Kardinel : TP. Betang Batarung harus menjadi tulang punggung gerakan CU di Kabupaten Gunung Mas.
November 10, 2011 by yepta
Filed under Opini dan Berita
Kardinel, pria berkulit putih dan berkumi ini adalah aktivis yang tergolong aktiv sejak awal-awal berdirinya CU Betang Asi di Kuala Kurun. Pria kelahiran Petak Bahandang 48 tahun silam ini memiliki pikiran yang visioner, bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup departemen agama dan sekarang ini dipercayakan duduk menjabat sebagai Kepala Departemen Agama di Kabupaten Gunung Mas.
Disamping kesibukan beliua sebagai abdi negara dan sebagai pejabat dilingkungan pemerintahan, Kardinel H. Tiki nama lengkap beliua yang masuk menjadi anggota CU Betang Asi pada tanggal 10 Maret 2006 masih sering menyempatkan diri untuk terlibat aktiv dalam segala kegiatan yang dilaksanakan CU Betang Asi. Pikiran-pikiran visioner beliu sedikit banyak telah membantu aktivis dan manajemen di TP. Betang Batarung dalam melakukan pengembangan gerakan ekonomi rakyat di wilayah kabupaten Gunung Mas.
“TP. Betang Batarung harus menjadi tulang punggung gerakan CU di Kabupaten Gunung Mas” kata Kardinel. Melihat posisi TP. Betang Batarung yang berada di Ibukota Kabupaten Gunung Mas sangatlah diharuskan TP. Betang Batarung menjadi pusat gerakan ekonomi rakyat di Kabupaten Gunung Mas, hal ini dapat dilihat dari perkembangan TP. Betang Batarung sekarang ini serta potensi dan peluang kedepan bahwa masih banyak dan luas wilayah yang bisa dijadikan tempat pengembangan gerakan CU.
Ethos H. Lidin : Tjilik Riwut Baru Kalteng.
October 24, 2011 by yepta
Filed under Opini dan Berita
Masyarakat Kalimantan Tengah pasti semua mengenal siapa itu (almarhum) Tjilik Riwut. Putra Dayak Ngaju ini adalah pendiri sekaligus Gubernur pertama Provinsi Kalteng. Moralitas, kewibawaan dan kepemimpinannya selalu dikenang rakyat Kalteng hingga kini. Ia mampu memberi inspirasi, motivasi masyarakat Dayak di Kalteng khususnya untuk selalu melangkah maju, mengembangkan potensi manusia dan alam di sana.
Salah satu pesan Tjilik Riwut yang dikenal dalam bahasa Dayak Ngaju adalah “ela sampai tempun petak manana sare, tempun kajang bisa puat”. Artinya kira-kira “jangan sampai punya kampung halaman tapi tinggal dipinggiran ; punya tempat berteduh dari hujan, tapi kebasahan”.
Pesan Tjilik Riwut itulah yang membakar semangat salah seorang muda Kalteng bernama Ethos H. Lidin General Manager CU Betang Asi ini menyadari betul bahwa masyarakat adat kini mengalami apa yang yang dipesankan oleh Tjilik Riwut. “Itulah kenyataan yang dihadapi kita sebagai pewaris tanah Borneo ini. Apa yang ditakutkan Pak Tjilik Riwut sudah menyadi kenyataan. Banyak kekayaan kita (tanah, kekayaan alam, emas, batu bara) tapi orang semua yang punya (HPH, PBS, perusahaan tambang),” urai Ethos kepada KR.
Nah, melalui Credit Union Betang Asi, Ethos mengajak masyarakat Dayak di Kalteng khususnya dan masyarakat etnis lain umumnya agar menjadi tuan rumah di tanah tumpah darah sendiri. “Pintu masuk utamnya adalah dengan menjadi anggota Credit Union,” jelasa ayah dari Rian ini.
pria kelahiran Tapin Bini, 16 September 1974 ini menganal CU sejak tahun 2000. Kala itu ia aktif di Lembaga Dayak Panarung. Lembaga itu mendirikan CU Panarung namun tidak berhasil. Namun ia melihat di Kalbar. “Pucuk dicinta ulampun tiba, ada kesempatan ke Pontianak dalam rangka mengikuti Pelatihan HAM untuk Masyarakat Adat yang diselenggarakan oleh Institut Dayakologi tahun 2002, saya sempatkan mengunjungi CU Pancur Kasih dan begitu hebatnya pada waktu itu,” terang alumni S1 Fakultas Ekonomi Universitas Palangka Raya ini.
