TOT Fasilitator CU Betang Asi
July 24, 2011 by Andreas Saputra
Filed under Berita
Palangka Raya,
Pertumbuhan anggota yang semakin pesat yang dibarengi dengan semakin luasnya pengembangan wilayah harus menjadi perhatian khususnya mengenai pemahaman akan informasi yang benar dan baik tentang Credit Union (CU). Dengan pemahaman yang benar dan baik akan meningkatkan kualitas dan kuantitas anggota, hal ini disadari betul oleh CU Betang Asi sehingga mengadakan pelatihan bagi pelatih (TOT) Fasilitaor CU Betang Asi.
Kabag Pendidikan dan Pelatihan CU Betang Asi, Sri Wulan saat ditemui di lokasi kegiatan mengatakan bahwa pelatihan ini diikuti oleh 31 orang peserta dari target sebelumnya hanya 25 orang peserta. Peserta selain dari kantor pusat juga diikuti dari kantor pelayanan yang ada di beberapa daerah wilayah pengembangan CU Betang Asi seperti Kuala Kurun, Kapuas, Pujon, Telok, Pulang Pisau dan Talaken.
Masih menurut Sri Wulan dari pelatihan ini diharapkan nantinya akan muncul fasilitator yang handal, memiliki komitmen dalam membangun kesadaran kritis anggota demi tercapinya visi misi Credit Union Betang Asi.
TOT Fasilitator CU Betang Asi dilaksanakan pada tanggal 19 – 21 Juli 2011 bertempat di Wisma Soverdi Jl. Tjilik Riwut Km.5,5 Palangka Raya . sebagai fasilitator pelatihan ini adalah Antonius Anyu dari Kalimantan Barat.
Anyu sapaan akrab bagi fasilitator dan juga pendamping pada awal pengembangan CU Betang Asi mengatakan, “agar para fasilitator dalam memfasilitasi harus berpedoman pada standar materi dan tujuan yang telah di tetapkan organisasi, namun sebagai fasilitator yang ideal harus memperkaya diri dengan berbagai metode presentasi sehingga hasil yang maksimal dapat diterima oleh para peserta.”
Ditambahkan pula, “bahwa tidak ada standar presentasi bagi para fasilitator, keberagaman metode merupakan upaya fasilitator mempermudah pemahaman yang di terima oleh peserta pendidikan, oleh sebab itu cara-cara memotivasi, dan keahlian bidang pemasaran adalah pengetahuan dan kemampuan para fasilitator yang utama.”
ETHOS H.L: “Modal Spritual Sangat Penting!”
April 25, 2011 by rokhmondonasis
Filed under Berita, Info Credit Union
Setelah kita membaca puisi dari Sepmi dan renungan kitab suci dari Pendeta Rugas Binti, kali ini kami mengajak Anda untuk melihat refleksi berupa sambutan yang disampaikan oleh GM CU Betang Asi Palangka Raya dalam rangka HUT CU Betang Asi ke-8 bulan lalu.
Ethos H. Lidin, SE menyampaikan bahwa, ada beberapa modal untuk membuat CU Betang Asi tetap esksis. Salah satunya adalah modal spiritual. Menurut ethos modal ini sangat penting untuk menjaga komitmen sehingga menjadi orang yang dapat dipercaya di lembaganya.
Berikut salinan kata sambutan yang disampaikan oleh Ethos:
Kita mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa hari ini 8 tahun CU Betang Asi. Delapan tahun kita menjalaninya tentunya dengan ucapan syukur kepada Tuhan yang maha kuasa, tuhan telah memberkati lembaga ini berjalan diawali dengan ketiadaan seperti yang diungkapkan Pak Mecer pada saat itu, “Jangan kita berpikir apa yang harus ada, tapi mari kita mulai dengan apa yang ada”.
Ini sudah menjadi semangat bagi kita bahwa kita sudah memulai dari apa yang ada sehingga CU Betang Asi dalam 8 tahun perjalanannya sudah cukup dikenal, diakui keberadaannya.
Kita mengucap syukur juga 8 tahun ini kita lalui dengan modal-modal semangat, tentunya yang terukur tidak spekulan, kita membangunnya mulai dengan bisnis plan dan sebagainya sehingga kita menghasilkan suatu lembaga yang luar biasa ini.
Tentunya modal yang berikutnya dengan segala keahlian yang kita miliki, untuk mengelola sebuah lembaga keuangan seperti CU modal semangat tidak cukup, tapi keahlian, ini wajib.
Lalu, modal berikutnya adalah adalah pengetahuan. Pengetahuan kita tentang teknik CU, pengetahuan kita tentang pesaing, pengetahuan kita tentang lembaga keuangan lain, bagaimana caranya mereka bisa berkembang, dan itu dibangun dari dalam diri.
