Gregorius Doni Senun: “CU Sebagai Alat Mengembangkan Kesejahteraan Keluarga”
May 18, 2012 by rokhmondonasis
Filed under Opini dan Berita
Pengalaman dan kesaksian dari Ambu Naptamis, SH, MH sudah kita simak dalam tulisan terdahulu. Kali ini kami akan menampilkan Gregorius Doni Senun, S.Pd, terkait pengalaman dan kesaksiannya sebagai anggota juga pengurus di CU Betang Asi. Berikut tulisan yang diolah dari hasil wawancara:
Pria yang di lahirkan di pulau NTT ini sejak tahun 2003, sudah menjadi anggota CU Betang Asi. Goris panggilan akrabnya merupakan salah seorang pendiri dari CU yang per April 2012 sudah beranggotakan 27.556 orang.
Periode tahun 2012-2014, Goris dipercaya sebagai sekretaris pengurus. Secara individu ia menjelaskan adanya perubahan yang positip semenjak ia menjadi anggota CU. “Saya selalu termotivasi untuk maju dan bekembang bersama CU”, ungkap pria yang juga sebagai tenaga pendidik di salah satu SMP di kota Palangka Raya.
Pengalaman lain dari segi sosial Goris mengatakan ia dapat mengenal dan bergaul dengan semua lapisan masyarakat, sedangkan dari sisi mental, semenjak tahun 2003 sudah bergelut di dunia Credit Union, ia harus dituntut memiliki kerendahan hati untuk melayani. “Secara spiritual saya dan keluarga lebih banyak bersyukur,” kata pria berkumis ini.
Terkait perubahan dari bidang financial, Goris menjelaskan bahwa dengan adanya CU, ia dan keluarganya mulai terdorong untuk membangun keuangan keluarga sehingga semakin membaik. Tentu ini di pacu dengan perubahan intelektual sehingga untuk peningkatan kemampuan diri dengan terus menerus belajar. Pendapat ini tentu sesuai pada salah satu dari 3 pilar CU yaitu, dimulai, berkembang dan bergantung pada pendididikan sehingga proses belajar tidak pernah berhenti.
Di akhir wawancara Goris berharap, CU dapat dijadikan sebagai sebagai sarana (alat) untuk mengembangkan kesejahteraan keluarga. “Mari kita bersama-sama untuk membangun CU Betang Asi,” pungkasnya kepada penulis.
Sumber berita dan Foto: Rokhmond Onasis
Yepta Diharja : Gerakan CU di wilayah Gunung Mas, akan betul-betul menjadi “Gunung Mas” bagi masyarakatnya.
May 1, 2012 by yepta
Filed under Opini dan Berita
Gunung Mas memiliki sumber daya alam yang menjanjikan bagi masyarakatnya, tetapi sangat disayangkan hasil yang diperoleh tidak mampu memperlihatkan perubahan tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Hal ini disebabkan prilaku konsumtif masyarakat yang begitu dominan dalam mempengaruhi diri dan pola pikir masyarakat Gunung Mas.
Credit Union (CU) Betang Asi masuk di wilayah kabupaten Gunung Mas kurang lebih delapan tahun yang telah lalu, mulai dari wilayah kecamatan Sepang, kemudian masuk ke wilayah Kuala Kurun dan wilayah Rungan – Manuhing. Berawal dari keyakinan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai solidaritas, sedikit demi sedikit dari hilir sampai ke hulu keberadaan CU sudah mulai dirasakan ditengah-tengah kehidupan masyarakat khususnya di Kabupaten Gunung Mas.
Sebagaimana visinya Credit Union berbasis masyarakat Dayak yang terpercaya, abadi dan terbesar di Kalimantan Tengah. Keberadaan CU bisa dijadikan alat untuk memperkuat dan memberdayakan sosiali – ekonomi masyarakat lokal agar dapat mandiri, mampu hidup dan bersaing ditengah-tengah kehidupan masyarakat yang majemuk, dan persaingan di era teknologi sekarang ini.
Gerakan CU di wilayah Gunung Mas, akan betul-betul menjadi “Gunung Mas” bagi masyarakatnya, kata Yepta Diharja, SP. (Manager CU Betang Asi TP. Betang Batarung – Kuala Kurun), paling tidak dengan masuknya CU ditengah-tengah kehidupan masyarakat dapat merubah sedikit demi sedikit pola pikir dan pola hidup masyarakat untuk lebih produktif dalam memanfaatkan hasil suber daya alam yang diperoleh mereka.
Suksesnya gerakan CU ini dapat dilihat dari pertumbuhan anggota dan nilai asset yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Sampai sekarang ini jumlah anggota CU di wilayah kabupaten Gunung Mas mencapai kurang lebih 10.000 orang dengan nilai asset yang signfikan ini berarti bahwa dengan semakin banyaknya masyarakat Gunung Mas yang bergabung menjadi anggota CU dengan memiliki simpanan di CU, maka gerakan CU betul-betul memperlihatkan kepada masyarakat bahwa melalui CU masyarakat bisa melihat hasil kerjanya dan melalui CU masyarakat khususnya anggota dapat sedikit demi sedikit merubah pola pikir konsumtif menjadi produktif dan melalui CU anggota dapat memenuhi kebutuhan kesejahteraan dan jaminan masa depan mereka.
Gerakan CU tidak bisa hanya dipandang dari sisi bisnisnya saja (pinjaman), tetapi gerakan CU merupakan gerakan menyeluruh yang memperhatikan kehidupan masa sekarang dan masa yang akan datang bahkan sampai mati. Oleh sebab itu gerakan CU perlu komitmen yang sungguh-sungguh dari anggotanya.
Dukungan semua pihak terhadap gerakan CU di wilayah kabupaten Gunung Mas sangat membantu masyarakat yang berada di lumbung emas ini agar bisa berada di atas taraf hidup sejahtera. Sehingga Gunung Mas betul-betul menjadi “Gunung Mas” bagi masyarakat kabupaten Gunung Mas.
Ambu Naptamis: “CU Menumbuhkan Kecerdasan Financial dan Mental Kewirausahaan”
April 29, 2012 by rokhmondonasis
Filed under Opini dan Berita
Dalam beberapa bulan ke depan kami akan menampilkan tulisan terkait pengalaman dan kesaksian dari pengurus, pengawas dan penasehat CU Betang Asi. Dimulai dari ketua pengurus terpilih 2012-2014, Ambu Naptamis, SH, MH. Berikut tulisannya:
Ambu Naptamis, pria bertubuh tinggi besar ini, merupakan pionir lahirnya CU Betang Asi Palangka Raya. Menjelang tahun 2000-an Ambu Naptamis yang merupakan pendiri sekaligus aktivis Yayasan Dayak Panarung (Sekarang Lembaga Dayak Panarung), bersama rekan rekan aktivis lainnya yang bergabung di Lembaga Dayak Panarung (LDP) tempat mereka berkarya, sudah menggagas kelahiran CU. Di LDP mereka membentuk CU Panarung yang beranggotakan 71 orang.