Tahun 2002 LDP mengundang Matheus Pilin (SegeraK PK) untuk melakukan assessment untuk mendirikan CU di Palangka Raya. Sebagai aktivis LDP ia ikut perencanaan strategis pendiriaan CU Betang Asi yang difasilitasi A.R. Mecer, Munaldus, dan Pilin. “Saya semacam dipaksa Pak Mecer untuk menjadi staf CU Betang Asi. Kala itu tidak ada satu pun yang mau. Saya ditunjuk Pak Mecer dan harus magang ke CU-CU di Pontianak sementera istri hamil anak kami kedua, waktu itu terasa berat benar. Namun dipercaya Pak Mecer adalah beban tanggung jawab. saya buktikan bahwa sa bisa,” kenangnya.
Ketika bergabung ke CU Betang Asi ia sebagai staf kredit dan pemasaran. Lalu diangkat menjadi Kabag. Keuangan dan Akuntansi, kemudian menjadi Kabag. Pendidikan dan Pelatihan. Menurutnya, CU adalah suatu yang baru di Palangka Raya. Sangat berat mengenalkannya kepada seluruh lapisan masyarakat. “Itulah tantangan, yakni CU membuat kita mampu melakukan sesuatu yang dianggap tidak mungkin pada saat itu namun kita mampu. Menjadikan diri lebih baik dari orang lain itu adalah moral dan manfaat dari CU,” tulisnya kepada KR.
Ethos berharap CU adalah dari, oleh, dan untuk anggota maka CU selayaknya menjadi sebuah kekuatan yang sangat luar biasa dalam pemberdayaan ekonomi anggota. Dikuatkan dengan pendidikan dan pelatihan bagi anggota sehingga anggota CU menjadi insa yang kuat dan tahan uji dalam menghadapi kondisi apapun.
Ethos tidak mau menjadi menara gading di CU. Ia sadar bahwa CU adalah alat pemberdayaan. Karena itu ia juga aktif disejumlah lembaga. Yakni ketua sebagai Dewan Daerah Walhi Kalteng, Ketua Divisi Keanggotaan Dekopin Kalteng, Ketua Komisi ekonomi, Koperasi dan UKM KNPI Kalteng, dan Pengurus HIPMI Kalteng.
ditangan Ethos CU Betang Asi terus menanjak. Sejak berdiri 26 Maret 2003 hingga 31 Juli 2011 sudah mempunyai 22.382 orang dengan total aset Rp. 303.224.689.791. Kini CU Besi mempunyai 93 staf, yang tersebar di 15 kantor pelayanan (1 kantor pusat, 6 kantor TP, 8 kantor TPK).
EDI V. PETEBANG
SUMBER : KALIMANTAN REVIEW, OKTOBER 2011
Menunggu atau Mencipta?
October 11, 2011 by rokhmondonasis
Filed under Opini dan Berita
Sekarang wirausaha sedang digalakkan. Kewirausahaan pun tidak lagi menjadi mata kuliah “basa-basi” pada Fakultas Ekonomi, tetapi sudah merembet ke kursus-kursus, seminar-seminar, bahkan ada yang sampai membuat universitasnya segala.
Cepat atau lambat Anda akan melakukan wirausaha. Motivasinya macam-macam. Bisa karena butuh penghasilan tambahan, bisa karena Anda merasa tertantang, bisa juga karena Anda merasa, tak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menjalankan usaha itu kecuali Anda.