Modal berikutnya adalah komitmen, 8 tahun bagi kawan-kawan yang sudah mengabdikan dirinya berkomitmen terhadap perkembangan CU ini, baik kawan manajemen, khususnya dan Bapak/ Ibu pengurus yang sudah berkomitmen. Terutama bagi Bapak/ Ibu , bapak-bapak pengawas yang sudah luar biasa selalu mengingatkan kita, artinya prudent manajemen/ manajemen kehati-hatian harus kita lakukan supaya lembaga ini sesuai dengan visinya. Apa yang dikatakan oleh pak Pendeta tadi, visi ini memandu kita untuk terus komitmen dan kuat.
Modal berikutnya adalah integritas, dari pengelola, orang-orang yang layak dipercaya. Untuk kita ketahui bahwa di usia yang ke-8 ini asset CU Betang Asi sudah mencapai 257 M per 28 Pebruari 2011, dengan anggota 19.479 orang.
19 ribu orang mempercayakan uangnya menabungkan uangnya di CU bukan dengan segala kelebihannya tapi dengan segala kekurangannya untuk menyisihkan uang. Maka, saya harap kawan-kawan manajemen menjaga integritas dirinya sebagai orang yang layak dipercaya untuk mengembangkan lembaga ini. Banyak soal-soal lain yang harus kita hadapi, resiko dan sebagainya tapi itu adalah bagian dari perjalanan lembaga ini. Integritas ini tetap di jaga.
Lalu modal yang berikutnya yang terakhir dan sangat penting adalah spritualitas. Itu seperti yang kita lakukan dan itu menjadi budaya kerja CU Betang Asi. Bahwa di setiap mengawali kegiatan sehari-hari itu harus melakukan doa bersama, itu bagian dari budayanya. Ada nyanyi bersama dulu, satu lagu baru kita berdoa. Spritualiatas itu adalah untuk menjaga komitmen, menjadi orang yang dipercaya lembaganya.
Bapak/ Ibu, rekan-rekan staf yang saya hormati dengan berkembangnya CU ada satu kekuatiran yang sangat mendalam bagi saya, yaitu begitu lembaga ini berkembang akhirnya lembaga ini menjadi sok membantu dan itu sudah muncul banyak.
Banyak organisasi-organisasi yang dalam melaksanakan kegiatannya meminta sumbangan dan sebagainya kepada kita. Sebenarnya, kita bangun pemberdayaan itu sendiri, kalau kita bantu terus ini akan merusak nilai-nilai swadaya. Jadi setiap hari pasti ada muncul proposal untuk kita, ini menjadi kekuatiran bagi saya. Kita merusak jiwa-jiwa swadaya yang kita buat karena kita sok besar, sok menjadi hebat.
Tapi, itu tidak mengapa, karena memang orang mengajukannya tapi kita pilah-pilah juga kalau itu berguna dan itu tidak banyak kita akan bantu hanya 500 ribu. Ada orang bilang, aneh juga kok asset cu 200an miliar kok bantunya 500 ribu. Bukan kemampuan, tapi inilah nilai solidaritas dan swadaya bisa kita bantu 500 ribu. Tapi mudah-mudahan keswadayaan masyarakat Kalteng khususnya tetap terjaga.
Ke depan CU menjadi besar juga ada konflik interest ini juga yang harus kita jaga, tentu untuk membangun CU ini perlu modal yang saya sebutkan tadi menjadi dasar. Tidak masalah siapa yang menjadi pengurus, siapa yang menjadi general manejer di manajemen karena tadi modal utama, pondasi di samping pengetahuan-pengetahuan lain yang berkembang dan harus kita pelajari.
Hanya itu yang dapat saya sampaikan atas nama manajemen CU Betang Asi kami ucapkan, selamat ulang tahun CU Betang Asi yang ke-8. Diusia yang ke delapan ini ungkapan visi kita yang menjadi terbesar sudah terwujud artinya dari 4 CU yang ada di Kalimantan Tengah bisa menjadi yang terbesar bagi anggota dan asset, 8 tahun kita untuk mewujudkan visi kita, dan 8 tahun kita sudah menjadi CU yang nomor 3 terbesar dari sisi asset di BKCU Kalimantan, ini patut kita syukuri bahwa kita sudah diperhitungkan keberadaaan kita.
Slamat ulang tahun, terus komitmen membangun lembaga ini pada kawan-kawan manajemen semoga Tuhan memberkati usaha dan pekerjaan kita, sekian dan terima kasih.