Bulan April tahun 2002 LDP mendapat kunjungan dari CCFD Paris, Perancis. Kunjungan CCFD ini, didampingi oleh Stefanus Djuweng dari Segerak, Pontianak, Kalimantan Barat. Pada saat itulah bersama Stefanus Djuweng, di diskusikan secara serius soal bagaimana mengelola CU yang standar seperti yang ada di Kalimantan Barat. Memang saat itu CU di Kalbar, telah banyak melahirkan cerita sukses baik dalam hal pengembangan dan pelayanan.
Pasca pertemuan di bulan April 2002, menyusul salah satu aktivis LDP berkesempatan mengikuti kegiatan di Pontianak, Kalbar, maka semakin seriuslah diskusi soal bagaimana mendirikan dan mengelola CU yang ideal. November 2002, Matheus Pilin dari Segerak, Pontianak, Kalbar melakukan assesment ke Kalteng yang didampingi oleh Ambu Naptamis.
Hasil dari assesment ini bersama tokoh gereja Katolik, tokoh gereja GKE, CU Balawa Asi, KSU Sinar Kasih dan KSU Sangkuwong, LDP membentuk panitia kecil untuk persiapan SP CU yang dilaksanakan bulan Februari 2003. Hasilnya lahirlah CU Betang Asi yang operasionalnya di buka pada tanggal 26 Maret 2003.
Menurut ayah 3 orang anak ini, kehadiran CU secara pribadi dan keluarga sangat berpengaruh, terutama berkaitan dengan perencanaan keuangan keluarga. Perencanaan keuangan keluarga tersebut, dipraktekkan melalui sarana dan pelayanan yang ada di CU. Selain itu tumbuh juga jiwa kewirausahaan. “Yang dulunya belum terpikirkan untuk berwirausaha, dengan adanya CU jadi terinspirasi untuk menciptakan atau mendirikan usaha, dengan demikian berarti membuka lapangan pekerjaan baru,” ungkap Ambu.
Di periode kepengurusan 2012 – 2014 ini, Ambu Naptamis dipercayakan sebagai Ketua Pengurus, terkait dampak ber-CU Ambu mengatakan semakin menumbuhkan kesadaran financial dan juga berdampak secara spiritual. Kita semakin yakin pentingnya semangat kebersamaan dan saling percaya serta arti pentingnya kejujuran. Secara sosial terbangun rasa percaya diri secara kolektif, bahwa rakyat mampu mengorganisir diri dan membangun lembaga pemberdayaan dari oleh dan untuk.
Suami dari Mastuati ini juga menekankan bahwa secara intelektual, CU dapat memberikan keyakinan dan kepercayaan kepada anggota CU itu sendiri, maupun pihak lain bahwa bangun usaha koperasi mampu dan dapat berkembang, seperti apa yang menjadi harapan dan cita cita terhadap koperasi.
Mengakhiri perbincangannya, Ambu Naptamis berharap agar CU mampu dan dimampukan untuk berkembang dan diterima semua pihak/ kalangan, sebagai sokoguru ekonomi dengan tidak meninggalkan jiwa, semangat, nilai nilai, serta prinsip gerakan koperasi yang universal.
Sumber tulisan: Sepmiwawalma, penggiat CU
Sumber foto: http://profile.ak.fbcdn.net
9 Tahun CU BESI : Dua Tangis, 2 Rasa, Ribuan Tawa dan Harapan
March 27, 2012 by rokhmondonasis
Filed under Opini dan Berita
Aksi, refleksi, aksi adalah bagian dari pertumbuhan CU Betang Asi hingga mencapai usia 9 tahun. Sebagai salah satu bagian dari refleksinya berikut catatan yang dibuat oleh Sepmiwawalma, penggiat sekaligus sekretaris pengelola website cubetangasi.com:
Palangka Raya, menyambut ULTAH CU BESI ke-9, Senin, 26 Maret 2012
Senin, 26 Maret 2012. Genap 9 tahun usiamu CU Betang Asi.
Baru 9 tahun usiamu ataukah sudah 9 tahun usiamu? Baru atau sudah tentu bermakna bagimu. Betapa relatifnya ukuran waktu dan usia…
Mewarnai 9 tahun usiamu. Pernah ada dua tangis singgah di sisimu, 2 rasa tersaji di hadapanmu, namun ada ribuan tawa menyertai langkahmu.
Dua Tangis, 2 Rasa.
Selasa, 9 Agustus 2011, si jago merah melahap habis markasmu di Tumbang Sangai.
Memasuki 3 bulan perjalananmu melewati badai. Selasa, 1 November 2011, Nakodamu DR. Amu Lanu A. Lingu, SE, M.Si kembali ke Pangkuan sang Pencipta Pemilik Semesta. Betapa relatifnya jarak…
Inilah realita, ada 2 rasa tersaji di hadapanmu.
Ada anggota yang masuk, namun ada juga yang keluar.
Ada yang lahir, ada juga yang meninggal.
Ada yang puas, ada yang kecewa. Ada yang sedih namun ada juga yang gembira.
Ada yang usahanya sukses, ada yang gagal. Ada yang lancar, ada yang macet.
Ada yang baru, ada yang lama. Ada yang berhenti, ada juga yang meneruskan.
Ada yang banyak, ada yang sedikit. Ada yang besar pinjamannya, ada yang kecil, sesuai keperluan dan kemampuannya.
Ada yang mengerti, ada juga yang bingung.
Ada yang marah, ada yang senang.
Ada yang berkeras hati, ada yang sadar.
Ada kelebihan, namun ada juga kekuranganmu.
Kelebihanmu teruslah dipertahankan. Agar dirimu menjadi tempat yang menyenangkan.
Tingkatkan kualitasmu, sehingga mampu merebut perhatian dan rasa hormat dari banyak orang.
Benahi segala kekuranganmu, agar semakin elok dipandang mata dan nyaman bagi jiwa.
Semuanya Relatif…
Semua ada waktunya…ada pergantian pengurus, ada pergantian manajemen, ada kantor baru, ada renovasi kantor.
Sebuah tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang mengisinya. Betapa relatifnya tempat…
Sedih, senang, ketawa, menangis, semua bergantung suasana jiwa. Sang pemilik jiwalah yang berkuasa mengontrol suasana jiwanya.
Mau dibuat sedih atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua bisa. Betapa relatifnya jiwa…
Ada yang bilang sudah banyak yang telah dilakukan. Anggota banyak, aset, staf, fasilitas, tempat pelayanan bertambah, banyak yang sudah sejahtera dan kredit macet turun.
Banyak juga yang mengatakan, masih terlalu sedikit yang diperbuat.