Apa pun motivasi Anda, pertama-tama pelajari dulu bidang usaha apa yang ingin Anda terjuni. Untuk mendapatkan ilham, coba sering-sering membuka majalah atau tabloid ekonomi. Ada banyak sekali tulisan yang membahas tentang bidang-bidang usaha yang bisa Anda jalani, mulai dari usaha makanan dan minuman, sembako, sampai peternakan, perikanan, hingga agrobisnis.
Usaha apa yang bagus dan menguntungkan? Safir Senduk dalam Intisari Financial Planning memberi jawab, “Bidang usaha apa yang Anda pilih, tidak selalu menjamin bahwa Anda pasti akan berhasil. Ini karena keberhasilan sebuah usaha sering tergantung pada banyak faktor, dan tidak selalu pada pemilihan bidang usahanya.”
Ada dua tipe orang yang membuka usaha. Pertama, orang yang menunggu datangnya kebutuhan. Sebagai contoh, di Jln. Cihampelas Bandung dulu banyak orang yang tertarik membuka usaha jual beli jins karena melihat kebutuhannya sudah ada. Tipe seperti ini biasanya tidak tertarik membuka usaha jual jins kalau dia tidak melihat apakah sudah ada toko lain yang menjual jins atau belum. Inilah wirausahawan kategori me too product, hanya saja dengan nama yang sedikit berbeda dan harga yang biasanya lebih murah.
Tipe kedua, orang yang membuka usaha dengan cara menciptakan kebutuhan karena dia melihat kebutuhannya belum ada, atau kalau sudah ada tetapi belum dirasa butuh. Misalnya, kesuksesan salah satu merek air mineral pertama di Indonesia. Padahal, dulu air mineral itu dijual lebih mahal daripada bensin. Berhubung si pengusaha air minum itu mau menciptakan kebutuhannya (melalui iklan maupun isu-isu di media massa), maka air mineral itu laris manis dan akhirnya dibuntuti oleh para pengekor.
Sayangnya, kebanyakan orang kita masih berada pada tipe karakter yang pertama. Saran saya, kalau mau jadi wirausahawan, jadilah wirausaha yang berani menciptakan kebutuhan walaupun Anda melihat kebutuhannya belum ada, atau kalaupun kebutuhannya ada tetapi orang belum merasakannya. Bangkitkanlah kebutuhannya. Bila mampu menjadi tipe wirausaha seperti ini, maka – boleh dibilang – Anda sudah menjadi wirausahawan sejati!
author : Agus Surono
Saturday, 23 April 2011 – 02:27 pm
sumber berita: http://intisari-online.com
sumber foto: http://bisnis-jabar.com
Credit Union: Sarana Pembebasan Rakyat Jelata?
September 5, 2011 by rokhmondonasis
Filed under Opini dan Berita
Dalam paradigma lama CU dimengerti sebagai “sekadar alat simpan pinjam uang”. Sedangkan dalam paradigma baru, CU dihayati sebagai “sarana pembebasan rakyat jelata dari segala bentuk pemiskinan dan pembodohan”.
Bagi penulis, memahami CU dalam paradigma baru, baru menjadi keyakinan penuh pada awal tahun 2000, setelah penulis berjumpa dan menyaksikan kembali dan akhirnya menjadi anggota CU yang dirintis dan dikembangkan oleh A.R. Mecer dan kawan-kawan di Kalimantan Barat. Sebelumnya, pada awal tahun 1980-an ketika menjadi teman sejawat dalam karya sosial tokoh-tokoh sosial gereja seperti Pater Corulus Albrecht Karim Arbie, SJ dan Pater A. Kuylaars Kadarman, SJ serta Pater John dijkstra, SJ, CU masih dianggap oleh penulis hanya seperti koperasi simpan pinjam, tak lebih dari usaha bersama (UB). Tidak ada yang salah dengan system credit union yang pada awal tahun 1970-an disemai oleh CUCO, tetapi butuh direvitalisasi, butuh direformasi dan dikontekstualkan pada situasi sosial ekonomi budaya rakyat jelata, khususnya suku-suku Dayak dan masyarakat adat.