Pelayanan Firman pada HUT CUBESI ke-8
April 18, 2011 by rokhmondonasis
Filed under Berita
Pada minggu lalu kita membaca puisi yang disampaikan oleh Sepmiwawalma pada tanggal 26 Maret 2011 di aula Soverdi yang terletak di kilometer 5,5 jalan Cilik Riwut Palangka Raya. Pada tahap kedua ini kami sampaikan khotbah dari Pendeta Rugas Binti dalam rangka HUT CU BESI ke-8.
Pelayanan firman diambil dari 2 Korintus 8:1-15 dan salah satu kalimat yang berkesan dari Pendeta Rugas adalah “Negara memelihara orang-orang miskin, kita adalah warga negara, mungkin kita miskin, tetapi kita bisa membantu lewat Credit Union”. Berikut salinannya:
Gereja Kristen Protestan Bali punya satu motto yang bagus mereka katakan “Kita harus menjadi kaya, supaya bisa menolong orang miskin”. Ini menarik dan tidak hanya diucapkan tetapi dilakukan dengan bersungguh-sungguh.
Demikianlah kita kenal GKPB atau Gereja Kristen Protestan Bali, sebagai salah satu gereja di Indonesia yang sangat giat dalam upaya-upaya pembangunan ekonomi mensejahterakan warganya dan masyarakat di sekitarnya, melalui usaha-usaha perhotelan, Bank Perkreditan Rakyat, sentra-sentra kerajinan rakyat yang ditampung dan dijual bersama. Bahkan tidak aneh bagi mereka, ada dari pengurus sinode yang punya usaha sendiri disamping usaha-usaha dari gereja.
Kita bisa bertanya saudara-saudara benarkan begitu, kita hanya bisa menolong orang miskin kalau kita sudah kaya?. Jawabannya bisa iya, bisa tidak, tergantung kita. Iya dalam arti hitungan matematisnya begitu. Kalau ada bencana alam kita banyak sumber-sumber untuk membantu pasti betul kita menolong orang yang tertindas dengan kelebihan kita, tetapi pertanyaan kita lebih jauh benarkah sebagai orang Kristen hanya itu yang kita tahu?, adakah yang lebih baik dari ini?
Saudara-saudara paling tidak ada dua hal yang mau saya tanyakan, yang pertama bahwa kalau kita ingin menjadi kaya, persoalan kita adalah, kita tidak tahu batasnya. Suatu ketika kekayaan yang kita anggap kaya mungkin menjadi tidak cukup lagi, kita menjadi lebih kaya lagi, ingin lebih, ingin menambah tidak ada batasnya.
Karl Max mengatakan, “Gereja Mendoakan Jiwa Orang Masuk Surga Tetapi Kakinya Berpijak Di Bumi Dengan Perut Kelaparan”. Gereja melupakan misi utamanya melayani, mengasihi orang-orang yang memerlukan pertolongan.
Yang kedua, saya mengkritisi juga dari segi timingnya. Artinya, kita tidak bisa menunggu-nunggu kapan kita bisa membantu orang. Nanti kalau saya sudah cukup sumber daya yang sudah saya miliki, baru saya membantu.
Alkitab yang baru kita baca tadi saudara-saudara dengan tegas mengatakan meskipun kamu miskin, tapi kamu kaya dalam kemurahan. Sumbernya tidak lain, dalam ayat Alkitab dikatakan, “Ini Semua Semata-Mata Karena Kasih Karunia Allah Dianugrahkan Kepada Kamu”.
Jadi, sebenarnya saya ingin memperkenalkan suatu pemahaman yang baru kepada kita secara Alkitab ini, bukan karangan saya. Sebenarnya tidak ada orang Kristen itu yang miskin, tidak ada orang Kristen yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus itu miskin.
Mengapa?, karena Allah itu kaya dengan kasih karunia, dengan berkat, dengan pengasihan. DIA yang kaya begitu mau mengosongkan dirinya menjadi miskin, sama seperti kita untuk memperkaya kita saudara-saudara. Jadi dalam satu buku yang pernah saya baca katanya, definisi miskin adalah orang itu tidak punya apa-apa untuk dibagikan. Miskin berarti orang itu tidak punya apa-apa untuk dibagikan.
Jangan hanya kita pikir ekonomi saudara-saudara ini hanya salah satu saja dan Alkitab juga tidak mengatakan ini yang terpenting. Yesus katakan manusia bukan hidup dari roti saja tapi, dari tiap firman dari mulut Allah.
Kebahagiaan yang sejati, rasa aman, tentram damai, menikmati kehidupan dengan rasa syukur itu kekayaan yang luar biasa semata-mata karena anugrah Allah kepada kita yang telah diperkenalkannya melalui pelayanan, melalui kasih yang diperlihatkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus di dunia ini.