Bunga pinjaman terlalu tinggi, proses pinjaman berbelit-belit, belum ada ATM, pelayanan lambat dan tidak ramah, kantor sesak. Butuh kearifan memaknainya…Betapa relatifnya kepuasan…
Ada yang menyanjungmu, ada yang di untungkan oleh pelayananmu. Namun masih ada yang meragukanmu, ada yang meremehkanmu, ada yang membencimu, tak perlu marah, buktikan saja bahwa pada saatnya, ada pengakuan bahwa mereka keliru menilaimu. Betapa relatifnya percaya…
Hadapilah perubahan. Sabarlah untuk mewujutkan kesuksesanmu. Carilah solusi jangka pendek dan berpikirlah akan dampak jangka panjang bagi keberlanjutanmu. Abaikan yang membuatmu berkecil hati. Betapa relatifnya fokus…
Yang datang padamu beragam warna. Ada yang menyedihkan, ada yang membanggakan. Ada yang kecewa dan pergi darimu, namun ada yang tetap setia bersamamu, walau pernah kecewa. Betapa relatifnya rasa dan kesetiaan…
Ada sedih, ada duka, ada tawa, ada gembira, ada yang kekurangan uang, ada yang berkelebihan uang , yang menjumpaimu. Betapa relatifnya uang…
Beragam persoalan menyapamu. Ada yang harus cepat diatasi, ada yang memerlukan waktu untuk diatasi. Memang tidak mudah mencari jalan cepat untuk mengatasi persoalan. Tak jarang muncul persoalan yang sulit untuk dipecahkan. Betapa relatifnya kecepatan…
Dalam banyak kesempatan bertemu dalam ruang rapat, ada ide yang disampaikan dengan jenaka, marah, tenang, menyejukkan, pesimis, optimis, ini bisa menjadi hiburan yang menyenangkan, menegangkan, mencengangkan, melegakan sekaligus bahkan membuat galau. Betapa relatifnya cara…
Inilah catatan proses membesarkanmu, yang harus di isi lembar demi lembar dalam buku perjalananmu. Ada yang harus di arahkan. Ada yang perlu diberi peringatan. Ada yang sudah tahu apa yang semestinya dilakukan. Ada yang punya kedudukan, ada yang belum punya kedudukan. Ada yang punya kewenangan, ada yang belum punya kewenangan. Betapa relatifnya sebuah kekuasaan…
Ribuan Tawa dan Harapan Menyertai 9 Tahun Usiamu.
Dalam rangkaian perjalananmu, masih banyak ribuan tawa dan harapan menyertai langkahmu.
Teruskan langkahmu. Kau pasti bisa, kalau kau katakan bisa. Hellen Keller, sekalipun buta, tuli dan bisu, tidak pernah kehilangan semangat untuk menjalani hidupnya dan bercita-cita jadi pendidik. Ia percaya bahwa apabila seorang berani menghadapi cahaya matahari, maka bayang-bayang akan tertinggal di belakangnya. Akhirnya, impiannya menjadi kenyataan. Masa sulit tidak pernah berakhir, namun orang-orang tegar selalu dapat mengatasinya.
9 tahun usiamu. Usiamu tidak lagi bayi. Namun tetaplah seperti bayi, menarik untuk didekati dan dicintai. Kelak jika usiamu sudah ABG, berperilakulah tidak seperti ABG, yang kadang galau, labil, mengeluh, gusar, meratapi kehidupan, tanpa mau mengubah keadaan.
Besi… kemauanmu keras, ketekunanmu tidak pernah surut, pandanganmu selalu optimis melewati masalah yang dihadapi dan semangatmu yang pantang menyerah untuk mewujudkan pencapaianmu. Handep Hapakat Sewut Batarung, menjadi pondasimu.
Jangan menjadi letih dan lemah. Hadapilah segala tantangan dengan berani. Tidak memalingkan wajah saat menghadapi kesulitan. Biarkan anggota tetap seperti magnet yang menempel pada besi, karena namamu memang CU Besi.
Besi… Sukses tidak tuli, dia bisa mendengar harapanmu. Sukses tidak buta, karena dia harus mengamati kerja kerasmu. Sukses sudah kaya, yang kekayaannya terbentang mulai dari kesehatan sampai semua kenikmatan hidup. Sukses telah sangat berpengalaman, mendengar janji kesungguhan yang tidak cepat layu, dan menyaksikan pekerjaan kecil meledak menjadi kekayaan besar yang dibangun dengan kejujuran dan kerja keras.
Maka di usiamu yang ke 9 tahun ini… Bentuklah dirimu untuk tidak menyukai kemalasan, tidak memanjakan penundaan, tidak membiarkan mulutmu mengeluarkan kata-kata yang tidak berkelas, dan tidak memasukkan hal-hal yang beracun ke dalam nafas dan darahmu. Jadikanlah dirimu pribadi yang bersih, yang jujur, yang rajin, dan sabar, agar Handep Hapakat Sewut Batarung menjadi Nafasmu.
Sumber: Sepmiwawalma
Sumber gambar: http://rlv.zcache.com
HUT ke-5, TP Batuah Marajaki Capai Aset 22,8 M
March 19, 2012 by rokhmondonasis
Filed under Opini dan Berita
Memasuki usia ke-5, Tempat Pelayanan (TP) Batuah Marajaki mampu mencapai aset senilai Rp22,8 miliar. Menurut Manager TP BM, Andika Harianto, S.Pi, total aset tersebut diperoleh dari 2.458 orang yang tersebar di wilayah pelayanannya.
“Hasil yang dicapai ini berkat kerja keras bersama rekan-rekan aktivis dan kolektor dalam melayani anggota,” kata Andika usai meniup lilin ulang tahun ke-5 bersama Pitur pengurus di kantor TP BM, Sabtu (3/3/2012). Dia juga berharap, CU BESI semakin jaya, sejalan dengan peningkatan kesejahteraan anggota menuju bebas finansial sesuai cita-cita CU.
Selain tiup lilin, kegiatan itu dirangkai dengan pembubaran panitia RAT Tahun Buku 2011 CU BESI TP BM. RAT dilaksanakan 24 Januari 2012 di halaman kantor TP. Ketua panitia Yoprin E Manan menyampaikan rincian biaya RAT kepada pengurus. Pembubaran RAT dilakukan oleh Pitur L. Sanen, S.Pd mewakili Dewan Pengurus.
Wilayah pelayanan TP BM meliputi Desa Bukit Rawi, Tuwung, Petuk Liti, Bukit Liti, Bahu Palawa, Pamarunan, Balukon, Bukit Bamba, Tahawa, Parahangan, Manen Paduran, Bukit Bakung, Lawang Uru, Hurung, Hanua-Ramang, Tambak, Daerah Lahei , dan Sei Gawing.
Sejak tanggal 30 April 2011 wilayah pelayanan TP BM memiliki 1 Tempat Pelayanan Khusus (TPK), yaitu TPK Timpah yang meliputi wilayah pelayanan Desa Aruk, Lawang Kajang, Timpah, Lawang Kamah, Danau Pantau, Lungkuh Layang, Tumbang Randang, Petak Puti dan Batapah.
Sumber berita dan Foto: Andika Harianto, Kontributor TP BM
Keterangan Foto: Kolektor, Idoe memotong kue ulang tahun disaksikan Manajer TP Batuah Marajaki Andika Harianto.