Bila mempelajari sejarah CU dari sejak kelahirannya pada tahun 1850-an di Jerman sampai perkembangan kedewasaannya di Kanada, maka kita melihat bahwa CU menjadi alat pembebasan sosial ekonomi budaya rakyat jelata. Bahwa CU mengikuti prinsip koperasi ala Rochdale, Inggris, satu orang satu suara tanpa melihat besar kecilnya saham, itu sendiri adalah gerakan pembebasan dari struktur kapitalisme yang beralaskan hak kepemilka pribadi yang menghalalkan jiwa serakah. Bahwa cu didesain untuk mengangkat harkat kelas masyarakat miskin, baik di perkotaan dengan usaha kerajinan dan dagang kecil (Hermann Schulze-Delitzsch dan Luigi Luzzati) maupun di pedesaan dengan pertanian sedang sampai gurem (Friedrich Wilhelm Raiffeisen dan Leone Wollemborg), itu jelas untuk usaha gerakan pembebasan dari pemiskinan. Bahwa CU di Kanada di tekankan sebagai kumpulan orang daripada sekadar kumpulan uang oleh Alphonse Derjardins dan pengikutnya, itu pertanda CU adalah solusi sosial populis.
Oleh A.R. Mecer dan kawan-kawannya, pada tahun 2006 CU dengan paradigma pembebasan rakyat jelata itu dibakukan sebagai “CU filosofi petani”.
Tiga bulan, dua belas tahun lalu, sebelum pastor Albrecht ditembak mati di Timor Timur oleh kaum milisi, saya masih berkomunikasi intens dengan beliau. Sambil lalu beliau pernah bertanya, mengapa saya kurang tertarik pada CU, kurang progresif sebagai gerakan sosialkah? Dengan amat sopan saya bila, “bukan kurang tertarik, tetapi belum cukup mempelajarinya, saya belum tahu apa yang masih dapat saya sumbangkan”.
Dari A.R. Mecer dan kawan-kawan di Kalimantan Barat, saya telah dibuat tahu apa yang sudah dapat mereka sumbangkan kepada CU. Sayang pada puncak pencapaian kesadaran CU filosofi petani, justru sang tokoh pembaru dengan Badan Koordinasi CU Kalimantan (BKCU-K) yang memanyungi 40 cu di nusantara di tinggalkan oleh sebagian kecil CU kawan-kawan di Kalimantan Barat.
Sebuah kemunduran terjadi: oleh sejumput elit gerakan CU, CU berparadigma “gerakan pembebasan rakyat jelata Dayak” telah ditetapkan pada ancaman menjadi “CU anthek perusahaan asuransi”. Syukur BKCU-K tetap teguh mengemban kepercayaan nusantara, hingga CU sebagai gerakan pembebasan rakyat jelata tetap berlangsung. Semoga kawan-kawan yang meninggalkan kandang lekas sadar akan semboyan “right or wrong is my credit union- sarana pembebasan rakyat jelata”. Koreksi harus dilakukan kedua belah pihak. Kita semua salah, untuk berani mawas diri dan koreksi maju bersama. CU bukan urusan sentiment pribadi, demokrasi membutuhkan kedewasaan berpikir, bersikap dan bertindak. Kata-kata mendiang Albercht mengiang kembali di telinga penulis “tolong Wahono, sukalah meluangkan waktu kapan-kapan longgar memperhatikan CU. Jangan lupa itu gerakan pembebasan rakyat juga (maksudnya tidak hanya bukumu saja).
Sumber: Jejak, 14 Agustus 2011. Halaman 16
TPK Tumbang Sangai Terbakar
August 11, 2011 by rokhmondonasis
Filed under Opini dan Berita
Kantor Tempat pelayanan khusus (TPK) Cu Betang Asi di Tumbang Sangai, kecamatan Antang Kalang, kabupaten Kotawaringin Timur, hangus terkena musibah kebakaran.
TPK yang baru diresmikan pada tanggal 18 Mei 2009 lalu terbakar akibat arus pendek listrik. “Kejadian terjadi pada pukul 11 siang, kata Ethos H.L, via telpon kepada penulis,”. Informasi yang berhasil dikumpulkan oleh penulis, kerugian akibat musibah ini sekitar 1 M. Walaupun demikian, nilai bangunan sekitar 800 juta telah diasuransikan melewati Jasindo.