Jadi, Ibu/ Bapak sekalian, saudara yang berbahagia sore ini. Jemaat yang dibacakan dalam nast tadi (di Makedonia) adalah jemaat yang biasa-biasa saja. Di bawahnya ada jemaat-jemaat kaya, seperti Korintus, di atasnya ada Filipi, Efesus, kebanyakan mereka adalah orang-orang bawahan, kelas buruh, pekerja kasar. Sangat sedikit mereka berpangkat, seorang yang kaya kebanyakan sekali mereka adalah orang-orang kelas bawah.
Tetapi, dalam nast kita, dilanjutkan pada pasal 9, mereka tergerak hatinya melalui pelayanan Paulus untuk berbagi dengan saudara-saudaranya yang seiman pada waktu itu yang menderita kelaparan. Mereka menjadi miskin karena satu hal, saya menjelaskannya secara singkat.
Miskin bukan karena tidak punya modal, tetapi mereka pada waktu itu berharap Tuhan Yesus akan datang tidak lama lagi. Mereka mengharapkan Tuhan datang pada waktu sebagian mereka masih hidup, Tuhan akan segera datang kembali. Karena itulah dalam Kisah Para Rasul dalam kehidupan jemaat mula-mula dikatakan mereka menjual apa yang mereka miliki, lalu membaginya bersama, menikmatinya bersama tugas mereka bukan hanya mencari kekayaan tetapi yang terutama adalah menyiapkan diri. Mereka juga bersekutu, beribadah, berdoa, mengadakan perjamuan kasih. Mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan.
Nah, lama-lamakan jual terus harta benda tidak ada modal lagi habis, lalu mereka menjadi miskin. Ketika memang ada bahaya kelaparan mereka tidak punya apa-apa mereka perlu bantuan dan Paulus berkeliling mencari bantuan untuk menolong saudara-saudaranya yang miskin. Mereka orang-orang biasa, tetapi mau berbagi ini satu hal yang luar biasa.
Jadi, dipatahkanlah motto yang tadi “Kita Harus Menjadi Kaya Untuk Menolong Orang Miskin”. Sesama orang miskin bisa membantu, sebab apa?. Sumber daya terbataspun bisa dibagikan. Hanya orang yang tidak punya keyakinan tidak tahu dan bersyukur sebab Tuhan sudah memberikan segala-segalanya dan tidak mau berbagi kepada sesamanya. Jadi, mereka berbagi dalam kekurangannya untuk memperkaya saudara-saudara yang lain yang menderita kelaparan.
Dalam nast kita ada satu kata yang bagus dalam rangka kita merayakan ulang tahun yang kedelapan. Kalau kita mengingat angka 8 ini. Ini bukan sekedar angka hoki. Angka keberuntungan, saya harap kita tidak percaya akan hal-hal mistik seperti itu tidak otomatis kalau sudah angka 8 pasti beruntung, tetapi dari nalar yang sederhana saja.
Coba kita masing-masing menggambarkan angka 8 mulainya dari sini, mutar ke bawah, kembali lagi dia. Bolak balik seperti lingkaran tidak ada ujung tidak tahu awalnya. Itu namanya infinite number, angka yang tidak terbatas, karena dia tidak putus, nyambung terus kemana saja kita mulai angka delapan pasti ketemu bolak balik.
Ketika saya berkunjung ke India baru-baru ini, saya beruntung dan bersyukur bisa melihat bangunan yang megah keajaiban dunia Tāj Mahal, ada kubahnya yang megah di bawahnya ada Makam Mughal Shāh Jahāndengan istrinya Tāj Mahal.
Itu hanya replikanya, tapi yang aslinya ada di bawah. Yang menarik di atasnya dekat kubah, ada jendela atau pintu yang jumlahnya delapan. Saya iseng tanya dengan guide kami, mengapa ada delapan? Dijawabnya itu adalah pintu surga, dengan 8 bagian. Benar juga saya pikir-pikir dengan angka 8 infinite number, jumlah tak terbatas. Dalam alkitab itu alpha dan omega menyatu di angka 8, awal dan akhir ada di sana, surga, yang ilahi, angka 8.
Jadi, sore ini saya mengajak kita mengingat angka 8 sebagai momentum untuk maju ke depan saya bersemangat untuk dalam acara ini meskipun masih cape tapi saya mau, karena saya melihat Credit Union tidak sekedar koperasi biasa tapi koperasi yang punya misi yang besar dan tidak terbatas yang saya kira bisa melampaui ruang dan waktu karena rohnya adalah yang tadi saya bacakan.
Kita menjungkirbalikkan pemikiran-pemikiran yang logis secara ekonomis yang masih banyak orang percaya, tapi justru itu menyengsarakan kita. Kita mau bangun, kita punya modal, kita berutang dengan luar negeri. Negara ini tambah banyak hutangnya. Di jaman ini utangnya berlipat-lipat.