Setia Melayani Sepenuh Hati, Staf TP TBS Pujon
February 23, 2012 by rokhmondonasis
Filed under Berita, Opini dan Berita
Menyaksikan medan yang cukup berat di wilayah pengembangan TP Tahasak Batu Sepan (TBS), terbayang tantangan yang dihadapi staff CU yang ditugaskan di wilayah ini. Jalan darat masih rusak, jembatan penghubung jalan ada yang putus, sehingga hanya bisa dilewati sepeda motor, ada juga desa yang hanya bisa dijangkau dengan transportasi sungai.
Bagaimana staff mengatasi tantangan pelayanan kepada anggota dengan kondisi jalan yang kurang memadai terutama saat survey dan menagih pinjaman lalai?. Penulis tertarik untuk membuka percakapan ringan dengan staff percobaan, Europorto. Ia mengatakan sering berhadapan dengan kondisi lapangan terutama jalan rusak, bermandikan lumpur saat hujan dan debu saat musim kemarau, menyeberang sungai dan kehujanan di jalan. Demikian petikan percakapan:
Apa kabar, bagaimana rasanya melayani anggota di TP Tahasak Batu Sepan, Pujon ?
Kabar baik. Kalau soal pelayanan kadang menyenangkan, kadang kurang menyenangkan kalau berhadapan dengan beberapa kendala.
Artinya dalam pelayanan ada hal yang menyenangkan dan kurang menyenangkan?
Iya. Dikantor maupun saat ke lapangan bisa aja ada kendala. Kalau saat pelayanan di kantor, tiba tiba komputer ngadat membuat pekerjaan terganggu, kurangnya jumlah staff membuat pelayanan terlambat dan karena kerjaan menumpuk, anggota harus dilayani makan siangpun tidak sempat.
Ketika jam pelayanan sudah tutup ada anggota yang belum terlayani, kita harus tetap melayani walau sudah lebih dari jam 3 sore. Enaknya kalau di kantor, tidak kena hujan dan panas. Nah kalau ke lapangan tantangannya medannya berat, apalagi kalau musim hujan siap siap kehujanan di jalan, kalau jalan tidak bisa dilalui motor, kita harus jalan kaki mendorong motor bermandikan lumpur. Kalau motor macet, desa terdekat masih jauh kita bisa bermalam di hutan dan tidak makan. Yang deg-degan kalau kita bawa uang setoran, sangat beresiko, untungnya selama ini Tuhan masih melindungi kita, sehingga belum pernah dan jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
Bagaimana caranya agar pekerjaan yang berat menjadi ringan dikerjakan?
Dengar musik dan ajak rekan kerja atau anggota bercanda. Dengan bercanda membuat semangat bangkit lagi. Kalau ada anggota yang berhasil kita motivasi dan jadi anggota, kita senang. Kemudian kalau berhasil membantu anggota mencari solusi atas masalah yang mereka hadapi juga membuat hati senang. Kalau memotivasi anggota terkadang tidak melulu bicara CU, tapi mereka bisa curhat soal keluarga kepada kita ketika kita mengunjungi mereka.
Adakah kekuatiran kepada anggota atau pihak lain yang bukan anggota?
Ada, kepada pemerintah kalau kalau membuat kebijakan yang justru menghambat perkembangan CU, misalnya membuat kebijakan soal pajak yang justru membebani anggota. Lalu kalau kepada anggota, kalau ada yang kecewa karena pinjamannya tidak dicairkan sesuai harapan, memberikan informasi yang tidak benar kepada anggota lain atau kepada calon anggota.
Ada anggota yang sudah cair pinjamannya dari CU, tapi karena takut orang lain bisa pinjam dari CU untuk modal usaha juga, karena takut usahanya ada saingan lalu memberi informasi yang tidak benar tentang CU, sehingga orang lain tidak bergabung menjadi anggota CU. Semoga sifat tidak ingin melihat orang maju dan hanya mau dirinya sendiri yang maju tidak banyak bahkan kalau bisa tidak ada di tengah masyarakat.
Harapan kepada anggota?
Setia bersama CU, rajin menabung, tepat waktu bayar pinjaman, seluruh anggota keluarga dibawa jadi anggota CU. Walau pendidikan tidak lulus SD, bisa mengelola anggaran rumah tangga dengan baik, jangan kalah dengan orang kota, walau tinggal di desa masa depan telah dipersiapkan dengan baik dan tidak ketinggalan zaman. Orang kota ber-CU, kita di desa juga ber-CU. Kami sebagai staff SETIA MELAYANI SEPENUH HATI katanya mengakhiri perbincangan.
Keterangan Foto: Europorto di atas ferry penyeberangan
Sumber foto dan tulisan: Sepmiwawalma.
Sosialisasi Credit Union Filosofi Petani
February 9, 2012 by yepta
Filed under Opini dan Berita
Hari Senin dan Selasa tanggal 30-31 Januari 2012, di Hotel Amaris Palangka Raya dilaksanakan Sosialisasi Credit Union Filosofi Petani yang difasilitasi oleh Bapak A.R. Mecer tokoh penggerak Credit Union dan juga Ketua Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan yang dihadiri oleh Penasehat, Dewan Pengurus, Badan Pengawas, dan unsur Pimpinan Manajemen CU Betang Asi.
Mengawali sosialisasi tersebut, A.R. Mecer menggambarkan kehidupan yang dilakukan para petani dulu, dari kegiatan untuk menyediakan Makan dan Minum dalam rangka memenuhi kebutuhan hari-hari, Bercocok Tanam untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang, Kebutuhan Sosial dalam membangun sikap solidaritas, kebersamaan serta keharmonisan antar sesama, Memohon berkat dan Bersyukur atas apa yang dilakukan dan yang telah diterima dari sang pencipta. Filosofi petani ini merefleksikan apa dan seperti apa yang telah Credit Union implementasikan kepada masyarakat dan anggota pada khususnya.
A.R. Mecer juga menyampaikan mengenai beberapa pandangan masyarakat Credit Union terhadap pergerakan Credit Union yang mulai keluar dari jalur pemberdayaan terhadap masyarakat kecil. Hal ini yang selalu menjadi pikiran dan perenungan panjang bagi Bapak A.R. Mecer sehingga muncul gagasan mengenai Credit Union Filosofi Petani.
Dalam sosialisasi Credit Union Filosofi Petani, A.R. Mecer dengan sangat gampang dan jelas memberikan penjelasan kepada peserta sosialisasi berkenaan dengan pola pengembangan Credit Union Filosofi Petani yang diharapkan semua Credit Union dibawah jaringan Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan dapat menyesuaikan pola pelayanan dan pengembanganya berdasarkan Filosofi Petani dengan harapan bahwa keberadaan Credit Union di tengah masyarakat betul-betul melayani kepentingan seluruh anggota khususnya anggota lapisan menegah kebawah.
Manager CU Betang Asi Tempat Pelayanan Betang Sinta – Sepang Kota, Sylvester Suanda mengatakan bahwa Credit Union Filosofi Petani yang disosialisasikan oleh Bapak A.R. Mecer betul-betul memberikan pencerahan dan dapat memberikan manfaat yang besar bagi pergerakan CU Betang Asi kedepan.