Menurut Ethos yang berada di lokasi kejadian, pelayanan tetap dilakukan pada hari Rabu (10/8) dengan menyewa salah satu ruangan kelas di SMP PGRI Tumbang Sangai sebagai kantor sementara. “Anggota tetap kami layani dengan fasilitas yang masih bisa kami gunakan,” jelas Ethos.
Musibah ini terjadi pada Selasa (9/8). Seluruh bangunan kantor yang berlantai 2 habis terbakar. Sejumlah uang dan beberapa barang elektronik sempat di selamatkan oleh manajemen yang bekerja saat kejadian.
Menurut Amu Lanu, selaku ketua pengurus CU Betang Asi saat menghubungi penulis, Manajemen akan mencari kantor baru untuk di sewa selama beberapa waktu. “Pelayanan kepada anggota tetap kami perhatikan,” jelas Amu. Dari Sistem pelayanan dan pengamanan menurut Ambu Naptamis selaku sekretaris pengurus CU Betang Asi sudah berjalan jauh lebih baik maka untuk anggota di wilayah TPK Tumbang Sangai tetap terlayani.
Terkait bangunan yang telah terbakar Ethos menjelaskan akan segera dibangun kembali. ““Kantor baru diperkirakan akan kita bangun dilokasi kebakaran sekitar bulan April 2012,” jelas Ethos kepada penulis”.
Sri Wulan selaku Kabag Diklat dan dipercayakan dari kantor pusat untuk memberikan informasi terkait musibah kebakaran menjelaskan untuk 574 anggota di Tumbang Sangai akan tetap dilayani. “Per juli 2011 lalu asset TPK ini sudah mencapai 6,1 M,” jelas Wulan kepada penulis.
Menurut Leani selaku Deputy GM yang berada di Palangka Raya akan memberikan bahan-bahan administrasi untuk pelayanan kepada anggota. “Pagi (10/8) ini akan di segera dikirim formulir untuk anggota, pinjamanan dan bahan-bahan lainnya melewati taksi tujuan Tumbang Sangai yang ada di Palangka Raya,” kata Leani kepada penulis.
Dari informasi yang dikumpulkan penulis, kejadian berawal dari manajemen yang bekerja di lantai-1 terkejut ketika mendengar dari tetangga kantor yang melihat api sudah mulai membesar dari lantai-2. Selanjutnya secara swadaya dibantu oleh tetangga kantor untuk mengeluarkan barang-barang yang dapat di selamatkan dari kobaran api.
Di akhir pembicaraan Ethos menyampaikan, para anggota yang berada di wilayah TPK Tumbang Sangai tetap dilayani secara maksimal.
Penulis: Rokhmond Onasis
Sumber foto: Yohanes Changking
Kalteng Dijajah Investor
August 3, 2011 by yepta
Filed under Opini dan Berita
Sikap kritis terhadap keberadaan para investor di Kalteng dilontarkan oleh Kusni Sulang seorang tokoh masyarakat adat di Kalteng. Putra Kalteng yang pernah lama menetap di Prancis ini menyebutkan wilayah Kalteng sekarang tengah berada di bawah koloni atau jajahan para investor perkebunan dan pertambangan.
“Mestinya lembaga masyarakat adat bisa menjadi lembaga yang independen untuk mengontrol masyarakat. Ini menjadi kendaaan politik, masyarakat adat sudah menjadi tidak independen. Dikatakan tidak independen karena saat ini masyarakat adat sudah termarginalisasi oleh investor, masyarakat adat bisa dengan mudahnya menjual tanah kepada perusahaan tambang dan perkebunan, padahal tanah adalah tempat hidup masyarakat adat dan tidak dapat dipisahkan,” tegasnya saat dialog public ‘Sinkronisasi Hukum Adat dan Hukum Negara” AMAN Kalteng di Aula Soverdi Jalan Tjilik Riwut km 5,5 Sabtu (30/7) lalu.