Orang masih percaya bahwa untuk membangun itu perlu modal. Tetapi kita lupa bahwa kita bisa sesama orang miskin menolong orang miskin. Kalau kita punya tekad, punya kemauan, punya visi ke depan, kalau Tuhan memberkati, Tuhan akan menolong kita dan kita berhasil.
Tokoh pendiri CU ini saya yakin orang Kristen juga, Raiffesen melakukan itu dalam masyarakat Jerman yang habis kalah perang saat ia membangun. Banyak kesulitan-kesulitan mereka tapi mereka bisa, semangat dan jiwa ini ditularkan untuk kita hidupkan di sini.
Kalau kita banding ke India tadi, saya belajar dari sisi ekonomi. India tidak banyak punya hutang tapi banyak memberi utang kepada orang, mereka tidak meminjam, tapi mereka menjual. Ketika saya datang pesimis saya, konotasinya India negara miskin dengan penduduk yang banyak 1,2 milyar. Tapi, ketika sampai di sana kesan itu terhapus memang ada kumuh-kumuhnya masih banyak tapi jalan dan infrastukturnya bagus luar biasa.
Di jalan tol tidak ada hak eksklusif orang-orang kaya di jalan semuanya ada di jalan tol, yang namanya gerobak yang ditarik sapi membawa hasil ladang bahkan muatannya melewati lebar dan panjang gerobak. Ada yang ditarik unta, ada traktor yang menarik gerobak ditariknya bareng-bareng, menarik bahan-bahan bangunan. Ada yang naik sepeda, naik bajaj. Orang India sangat efisien memanfaatkan segala-segalanya.
Bajaj di tempat kita mugkin hanya diisi 3-4 paling banyak, di sana (India) bisa sampai 8. Jadi di dekat supirnya itu ada 3 orang bergantung, dan itu bisa di jalan tol. Ini menarik, negara maju di India dengan tingkat pertumbuhan ekonomi 12% per tahun pada tahun 2010, dan 5 tahun ke depan mereka akan targetkan sampai 20%.
Mereka mengekspor banyak hal, obat-obatan, peralatan-peralatan kedokteran yang canggih. Negara-negara Barat membeli obat, alat-alat dari mereka kedokteran yang maju mereka bisa memproduksi dan mengirimnya. Mereka beli pesawatpesawat modern dari Rusia, tetapi dengan perjanjian setelah 5 tahun mereka bisa bangun pabriknya di India, mula-mula suku cadang lalu mereka bisa bangun sendiri. Saudara-saudara inilah negara yang percaya pada kekuatan sendiri.
Kemudian, orang miskin diperhatikan. Ini menarik. Saya ingin baca di UUD kita secara harafiah hukumnya betul, pada pasal 34, “Fakir Miskin Dan Anak-Anak Terlantar Dipelihara Oleh Negara”. Ini secara hukum dan dasar konstitusi benar. Tapi, prakteknya bagaimana? Ini jauh sekali dan masih berjuang, kita akan sampai pada tugas atau tantangan pada CU.
Karena jangan hanya kita pikir, kita hanya menyalahkan negara. Kalau di Kalimantan Selatan, orang Amuntai/ Alabio senang karena memelihara orang miskin orang negara saja. kita boleh tertawa, tapi kita semua menjadi bagian dari UUD ini karena kita adalah warga negara.
Kita punya tanggung jawab juga membantu negara sebagai warga negara membantu memelihara orang-orang miskin. Memelihara dalam artian apa?, tergantung terjemahan dan tafsiran kita. Di India memperhatikan orang-orang miskin ini satu hal yang bagus dan mulia.
Rumah sakit mereka, fasilitasnya modern sekali, orang-orang miskin di tempat kita (Indonesia) dapat JAMKESMAS/ JAMKESDA tidak ada bedanya dengan orang-orang yang penghasilannya milyaran rupiah, boleh memanfaatkan fasilitas kalau diperlukan dan harus dilayani oleh rumah sakit. Jadi di kelas VIP itu, orang miskin juga masuk kalau diperlukan perawatannya dan alat-alatnya tidak ada bedanya dengan orang-orang kaya, boleh, dijamin oleh negara, tanpa membayar. Kalau ada rumah sakit yang menolak pejabatnya akan dicatat dan dipidanakan bila tidak melayani orang miskin, padahal dia memerlukan perawatan yang alatnya yang ada hanya di situ.
Kemudian, dalam perdagangan, kita harus belajar juga. Barangkali ada teman-teman yang juga menjadi bupati, walikota ini pengalaman dari India. Mereka di sana membangun mall atau supermarket itu tidak di dalam kota tapi di pinggir kota jaraknya 30-40 km di luar kota.