Manager CU Betang Asi Tempat Pelayanan Betang Batarung – Kuala Kurun, Yepta Diharja, SP. Menaggapi sosialisasai Credit Union Filosofi Petani yang disampaikan oleh A.R. Mecer betul-betul dapat mengembalikan semangat gerakan Credit Union. Yepta mengatakan bahwa pola Credit Union Filosofi Petani dalam mengelola Credit Union betul-betul sesuai dengan dengan semangat Credit Union yang terdiri dari “Kumpulan orang-orang” jadi yang dikelola adalah betul-betul kumpulan orang bukan uang, karena uang adalah dampak dari segala kegiatan yang dilakukan. Disamping itu, Credit Union betul-betul memberikan hak yang sama kepada semua anggotanya tanpa membedakan tingkat kemampuan sosial ekonomi anggota.
Credit Union Filosofi Petani dalam pengelolaan produk simpanan betul-betul memberikan harapan kepada anggotanya untuk dapat memperolehnya berdasarkan tingkat kemampuannya, dimana keistimewaannya adalah anggota dapat betul-betul menggunakan produk dan merancangnya secara terencana, sehingga mengurangi spekulan-spekulan yang hanya ingin memanfaatkan Credit Union untuk memperkaya diri sendiri. Ujar Yepta.
Kegaitan Sosialisasi Credit Union Filosofi Petani direspon baik oleh semua peserta yang langsung menindak lanjuti dengan mengadakan pertemuan kembali hari kamis 2 Pebruari 2012 di Hotel Amaris untuk membahas hasil sosialisasi tersebut.
TPK Timpah Mulai Berbenah
January 17, 2012 by rokhmondonasis
Filed under Opini dan Berita
Akhir minggu pertama bulan Januari 2012, penulis mengunjungi TPK Timpah yang terletak di koordinat S 01° 43′ 48.33″, E 114° 28′ 42.47″. Desember 2011 lalu Ernesto Kardinal baru saja di berikan SK oleh pengurus sebagai koordinator TPK Timpah. Pencapaian target diharapkan dapat tercapai hingga akhir tahun ini.
Sebagai upaya pencapaian target tersebut diharapkan pendirian kantor baru TPK Timpah agar meningkatkan motivasi calon-calon anggota CU yang berada di wilayah ini sehingga aktivitas anggota dan penggiat CU dapat dipantau dari lintas Palangka Raya- Buntok. Berikut petikan wawancara yang dilakukan penulis:
Strategi untuk pencapaian target di tahun 2012?
Yang pasti untuk pencapaian target lebih mengoptimalkan kolektor, karena mereka sebagai ujung tombak di lapangan, yang pasti memberikan pemahaman-pemahaman kepada kolektor mengenai organisasi CU mereka (kolektor) juga harus tahu.
Berarti ada pertemuan-pertemuan atau pelatihan di tingkat kolektor?
Iya,itu harus dilakukan
Berapa orang kolektor di wilayah ini?
Ada 7 orang, namun 1 orang belum diberikan SK kolektor karena masih diusulkannya, di daerah Batapah belum terlalu berkembang, karena belum ada motivasi. Di daerah ini 100% penghasilan masyarakat dari menyadap karet, ada kemungkinan perkembangan CU akan baik di daerah sana.
Paska pendirian TPK Timpah di bawah kantor TP Batuah Marajaki, Petuk Liti, dilihat dari kendala ataupun keuntungan-keuntungan yang terjadi?
Dari segi kendala tidak ada yang terlalu menghambat kinerja, untuk administrasi awalnya kita agak berbelit-belit karena harus mutasi dan lain-lain. Tapi ini tidak masalah menurut saya, namun berdasarkan pandangan anggota di Petuk Liti sudah ada kantor yang megah, itu akan menambah kepercayaan kepada anggota dan ada harapan anggota yang bertanya kapan didirikan kantor di TPK Timpah ini.
Jadi lebih banyak anggota ingin melihat bukti fisik, kantor sudah berdiri?
Iya seperti itu.
Dari sumber daya yang ada, berapa orang yang membantu anda di sini?
Ada 2 orang, 1 orang volunter dan 1 orang staf. Terkait masalah pendidikan kami masih di bantu oleh TP Batuah Marajaki, Petuk Liti juga dari kantor pusat.
Dari analisa anda, bagaimana potensi anggota maupun penyaluran kredit di daerah sini?
Kalau untuk peminjaman di daerah Timpah, kebanyakan mereka belum terlalu percaya karena ada yang lain misalnya CERD, di daerah Tumbang Randang, Danau Pantau. Di daerah Danau Pantau CERDnya sudah berjalan baik, tapi di daerah Tumbang Randang sudah mulai tidak ada.
Kendala yang lain, saat mengumpulkan orang-orang di Timpah ini cukup sulit, saya tidak tahu penyebabnya mungkin karena ada kesibukan-kesibukan tersendiri misalnya karena usaha masyarakat di sini sedot emas, juga sebagian ada yang menyadap karet.
Cukup sulit untuk mengumpulkan masyarakat, sudah beberapa kali saya berusaha untuk mengadakan pendidikan di Timpah tapi belum ada kesadaran untuk ikut. Tapi, dari kampung-kampung lain tidak sulit.
Padahal Timpah sendiri sebagai tempat pelayanan?
Iya, karena dulu di Timpah ada kolektor yang membantu dan langsung mengunjungi ke rumah-rumah anggota.
Pandangan Anda, dengan akan didirikan kantor di TPK Timpah ini, apakah ada kemajuan yang berarti untuk ketertarikan anggota?
Menurut saya iya, dari lembaga keuangan lain yang baru buka ada mendirikan kantor, berangsur-angsur nasabahnya ada. Kita mungkin bisa mengikuti cara tersebut untuk mendirikan kantor, walaupun tidak usah terlalu mewah pada tahap awal yang penting bangunan kita sendiri yang mewakili kita di sini.
Karena saat sekarang lokasi kantor kita berada agak di dalam (kampung) orang tidak terlalu melihat kegiatan kita, jika kita beralih ke jalan lintas (Palangka Raya- Buntok) kemungkinan ada orang melihat aktivitas kita sembari melewati jalan tersebut.
Harapan sebagai koordinatot TPK Timpah?
Kita berharap agar bisa mencapai target yang sudah ditetapkan, sebagai staf juga dapat mengelola diri sendiri dan dapat menjadi contoh yang baik. Target aset dan anggota per 31 Desember 2012 adalah Rp 7.989.155.350,- dan 881 orang.
Keterangan Foto: Ernesto di pintu depan kantor
Sumber Foto: Rokhmond Onasis
Sri Wulan: “Strategi, meningkatkan pengembangan dan kerjasama dengan lembaga mitra”
January 5, 2012 by rokhmondonasis
Filed under Opini dan Berita
Memasuki tahun 2012 ini tentu banyak tantangan dan peluang yang di hadapi oleh CU Betang Asi. Sebagai Salah satu pilar dari kokohnya sebuah Credit Union, diperlukan kerja yang sungguh-sunggh dalam membangun kesadaran anggota, yaitu pilar pendidikan.