Dia menyebutkan, saat ini Kalteng menjadi daerah koloni jajahan para investor, lanjutnya, Kalteng hanya sebagai penyedia bahan mentah, banyak perusahan sawit di Kalteng, tapi harga minyak, sayur masih tinggi, begitu juga dengan pertambangan batubara, tetapi masih banyak jalan-jalan yang rusak, “Artinya para investor tidak menyejahterakan masyarakat Kalteng,” ungkapnya.
Sebagai tokoh masyarakat adat AMAN Kalteng Kusni Sulang mengajak masyarakat Kalteng untuk melawan, jika hak-hak masyarakat adat sudah direbut. “Masyarakat adat menyangkut seluruh bidang kehidupan seperti, tanah, hutan, sungai bukan hanya sekedar hukum,” ujarnya.
Senada itu, salah satu tokoh Kalteng Sabran Ahmad menjelaskan hukum adat sudah ada sejak belum adany keperintahan RI. Masyarakat adat saat ini, diatur oleh pemerintah dan ditata oleh agama. Adat dan hukum adat sangat sedikit perbedaannya. Adat merupakan salah satu sikap, etika, dan norma. Sehingga apabila dilanggar sanksinya adalah cacat moral.
Sedangkan hukum adat adalah sebuah peraturan yang menunjukan identitas masyarakat adat yang memiliki cirri khas.
“Lingkungan alam juga mencerminkan identitas masyarakat adat, busana daerah dan obat-obatan tradisional merupakan cirri khas masyarakat adat. Sedangkan hukum adat sebagai identitas, yaitu dengan pendekatan sejarah. Namun, hukum adat masih belum banyak disinkronisasi dengan hukum nasional,” ucapnya.
Hukum selalu berbicara bukti, aturan itu selalu memakai bukti. Sementara aparat penegak hukum tidak pernah diberikan sanksi. Seharusnya disinilah peran dari hukum adat yang akan melindungi masyarakat adat, apabila terjadi pelanggaran hukum. Ketika wilayah komunitas wilahay adat dilanggar, disinilah disinkronkan antara hukum adat dan hukum nasional.
“Untuk terjadi kesetaraan antara hukum adat dan hukum nasional, harus ada rasa nyaman. Tidak ada salah satu dari hukum adat dan hukum nasional yang lebih baik, tetapi semua sama. Sehingga terjadi sinkronisasi di antara keduannya,” kata pengamat hukum dan akademisi Rahmadiansyah Bagan yang juga salah seorang pembicara pada dialog publik “Sinkronisasi Hukum Adat dan Hukum Negara.”
Masyarakat adat, lanjutnya harus bisa menuntut apa saja yang menjadi hak-haknya. Masuknya investor seperti, perkebunan dan pertambangan akan menyebabkan identitas masyarakat adat berubah dikarenakan arus reformasi.
“Mari perkuat diri kita menjadi sebuah sub suku Indonesia, menjadi suku Kalteng yang nantinya akan bicara mengenai hukum nasional dengan memperkuat pranata social kita, hukum kita, dan lembaga adat kita. Dan memberikan pemikiran-pemikiran kita, bahwa orang dayak bisa menyelesaikan hukum sendiri, dan terjadi sinkronisasi dan harmonisasi dengan hukum nasional. Dengan memperkuat landasan sosiologis seperti memperkuat symbol dan aturan-aturan adat, “tambahnya.
SUMBER : KALTENG POS, Selasa 2 Agustus 2011
Investasi Perlu WISDOM
August 1, 2011 by rokhmondonasis
Filed under Opini dan Berita
Saat hampir segalanya menjadi serba mahal lantaran harga BBM yang melambung tinggi, kita mesti cermat menggunakan uang. Setelah semua pos pengeluaran diutak-atik dan dihitung-hitung, rupanya masih ada sisa uang yang jumlahnya lumayan. Apakah uang itu didiamkan saja atau diinvestasikan agar berkembang?