Saya sangat senang, ini luar biasa, saya memuji kebijakan ini karena apa?, kota New Delhi yang luas itu kotanya itu banyak sekali pasar-pasar kumuh, bebas perdagangannya. Ekonomi rakyatnya hidup menggeliat setiap hari. Mereka tidak mengeluh karena ada tempat usahanya.
Negara industri maju seperti India pertaniannya masih hidup. Pertaniannya maju dipertahankan oleh negara ekonomi tradisional di pasar-pasar di pertahankan tidak diusir mereka. Mall-mall boleh bagi orang kaya, yang jumlah orang kaya juga tidak sedikit. Dari 1,2M penduduk India, 300 jutanya itu orang menengah ke atas, 25%.
Saudara-saudara saya tidak ingin kita mengkhayal tentang India, tetapi menarik untuk kita kaji. Seperti yang dikatakan oleh Alkitab tadi, kita harus punya visi, punya kemauan. Meskipun kita miskin tapi kita bisa dengan kemurahan menolong orang lain. Kita bisa berdikari.
Saya melihat perkembangan CU selama ini sudah melakukan hal-hal seperti ini, kita adalah kalau disebut koperasi orang miskin dari uang kita sendiri, modal kita sendiri untuk menolong saudara-saudara kita yang miskin.
Ketika saya membahas UU perguruan tinggi rektor Trisakti mengakui dan menyinggung CU di Kalimantan berkembang dengan bagus dan dia memuji dan mempelajarinya. Dia ingin memperkenalkan dan mendukung dalam perguruan tinggi jangan sampai orang hanya melihat perguruan tinggi hanya tempat untuk mengejar ilmu pengetahuan tetapi tidak tahu mengembangkan ilmu pengetahuan dalam praktek kehidupannya, tidak bisa berwiraswasta.
Kelompok Ciputra memperkenalkan kewirausahaan ini sejak dini. Kita latih anak-anak kita meskipun tidak pendidikan tinggi tetapi dia pintar cari uang, berkarya, memilih pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Bukan mencari pekerjaan tapi menciptakan lapangan kerja. Ini yang mau kita kembangkan dan saya berharap Credit Union menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan upaya-upaya semacam ini.
Siapa yang nonton Kick Andy tadi malam?, ada cerita seorang kepala desa di Jawa Barat, dengan penduduk desa sekitar 2.900. Dia melihat kemiskinan di desanya, banyak rumah kumuh sebagai orang miskin. Dia memulainya dengan satu komitmen mengajak warga desanya melaksanakan program mengumpulkan 100o rupiah per hari entah melalui celengan di rumah atau di tempat celengan umum sambil mendata dan mencatat.
Setiap bulan terkumpul 4-8 juta dan setiap bulan ada rumah-rumah orang miskin yang dibangun dengan kumpulan uang 1000 rupiah. Selama 2 tahun lebih mereka sudah membangun 70 buah lebih rumah-rumah dan dia (kepala desa) bertekad sampai akhir periodenya 2014 masih ada seratusan lebih rumah dan ini sudah ada daftar tunggunya, diseleksi serta studi kelayakan. B enar-benar dilihat layak tidak dibangun ini benar-benar miskin tidak?.
Saudara-saudara ini tontonan yang bagus dan tidak kebetulan Andy F. Noya mendapat award sebagai presenter terfavorit yang disukai banyak orang yang ditunggu-tunggu kalau dia hadir. Karena ia memberi inspirasi kepada kita untuk menghadapi kesulitan dengan segala kelemahan dan kekurangan. Di dalam nast kita tadi sudah kita bacakan“Meskipun Kamu Sangat Miskin Tetapi Kamu Kaya Dalam Kemurahan” terbuka untuk menolong orang lain mempercaya orang lain.
Saya harap melalui perayaan HUT CU ke-8, malam ini kita semakin dekat dengan Tuhan yang kaya dengan anugerah, dengan kemurahan dan jiwa kita semakin maju ke depan agar CU ini semakin besar. Saya bisa bayangkan CU ini semakin besar, jangan sampai CU ini menjadi lahan perebutan bagi berbagai kepentingan, ingat sejarahnya credit union.
Baru-baru ini kami di DPD ikut menyelesaikan 1 sengketa perguruan tinggi di Sulawesi, yang juga menjadi besar dan terjadi kelahi antar pemiliknya orang-orang di yayasan ada saudara yang sepupu, saudara kandung karena rebutan kekuasaan. Ketika sudah menjadi besar akan muncul godaan untuk memperebutkan kekuasaan karena di sana ada uang yang banyak.
Saya berharap ini tidak terjadi dengan Credit Union tetapi kita wanta-wanti dulu. Credit Union ini besar bisa jadi, ada pertikaian, sengketa merebut kekuasaan. Kalau ini terjadi, kita lupakan itu, kita mulai dari orang miskin bisa menolong orang miskin jangan sampai kita lupa diri lalu kita ingin kaya sekaya-kayanya dan menindas orang miskin.