Penulis berkesempatan membincangi Sri Wulan, A.Md sebagai manajer pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan (Diklat dan Litbang) CU Betang Asi. Pembicaraan dilakukan pada Awal Januari 2012 saat berada di Kantor pusat Palangka Raya. Berikut petikannya:
Sebagai manajer Diklat dan Litbang saat ini di CU Betang Asi strategi apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan pendidikan dan pelatihan di tahun 2012 ini?.
Strategi yang kita laksanakan adalah meningkatkan pengembangan dan kerjasama dengan lembaga mitra lainnya seperti di daerah Tangkiling, sebetulnya sudah siap untuk membuka tempat pelayanan mengingat di situ hampir 200 anggota yang dilayani. Kemaren mereka sudah menawarkan ada kontak di sana sebagai tempat pelayanan.
Selanjutnya untuk pengembangan, ke depan kita berfikir bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi di bidang bisnis yang berhubungan dengan pendapatan keluarga. Pemikiran saya kalau bisnis keluarga/ kelompok tidak berjalan dengan baik, otomatis itu berhubungan dengan kelancaran menabung, membayar pinjaman kalau usaha tidak dikembangkan dengan baik tidak mungkin kita berjalan seperti yang diharapkan.
Artinya, kalau kita mengharapkan lembaga CU ini menjadi abadi maka ke depannya harus kita lihat pada bidang pengembangan bisnis dan ekonominya. Di tempat-tempat tertentu kami di bagian Diklat cukup terbantu dengan lembaga mitra seperti Yayasan Tambuhak Sinta (YTS), CARE dan juga BOS Mawas yang membantu kami untuk lebih mendekatkan diri dengan kelompok-kelompok masyarakat yang belum terjangkau oleh bagian Diklat.
Jika bicara kelemahan yang belum teratasi di tahun 2011, apa yang akan dilakukan oleh bagian Diklat di tahun 2012 ini?
Kelemahan yang pertama, kalau pelaksanaan untuk bisnis itu sendiri kita kesulitan jika langsung melakukan pendampingan dikarenakan kita (manajemen) juga terbatas dan kita membutuhkan kerjasama dengan pihak lain sampai kegiatan (bisnis) itu bisa berjalan. Tapi juga lembaga mitra ini saling mendukung dan bekerja sama sehingga akhirnya tujuan mereka tercapai dan tujuan kita juga tercapai.
Dari terbatas yang anda katakan, apakah dari segi jumlah orang atau ada hal lain perlu di atasi di tahun 2012?
Karena saat ini kan CU prioritasnya bukan pada bisnis, maksudnya bisnis real seperti memberikan penyuluhan, bagaimana berternak, berkebun. CU hanya mengelola keuangan, harapan ke depan akan ada pelatihan untuk menjadi dasar dari manajemen Diklat untuk memberikan pengarahan atau gambaran kepada anggota seperti apa dan bagaimana mereka melakukannya. Kalaupun tidak bisa dilakukan oleh bagian Diklat maka ada semacam program atau pelatihan dan kita melaksanakannya dengan pihak lain agar lebih terorganisir, hal itu terkait dengan pengembangan usaha masyarakat.
Dari sumber daya fasilitator saya kira relative, jika saya bilang kurang untuk daerah tertentu iya, seperti sekarang ini di daerah TPK Pujon, di sana sama sekali belum ada yang menjadi kader fasilitator. Kemudian dari manajemennya sendiri terbatas pada pelaksanaan tugas teknis di ruangan (kantor) saja, walaupun bisa melaksanakan pendas. Harapannya di tahun ini fasilitator dari manajemen bergandengan dengan aktivis, karena ada beberapa hal penjelasan teknis yang berhubungan dengan kredit yang penjelasannya kadang agak sedikit kurang pas, manajemen di gandengkan karena lebih tahu.
Tetapi manajemen juga tidak sepenuhnya bisa ikut di dalam pendidikan dasar karena keterbatasan berada di kantor atau di lapangan. Khusus untuk fasilitator ke depan ini akan ada dilaksanakan pelatihan atau pertemuan bagaimana menjelaskan tentang kredit, karena persoalan yang sering saya dengar ada perbedaan dalam penjelasan kredit oleh aktivis dan manajemen. Untuk menyamakan pemahaman ini dapat berupa pertemuan antara bagian kredit dengan fasilitator.
Dengan kata lain ada pertemuan berkala yang membicarakan konteks kredit ini dalam penerapannya dan ketika kita memberikan materi di pendidikan dasar, sebagai manajer Diklat dan Litbang tentu di tahun 2012 ini banyak tantangan dan peluang yang akan dicapai. Secara pribadi maupun lembaga bagaimana anda memandang ini?
Secara pribadi kalau menghadapi tantangan pasti ada, tapi saya pikir ke depannya bagaimana kita mengatur yang sudah ada, mempertahankan yang sudah baik, memperbaiki yang sekiranya belum baik.
Kemudian, menghadapi perubahan-perubahan di luar harus kita dapat mengatasinya, juga kita berkerja sama dengan lembaga-lembaga mitra lainnya untuk melihat peluang-peluang, juga kerjasama-kerjasama yang sudah menawarkan pelatihan untuk meningkatkan lembaga ini di luar BKCUK, seperti dari Semarang dan Yogyakarta .
Keterangan Foto: Sri Wulan saat di ruang kerja.
Jadikan Uang Bekerja Untuk Kita
December 2, 2011 by rokhmondonasis
Filed under Opini dan Berita
Mengelola keuangan keluarga gampang-gampang susah. Gampang kalau pendapatan kita tak terbatas dan susah kalau untuk hidup sehari-hari saja rasanya kurang. Lepas dari gampang atau susah, keuangan keluarga harus dikelola dengan benar, kalau tidak mau terjebak dalam pelbagai kesulitan. Terlebih di masa-masa sulit seperti ini.
Sekitar empat tahun lalu, ketika sedang berjalan-jalan di sebuah mal di Jakarta, asyik melihat-lihat toko-toko yang ada, saya seperti tersadar pada sesuatu. Mal – di mana pun itu – tak lain tak bukan seperti sebuah pasar. Tempat bertemunya penjual dan pembeli! Seketika saya sadar, ke mana pun saya pergi, orang-orang di sekitar kita sebetulnya penjual, yang sedang berusaha memindahkan uang dari dompet kita ke dompet mereka.
Masalahnya, kita tidak sadar bahwa dalam sehari kita sering melakukan transaksi pemindahan uang dari dompet kita ke dompet orang lain dengan sangat cepat. Betul, beberapa dari transaksi itu memang betul kita butuhkan. Seperti membeli sembako, membayar uang parkir, membayar uang sekolah, sampai membayar listrik dan telepon. Akan tetapi yang menarik, sering beberapa transaksi yang kita lakukan tidak selalu untuk mendapatkan barang yang kita butuhkan. Misalnya, membeli ponsel terbaru yang kecanggihannya terlalu maju untuk zamannya sehingga banyak fitur-fitur di dalamnya tidak berguna padahal itu membikin ponsel bertambah mahal.