Setelah merenung beberapa saat memahami tulisan-tulisan Roy Sembel dalam buku Reformasi Pembelajaran Ilmu Duit terbitan PT Grahanusa Mediatama, Jakarta, dan Extraordinary Success for Ordinary People terbitan PT Elex Media Komputindo, seperti ada pencerahan. Menurut Sembel, pekerja kantoran tak seharusnya terlena hanya pada pendapatan yang diperolehnya setiap bulan dari kantornya. Sebab, masih ada peluang lain yang masih bisa diraih. Dengan kata lain, masih ada penghasilan lain di luar gaji. Soal gaji kita sekarang cukup atau tidak, itu urusan lain. Pokoknya, bagaimana kita bisa menambah penghasilan.
“Gross Domestic Product (GDP) Indonesia tahun 2005 mencapai Rp 2.500 triliun, sedangkan APBN kita saja hanya Rp 300 – 400 triliun. Ini potensi yang besar,” ucap Sembel. Maksudnya? Penjelasannya secara gampang, nilai belanja orang Indonesia rupanya lebih besar dari anggaran belanja negara. Akibatnya, ada peluang buat sektor swasta atau siapa saja untuk memenuhi kebutuhan belanja mereka!
Wah, meskipun peluangnya terbuka, untuk bikin usaha sekecil apa pun pasti membutuhkan modal. Lantas, dari mana modalnya? Gaji saja mepet. “Ya, kita harus menyediakan dana investasinya dulu. Jangan langsung uang untuk makan kita pakai untuk investasi. Bisa mati konyol kita,” ujar Sembel.
Untuk berinvestasi, ada langkah-langkah yang perlu dijalani. Pertama disiplin menabung. Paling tidak, 10% atau 20% gaji kita sisihkan untuk ditabung. Jika 1 – 2 tahun dana sudah terkumpul, mulailah berhitung. Sembari menabung, kita bisa menimbang-nimbang investasi apa yang bakal kita pilih.
Sembel mengingatkan untuk tidak langsung tergiur pada investasi yang sifatnya instan di depan mata. Sebab, yang instan itu biasanya fatal dan berumur pendek. Ingat kasus ADD FARM? Dalam kasus itu banyak investor tertipu. Alih-alih mendapat untung besar, mereka malah pusing tujuh keliling kehilangan uang puluhan hingga ratusan juta yang semula digunakan untuk investasi peternakan bebek.
Karena itu, perencanaan berinvestasi menjadi penting artinya. Jika sudah ada perencanaan, biasakan mencari tahu dan mencari kesempatan bisnis yang cocok buat kita. Pertimbangkan juga baik-buruknya bisnis yang kita pilih. Ada patokan yang diberikan Sembel. Rumusnya, WISDOM.
W adalah watak. Coba kenali dan kuasai potensi diri dan lingkungan saat ini.
I, ingin. Tentukan tujuan atau masa depan yang kita inginkan.
S, siasat. Kita perlu merancang strategi atau siasat untuk mencapai tujuan itu.
D, didik, tingkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap.
O, otak/otot. Kita melakukan strategi dengan kerja cerdas (otak) dan kerja keras (otot).
M, manajemen, monitor, dan measure. Maksudnya, kita mengelola sumberdaya yang kita punyai, dan setelah berjalan bisnisnya, tetap melakukan monitor pencapaiannya.
Siap berinvestasi?
author : Bimo Wijoseno
Tuesday, 03 May 2011 – 03:27 pm
Sumber: http://intisari-online.com/read/investasi-perlu-wisdom
sumber foto: http://2.bp.blogspot.com
TOT Fasilitator CU Betang Asi
July 24, 2011 by Andreas Saputra
Filed under Berita
Palangka Raya,
Pertumbuhan anggota yang semakin pesat yang dibarengi dengan semakin luasnya pengembangan wilayah harus menjadi perhatian khususnya mengenai pemahaman akan informasi yang benar dan baik tentang Credit Union (CU). Dengan pemahaman yang benar dan baik akan meningkatkan kualitas dan kuantitas anggota, hal ini disadari betul oleh CU Betang Asi sehingga mengadakan pelatihan bagi pelatih (TOT) Fasilitaor CU Betang Asi.