Saya berharap ke depan saya akan datang ke kota ini untuk melakukan riset, saya mencari waktu agar ada talk show di TVRI untuk memperkenalkan visi dan misi dari CU ini. Tantangan ke depan yang saya tahu salah satunya yang pernah Pak Amu ungkapkan kepada saya, Undang-Undang koperasi yang sedang digodok DPRRI, jangan-jangan kita nanti akan dikenakan pajak yang cukup besar.
Tapi, intinya saya sangat senang dengan ulang tahun ini. Ingat angka 8 tadi ini angka ilahi, angka yang tidak terbatas, angka surga. Mari kita dekatkan diri dengan Tuhan, kita jaga komitmen kita, kita teruskan perjuangan kita, kita menolong orang banyak yang memerlukan pertolongan kita.
Walaupun kita banyak modal, banyak anggota, jangan kita kita lihat itu. Kekayaan itu dibuktikan dengan kesediaan kita berbagi menolong orang. Jadi jangan mengukur kekayaan dengan berapa yang kita peroleh, namun berapa yang kita bagikan untuk menolong orang dalam substansial bukan sekedar basa-basi.
Majulah Credit Union, tambah usia, tambah komitmen, tambah banyak yang kita kerjakan. Seperti dalam UUD kita menjadi bagian dari amanat UUD. Negara memelihara orang-orang miskin, kita adalah warga negara, mungkin kita miskin, tetapi kita bisa membantu lewat Credit Union, Amin.
Sumber berita: transkrip pelayanan firman Pendeta Rugas Binti.
Sumber foto: Rokhmond Onasis
PANITIA RAT KP DAN KONSOLIDASI TERBENTUK
November 18, 2010 by Andreas Saputra
Filed under Berita
Palangka Raya,
Sebagai perwujudan amanah yang tertuang dalam Anggaran Dasar CU Betang Asi Bab VI Pasal 13 ayat 2 yang berbunyi “Rapat Anggota diadakan sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun.” Maka Dewan Pengurus CU Betang Asi yang dihadiri langsung oleh sekretaris, Ambu Naptamis Hanyi, SH dan ketua, Dr. Amu Lanu A.Lingu, SE, MSi membentuk Panitia Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kantor Pusat dan RAT Konsolidasi pada Senin, 15 Nopember 2010 di Aula CU Betang Asi Lt.2 Jl. Tjilik Riwut Km. 1, Palangka Raya.
Adapun susunan kapanitiaan inti adalah Sri Wulan (ketua), Litra (sekretaris) dan Yahya (Bendahara), panitia Inti akan dibantu oleh Seksi-seksi yaitu Y. Changking (Sie Acara), Yepta D (Sie. Sekretariat), Esti V. Kasih (Sie.Konsumsi), Jhonson (Keamanan) dan Andreas H. Saputra (Sie.Pubdekdok).
Panitia akan bekerja dalam mempersiapkan segala kebutuhan pada RAT Kantor Pusat yang akan diselenggarakan pada 22 Januari 2011 dan RAT Konsolidasi pada 29 Januari 2011.
Jembatan Penghubung Empat Kabupaten Kalimantan Tengah Rampung 2010
Tahun depan jalan menuju wilayah Barito Timur, Selatan, Utara dan Murung Raya semakin lancar, akankan ini membawa kesejahteraan bagi masyarakat Dayak, atau malah semakin tertinggal jauh di belakang.
CU Betang Asi dan CU Sumber Rejeki harus dapat membuka akses lebih luas bagi anggotanya dengan dibukanya jalur ini, seperti yang dikutip di bawah ini:
TEMPO Interaktif, Palangkaraya – Dua jembatan yang menghubungkan empat kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah yaitu Jembatan Timpah di Kabupaten Kapuas dan Jembatan Kalahien di Kabupaten Barito Selatan, pengerjaannya ditargetkan tuntas awal 2010.
Bila kedua jembatan penghubung ini tuntas, penduduk yang akan bepergian dari Palangkaraya ke empat kabupaten di wilayah barat yaitu Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara, dan Murung Raya, tidak lagi harus memutar melewati Provinsi Kalimantan Selatan yang waktu tempuhnya lebih lama, sekitar 13 jam.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalimantan Tengah Ben Brahim kepada waratawan di Palangkaraya, Minggu (6/12), menjelaskan Jembatan Timpah yang beberapa waktu lalu ambruk saat penyelesain pekerjaaan tahap akhir, sekarang ini rangka bajanya mulai dipasang kembali dan awal 2010 pengerjaannya diperkirakan selesai.