Padahal, dalam pembelanjaan kita harus membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebenarnya mudah mengetahui perbedaan antara keinginan dan kebutuhan. Kebutuhan itu sesuatu yang harus dipenuhi, sedangkan keinginan tidak; Kebutuhan tidak selalu Anda inginkan, sementara keinginan tidak selalu Anda butuhkan; Kebutuhan umumnya ada batasnya, sementara keinginan umumnya tidak ada batasnya. Namun, justru keinginanlah yang sering membuat gaji seseorang ludes.
Hemat tapi jangan pelit
Mungkin Anda kemudian bertanya: bagian mana dari pengeluaran kita yang sebetulnya merupakan kebutuhan, dan bagian mana dari pengeluaran kita yang merupakan keinginan?
Kalau Anda coba merinci pos-pos pengeluaran setiap bulannya, saya berani mengatakan bahwa setiap orang umumnya memiliki pos pengeluaran yang cukup banyak: sekitar 20 – 30 pos pengeluaran. Yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan?
Saran saya, cobalah kelompokkan semua pos pengeluaran Anda menjadi empat bagian: (1) pos pengeluaran yang berkaitan dengan biaya hidup; (2) pos pengeluaran yang berkaitan dengan pembayaran cicilan utang; (3) pos pengeluaran yang berkaitan dengan premi asuransi; (4) pos-pengeluaran yang berkaitan dengan setoran tabungan.
Dari keempat kelompok pengeluaran itulah Anda harus melakukan skala prioritas. Saran saya, prioritaskan pembayaran cicilan utang terlebih dahulu. Kemudian disusul setoran tabungan rutin. Lalu ketiga adalah premi asuransi. Terakhir biaya hidup. Ini adalah pengetahuan dasar tentang pembelanjaan yang harus dimiliki sebelum Anda mempelajari hal lain tentang pembelanjaan.
Selain itu, hal lain yang harus diketahui juga adalah dengan mencoba mengetahui bagaimana cara bijak dalam mengeluarkan uang untuk setiap pos pengeluaran. Sebagai contoh, salah satu pos pengeluaran Anda yaitu membayar biaya telepon. Adalah bijak, misalnya, mengurangi frekuensi bicara Anda lewat telepon ke hal-hal yang memang lebih diperlukan, mengurangi frekuensi pemakaian internet, sampai pada mengatur pemakaian telepon oleh anak-anak Anda.
Itu baru telepon. Pos lain adalah listrik. Coba pelajari bagaimana Anda bisa lebih hemat dalam membayar biaya listrik. Apakah perlu menggunakan bola lampu yang lebih hemat, apakah dengan mengurangi pemakaian listrik secara bersamaan di malam hari? Hal-hal semacam inilah yang seyogianya dikuasai sehingga Anda tahu bagaimana mengeluarkan uang secara bijak untuk setiap pos tersebut.
Cuma mesti diingat, bijak yang berkorelasi dengan hemat ini jangan sampai membuat Anda pelit. Harus dibedakan antara hemat yang pelit, dengan hemat yang kreatif. Hemat pelit misalnya hemat yang dilakukan dengan cara memaksa, enggak masuk akal. Sebagai contoh, seseorang tinggal sekitar 10 km dari rumah ke kantornya. Hanya karena ingin hemat, dia berjalan kaki. Padahal dia punya uang untuk membayar ongkos transportasi umum. Cuma mungkin bukan alat transportasi pribadi seperti taksi, tapi bus atau mikrolet, misalnya. Jadi, pengertian hemat harus diluruskan: hemat bukan berarti pelit, tapi kreatif.
Selain berhemat, berhati-hatilah terhadap tawaran diskon. Banyak toko yang berteriak memberikan diskon hingga 50%, 70%, bahkan 90%. Ingat, kalau sebuah toko melakukan obral diskon hingga katakan 70%, ini berarti dari 10 barang yang mereka diskon, mungkin hanya satu dua jenis barang yang diskonnya 70%. Yang lainnya bervariasai bahkan mungkin cuma 10%.
Berhubung Anda sudah terlanjur berada di dalam toko dan tidak enak kalau keluar tanpa menenteng barang sama sekali, maka sering pembelanjaan itu tetap dilakukan juga walaupun dengan diskon yang cuma 10%. Parahnya lagi, barang itu bukan barang yang Anda butuhkan. Kedengarannya Anda banget, ya?
Pesan saya cuma satu: belanja adalah sesuatu yang mungkin akan selalu Anda lakukan. Namun, apa yang Anda belanjakan itulah yang akan menentukan apakah gaji Anda akan habis begitu saja atau tidak.
Rugi investasi, wajar!
Memang ada orang yang gajinya habis hanya untuk belanja?
Ada, bahkan banyak yang belanja di atas gaji yang diterima. Boleh percaya boleh tidak, dari 10 orang yang saya tanya berapa persen gaji yang digunakan untuk berbelanja, 8 dari 10 orang mengatakan: 110%. Artinya, dari sejumlah orang berpenghasilan sebesar – katakan Rp 1 juta – 80%-nya membelanjakan Rp 1,1 juta.
Apa ini artinya? Tabungan Anda akan berkurang! Pertanyaannya sekarang, apa yang harus Anda lakukan? Ya, menabung. Apalagi? Lalu tabungan itu perlu “diputar” agar bisa memberi hasil yang lebih besar. Apakah itu ke reksadana, beli emas, atau masuk ke deposito. Ini disebut tindakan berinvestasi.
Menariknya, tidak semua orang paham bila diminta bicara tentang investasi. Banyak orang hanya mengerti bahwa investasi hanya terbatas pada produk-produk perbankan seperti deposito. Kalaupun tahu alternatif investasi, banyak yang takut mencoba. Kalau Anda takut mencoba, ketika bunga deposito tidak setinggi sekarang, bisa-bisa Anda pusing dalam mencari cara bagaimana mengembangkan uang Anda.
Omong-omong, seberapa besar Anda harus menyisihkan uang dari penghasilan Anda untuk diinvestasikan? Kadang-kadang Anda defisit kok mau menyisihkan uang? Oke, kalau selama ini selalu menunggu uang bersisa terlebih dahulu sebelum Anda menabung, kenapa sekarang tidak dibalik saja? Dengan demikian, enggak ada lagi alasan untuk tidak menabung.
Bagi yang takut, hal itu sebenarnya wajar. Yang mereka takutkan biasanya soal kerugian. Akan tetapi, itulah ongkos belajar. Dalam berinvestasi, Anda tidak selalu untung. Kadang Anda mengalami kerugian. Bisa saya ibaratkan, belajar berinvestasi itu seperti belajar berenang.