Kabag Pendidikan dan Pelatihan CU Betang Asi, Sri Wulan saat ditemui di lokasi kegiatan mengatakan bahwa pelatihan ini diikuti oleh 31 orang peserta dari target sebelumnya hanya 25 orang peserta. Peserta selain dari kantor pusat juga diikuti dari kantor pelayanan yang ada di beberapa daerah wilayah pengembangan CU Betang Asi seperti Kuala Kurun, Kapuas, Pujon, Telok, Pulang Pisau dan Talaken.
Masih menurut Sri Wulan dari pelatihan ini diharapkan nantinya akan muncul fasilitator yang handal, memiliki komitmen dalam membangun kesadaran kritis anggota demi tercapinya visi misi Credit Union Betang Asi.
TOT Fasilitator CU Betang Asi dilaksanakan pada tanggal 19 – 21 Juli 2011 bertempat di Wisma Soverdi Jl. Tjilik Riwut Km.5,5 Palangka Raya . sebagai fasilitator pelatihan ini adalah Antonius Anyu dari Kalimantan Barat.
Anyu sapaan akrab bagi fasilitator dan juga pendamping pada awal pengembangan CU Betang Asi mengatakan, “agar para fasilitator dalam memfasilitasi harus berpedoman pada standar materi dan tujuan yang telah di tetapkan organisasi, namun sebagai fasilitator yang ideal harus memperkaya diri dengan berbagai metode presentasi sehingga hasil yang maksimal dapat diterima oleh para peserta.”
Ditambahkan pula, “bahwa tidak ada standar presentasi bagi para fasilitator, keberagaman metode merupakan upaya fasilitator mempermudah pemahaman yang di terima oleh peserta pendidikan, oleh sebab itu cara-cara memotivasi, dan keahlian bidang pemasaran adalah pengetahuan dan kemampuan para fasilitator yang utama.”
Pemugaran Betang Sei Pasah Terkendala Kayu Ulin
July 1, 2011 by rokhmondonasis
Filed under Opini dan Berita
PALANGKARAYA–BN: PEMERINTAH Kabupaten Kapuas berencana membuat kawasan Rumah Betang Sei Pasah, di Desa Sei Pasah, Kecamatan Kapuas hilir menjadi objek wisata. Rumah adat yang ada akan dipugar, karena kondisinya sudah sangat tua dan memprihatinkan.
Saat ini, kawasan yang berada di tepi ruas Jalan Trans-Kalimantan itu belum dimanfaatkan secara maksimal. Betang di wilayah ini berupa rumah adat Suku Dayak Ngaju, peninggalan Tumenggung Ambo Jaya-negara, pendiri dan pemimpin daerah ini di masa penjajahan Belanda. Kawasan sekeliling rumah sudah dipagari, tapi pemugaran belum dimulai. Situs ini sudah dikunjungi Bupati Kapuas HM Mawardi dan sejumlah pejabat terkait beberapa waktu yang lalu.
Wakil keluarga besar Binti-Baboe Tumenggung Ambo, Yusak, 32, mempertanyakan ketegasan pemerintah kabupaten. “Sebagai wali amanat dari leluhur, kami mendesak pemkab segera memugar situs ini.” Saat dikonfirmasi, Bupati Kapuas HM Mawardi mengaku masih berketetapan untuk melakukan pemugaran. Hanya saja, rencana itu terkendala karena tidak ada bahan baku kayu ulin.
Lokasi wisata Rumah Betang Sei Pasah direncanakan berdiri di atas lahan seluas tiga hektare. Objek ini berada di tepi Sungai Kapuas Murung dan Jalan Trans-Kalimantan.
Situs ini sangat cocok menjadi lokasi wisata karena tidak jauh dari Kuala Kapuas, ibu kota Kabupaten Kapuas. Lokasinya mudah dijangkau baik lewat darat maupun sungai. (CS/N-2)
Sumber: http://www.borneonews.co.id
Sumber foto: http://mw2.google.com
Perlengkapan Upacara Nahunan
June 22, 2011 by yepta
Filed under Opini dan Berita



