar. Sejumlah uang dan beberapa barang elektronik sempat di selamatkan oleh manajemen yang bekerja saat kejadian.

Menurut Amu Lanu, selaku ketua pengurus CU Betang Asi saat menghubungi penulis, Manajemen akan mencari kantor baru untuk di sewa selama beberapa waktu. “Pelayanan kepada anggota tetap kami perhatikan,” jelas Amu. Dari Sistem pelayanan dan pengamanan menurut Ambu Naptamis selaku sekretaris pengurus CU Betang Asi sudah berjalan jauh lebih baik maka untuk anggota di wilayah TPK Tumbang Sangai tetap terlayani.

Terkait bangunan yang telah terbakar Ethos menjelaskan akan segera dibangun kembali. ““Kantor baru diperkirakan akan kita bangun dilokasi kebakaran sekitar bulan April 2012,” jelas Ethos kepada penulis”.

Sri Wulan selaku Kabag Diklat dan dipercayakan dari kantor pusat untuk memberikan informasi terkait musibah kebakaran menjelaskan untuk 574 anggota di Tumbang Sangai akan tetap dilayani. “Per juli 2011 lalu asset TPK ini sudah mencapai 6,1 M,” jelas Wulan kepada penulis.

Menurut Leani selaku Deputy GM yang berada di Palangka Raya akan memberikan bahan-bahan administrasi untuk pelayanan kepada anggota. “Pagi (10/8) ini akan di segera dikirim formulir untuk anggota, pinjamanan dan bahan-bahan lainnya melewati taksi tujuan Tumbang Sangai yang ada di Palangka Raya,” kata Leani kepada penulis.

Dari informasi yang dikumpulkan penulis, kejadian berawal dari manajemen yang bekerja di lantai-1 terkejut ketika mendengar dari tetangga kantor yang melihat api sudah mulai membesar dari lantai-2. Selanjutnya secara swadaya dibantu oleh tetangga kantor untuk mengeluarkan barang-barang yang dapat di selamatkan dari kobaran api.

Di akhir pembicaraan Ethos menyampaikan, para anggota yang berada di wilayah TPK Tumbang Sangai tetap dilayani secara maksimal.

Penulis: Rokhmond Onasis

Sumber foto: Yohanes Changking

Kalteng Dijajah Investor

August 3, 2011 by  
Filed under Opini dan Berita

Sikap kritis terhadap keberadaan para investor di Kalteng dilontarkan oleh Kusni Sulang seorang tokoh masyarakat adat di Kalteng.  Putra Kalteng yang pernah lama menetap di Prancis ini menyebutkan wilayah Kalteng sekarang tengah berada di bawah koloni atau jajahan para investor perkebunan dan pertambangan.

“Mestinya lembaga masyarakat adat bisa menjadi lembaga yang independen untuk mengontrol masyarakat.  Ini menjadi kendaaan politik, masyarakat adat sudah menjadi tidak independen.  Dikatakan tidak independen karena saat ini masyarakat adat sudah termarginalisasi oleh investor, masyarakat adat bisa dengan mudahnya menjual tanah kepada perusahaan tambang dan perkebunan, padahal tanah adalah tempat hidup masyarakat adat dan tidak dapat dipisahkan,” tegasnya saat dialog public ‘Sinkronisasi Hukum Adat dan Hukum Negara” AMAN Kalteng di Aula Soverdi Jalan Tjilik Riwut km 5,5 Sabtu (30/7) lalu.

Dia menyebutkan, saat ini Kalteng menjadi daerah koloni jajahan para investor, lanjutnya, Kalteng hanya sebagai penyedia bahan mentah, banyak perusahan sawit di Kalteng, tapi harga minyak, sayur masih tinggi, begitu juga dengan pertambangan batubara, tetapi masih banyak jalan-jalan yang rusak, “Artinya para investor tidak menyejahterakan masyarakat Kalteng,” ungkapnya.

Sebagai tokoh masyarakat adat AMAN Kalteng Kusni Sulang mengajak masyarakat Kalteng untuk melawan, jika hak-hak masyarakat adat sudah direbut. “Masyarakat adat menyangkut seluruh bidang kehidupan seperti, tanah, hutan, sungai bukan hanya sekedar hukum,” ujarnya.

Senada itu, salah satu tokoh Kalteng Sabran Ahmad menjelaskan hukum adat sudah ada sejak belum adany keperintahan RI.  Masyarakat adat saat ini, diatur oleh pemerintah dan ditata oleh agama.  Adat dan hukum adat sangat sedikit perbedaannya.  Adat merupakan salah satu sikap, etika, dan norma.  Sehingga apabila dilanggar sanksinya adalah cacat moral.

Sedangkan hukum adat adalah sebuah peraturan yang menunjukan identitas masyarakat adat yang memiliki cirri khas.

“Lingkungan alam juga mencerminkan identitas masyarakat adat, busana daerah dan obat-obatan tradisional merupakan cirri khas masyarakat adat.  Sedangkan hukum adat sebagai identitas, yaitu dengan pendekatan sejarah.  Namun, hukum adat masih belum banyak disinkronisasi dengan hukum nasional,” ucapnya.

Hukum selalu berbicara bukti, aturan itu selalu memakai bukti.  Sementara aparat penegak hukum tidak pernah diberikan sanksi.  Seharusnya disinilah peran dari hukum adat yang akan melindungi masyarakat adat, apabila terjadi pelanggaran hukum.  Ketika wilayah komunitas wilahay adat dilanggar, disinilah disinkronkan antara hukum adat dan hukum nasional.

“Untuk terjadi kesetaraan antara hukum adat dan hukum nasional, harus ada rasa nyaman.  Tidak ada salah satu dari hukum adat dan hukum nasional yang lebih baik, tetapi semua sama.  Sehingga terjadi sinkronisasi di antara keduannya,” kata pengamat hukum dan akademisi Rahmadiansyah Bagan yang juga salah seorang pembicara pada dialog publik “Sinkronisasi Hukum Adat dan Hukum Negara.”

Masyarakat adat, lanjutnya harus bisa menuntut apa saja yang menjadi hak-haknya.  Masuknya investor seperti, perkebunan dan pertambangan akan menyebabkan identitas masyarakat adat berubah dikarenakan arus reformasi.

“Mari perkuat diri kita menjadi sebuah sub suku Indonesia, menjadi suku Kalteng yang nantinya akan bicara mengenai hukum nasional dengan memperkuat pranata social kita, hukum kita, dan lembaga adat kita.  Dan memberikan pemikiran-pemikiran kita, bahwa orang dayak bisa menyelesaikan hukum sendiri, dan terjadi sinkronisasi dan harmonisasi dengan hukum nasional.  Dengan memperkuat landasan sosiologis seperti memperkuat symbol dan aturan-aturan adat, “tambahnya.

 

SUMBER : KALTENG POS, Selasa 2 Agustus 2011

Next Page »