Maksud saya, ketika belajar berenang, Anda tidak cukup hanya belajar dari teori. Anda tidak bisa membeli buku tentang belajar berenang, membacanya semalaman, membayang-bayangkan, dan ketika masuk ke dalam air, Anda bisa langsung berenang. Tidak bisa seperti itu. Belajar berenang harus dilakukan sambil langsung mempraktikkannya di dalam air. Yang menarik, untuk bisa mahir berenang, Anda akan melalui proses tenggelam berkali-kali. Selain itu, mata Anda akan sering kemasukan air sehingga memerah dan pedih.
Tenggelam serta mata merah dan pedih itulah proses yang harus Anda lalui. Cuma, cobalah untuk meminimalkan semua risiko itu. Ketika belajar berenang, jangan langsung masuk ke kolam yang dalam, pilihlah kolam dangkal terlebih dahulu. Selain itu, pakai juga pelampung. Jangan lupa memakai kacamata renang.
Begitulah kalau ingin masuk ke sebuah produk investasi yang belum pernah Anda masuki. Cobalah untuk tidak berinvestasi dalam jumlah banyak terlebih dahulu. Sedikit saja dulu. Jadi, ketika rugi, kerugian itu bisa ditekan. Selain itu, cobalah pelajari dulu produk itu sebelum Anda masuk, walaupun jangan lupa bahwa beberapa produk ada yang memang harus dimasuki dulu sebelum bisa betul-betul dipahami.
Pahami pula, bila terus-menerus takut berinvestasi, Anda membiarkan diri pada kerepotan mencari uang terus-menerus. Dengan berinvestasi, tidak hanya Anda yang bekerja cari uang, tapi uang Anda juga melakukan hal yang sama untuk Anda. Jadi, kalau dulu sendiri, sekarang Anda dan uang Anda sama-sama bekerja untuk mendapatkan cash flow. Kata orang, bekerja secara tim lebih baik daripada bekerja sendiri. Nah, Anda dan uang Anda adalah tim, dan Andalah yang menjadi pemimpin tim itu.
Jadi kepala, jangan ekor
Jika investasi kurang Anda anggap menantang, cobalah berwirausaha. Ada fenomena menarik selama lima tahun belakangan ini yang saya tangkap soal wirausaha ini. Yaitu bahwa orang mulai memberikan penghargaan yang lebih tinggi pada kewirausahaan.
Dulu, ketika saya masih sekolah, banyak orang yang memandang wirausaha sebagai sebuah pekerjaan alternatif atau pekerjaan yang dilakukan karena terpaksa, seperti untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Atau pekerjaan yang harus dilakukan karena seseorang belum mendapat kabar baik dari perusahaan lain yang mau menerimanya bekerja sebagai karyawan. Malah banyak orangtua yang jauh lebih senang mendapatkan menantu seorang karyawan bergaji terbatas daripada menantu yang bekerja sebagai wirausahawan tetapi memiliki penghasilan yang dianggap tidak tetap sehingga dianggap lebih berisiko.
Namun, itu dulu.
Sekarang lain cerita. Banyak orang sudah mulai memuji mereka yang melakukan wirausaha. Mereka dianggap lebih tangguh karena berani mengambil risiko dan dianggap bisa belajar banyak tentang dunia usaha. Kewirausahaan pun tidak lagi menjadi mata kuliah “basa-basi” pada Fakultas Ekonomi, tetapi sudah merembet ke kursus-kursus, seminar-seminar, bahkan ada yang sampai membuat universitasnya segala.
Lalu, so what getu loh!
Mau tidak mau, membuka usaha sendiri pasti akan Anda lakukan juga, cepat atau lambat. Motivasinya macam-macam. Bisa karena butuh penghasilan tambahan, bisa karena Anda merasa tertantang, bisa juga karena Anda merasa, tak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menjalankan usaha itu kecuali Anda.
Apa pun motivasi Anda, pertama-tama pelajari dulu bidang usaha apa yang ingin Anda terjuni. Untuk mendapatkan ilham, coba sering-sering membuka majalah atau tabloid ekonomi. Ada banyak sekali tulisan yang membahas tentang bidang-bidang usaha yang bisa Anda jalani, mulai dari usaha makanan dan minuman, sembako, sampai peternakan, perikanan, hingga agrobisnis.
Berkaitan dengan bidang usaha, saya sering ditanya, “Pak Safir, menurut Anda, bidang usaha apa sih yang bagus dan menguntungkan sekarang ini?”
Saya selalu menjawab, “Bidang usaha apa yang Anda pilih, tidak selalu menjamin bahwa Anda pasti akan berhasil. Ini karena keberhasilan sebuah usaha sering tergantung pada banyak faktor, dan tidak selalu pada pemilihan bidang usahanya.”
Bukan satu dua kali saya mendengar orang mengatakan,
“Kalau mau buka usaha, buka usaha bidang makanan aja. Untungnya gede lo, bisa 100%. Dan lagi, semua orang kan butuh makan, jadi pasti usaha makanan akan laku.” Terhadap ucapan seperti ini, saya cuma bisa manggut-manggut, sambil mengatakan,
“Betul, usaha makanan untungnya memang bisa 100%. Dengan catatan, kalau ada yang beli.” Yang jelas, usaha makanan akan tetap terus ada.
Ada dua tipe orang yang membuka usaha. Pertama, orang yang menunggu datangnya kebutuhan. Sebagai contoh, di Jln. Cihampelas
Bandung dulu banyak orang yang tertarik membuka usaha jual beli jins karena melihat kebutuhannya sudah ada. Tipe seperti ini biasanya tidak tertarik membuka usaha jual jins kalau dia tidak melihat apakah sudah ada toko lain yang menjual jins atau belum. Inilah wirausahawan kategori me too product, hanya saja dengan nama yang sedikit berbeda dan harga yang biasanya lebih murah.
Tipe kedua, orang yang membuka usaha dengan cara menciptakan kebutuhan karena dia melihat kebutuhannya belum ada, atau kalau sudah ada tetapi belum dirasa butuh. Misalnya, kesuksesan salah satu merek air mineral pertama di Indonesia. Padahal, dulu air mineral itu dijual lebih mahal daripada bensin. Berhubung si pengusaha air minum itu mau menciptakan kebutuhannya (melalui iklan maupun isu-isu di media massa), maka air mineral itu laris manis dan akhirnya dibuntuti oleh para pengekor.
Sayangnya, kebanyakan orang kita masih berada pada tipe karakter yang pertama. Saran saya, kalau mau jadi wirausahawan, jadilah wirausaha yang berani menciptakan kebutuhan walaupun Anda melihat kebutuhannya belum ada, atau kalaupun kebutuhannya ada tetapi orang belum merasakannya. Bangkitkanlah kebutuhannya. Bila mampu menjadi tipe wirausaha seperti ini, maka – boleh dibilang – Anda sudah menjadi wirausahawan sejati!
Selamat berinvestasi, selamat berwirausaha, selamat mencapai kesehatan keuangan yang prima. (Safir Senduk, perencana keuangan dari Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk dan Rekan)
author : Agus Surono
Wednesday, 08 December 2010 – 06:43 pm
sumber gambar: http://moneycactus.com