Jembatan Timpah sepanjang 253 meter berada di Kecamatan Timpah, Kabupaten Kapuas pada April lalu ambruk saat masih dikerjakan. Seharusnya proyek itu tuntas pada pertengahan Agustus 2009.
Jembatan yang membentang di Sungai Kapuas tersebut mulai dibangun pada 2007 dengan kontrak sistem tahun jamak senilai Rp 58,5 miliar, terdiri dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2007 senilai Rp 28 miliar, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2008 senilai Rp 21 miliar, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2009 senilai Rp 9,5 miliar.
Menurut Ben, untuk Jembatan Kalahien di Kabupaten Barito Selatan saat ini juga terus dikerjakan dan akan tuntas pada April 2010.
“Kedua jembatan yang tengah kita garap pembangunannya ini berada di ruas Jalan Palangkaraya-Kabupaten Barito Selatan dan merupakan jalan nasional. Mengingat ruas jalan ini sangat strategis bagi Kalteng, maka saat sedang kita usul statusnya berubah menjadi jalan negara (nasional),” ujar Ben
Jalan provinsi yang menghubungkan Palangkaraya dengan Kabupaten Barito Selatan panjangnya mencapai 197 kilometer. Ada empat jembatan besar yang melintas di atasnya.
Selain kedua jembatan yang saat ini sedang dikerjakan tersebut, dua jembatan lainnya yaitu Jembatan Mengkutup (140 meter) dan jembatan Murui (180 meter) dengan total biaya pembuatnnya mencapai Rp 40 miliar yang dananya diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kalimantan Tengah (77,5 persen) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (22,5%)
KARANA WW
Tabungan Hari Raya
December 16, 2009 by Andreas Saputra
Filed under Berita
CU Betang Asi, Hari Natal akan tiba, hari lahirnya Yesus Kristus tentunya disambut dengan kegembiraan dan suka ria oleh para umat Nasrani. Persiapan dalam menyambut Natalpun sudah dilakukan jauh-jauh hari misalnya membeli baju baru, membeli makan dan minum atau membeli bingkisan Natal untuk diberikan kepada orang-orang yang dikasihi.
Keinginan untuk merayakan dan memeriahkan hari raya baik bagi umat nasrani, muslim atau umat agama lainnya tentu diinginkan setiap orang namun bagaimana setiap orang dalam mempersiapkannya?
Salah satu persiapan yang dilakukan adalah persiapan biaya. Bagi orang-orang yang memiliki kesempatan bekerja baik di negeri atau sebagai karyawan swasta sedikit banyak terbantu dengan adanya Tunjangan Hari Raya (THR) dari tempat dimana dia bekerja, namun bagaimana dengan orang-orang yang tidak mendapat kesempatan bekerja di instansi/perusahaan tertentu seperti orang-orang yang bekerja sebagai petani, penyadap karet, tukang, buruh bangunan dan lainnya ?
CU Betang Asi salah satu lembaga keuangan masyarakat Dayak yang ada dan berkembang pesat di Kalimantan Tengah melihat ini menjadi sebuah perhatian khusus dalam konteks pemberdayaan. Isue ini di kongkritkan dengan membuat sebuah produk tabungan yang dinamakan dengan Tabungan Hari Raya (THR)-Poljak Tahun Buku 2009.
Penabung THR adalah anggota CU Betang Asi dan masyarakat pada umumnya. Dengan produk tabungan THR ini diharapkan agar Anggota CU Betang Asi khususnya dan masyarakat pada umumnya dapat merencang biaya dalam persiapannya menyambut dan merayakan hari raya.
Ketentuan dalam Tabungan Hari Raya adalah sebagai berikut :
(Poljak Tahun Buku 2009)
1. Penabung dapat memilih besar nilai tabungan, yaitu :
a. Rp. 50.000,-(lima puluh ribu rupiah) per bulan.
b. Rp. 75.000,-(tujuh puluh lima ribu rupiah) per bulan.
c. Rp. 100.000,-(seratus ribu rupiah) per bulan.
d. Rp. 200.000,-(dua ratus ribu rupiah) per bulan.
e. Rp. 500.000,-(lima ratus ribu) per bulan.
2. Besar nilai tabungan yang ditabung sama setiap bulannya.
3. Bunga simpanan 6 % (enam Persen) per tahun.
4. Simpanan yang bisa diambil paling lambat 1 (satu) minggu sebelum hari raya keagamaan dan sudah mengendap minimal 6 (enam) bulan.
5. Apabila pengambilan sebelum mengendap 6 (enam) bulan dikenakan denda 0,2% (nol koma dua persen) dari saldo simpanan.
Semoga produk tabungan ini bisa menjadi salah satu alat terencana dalam mempersiapkan dan merayakan hari raya. (@nd)



