CU Merubah Ekonomi Keluarga

April 11, 2012 by  
Filed under Testimoni

Sebagai Lembaga Keuangan Masyarakat Dayak yang ada di Kalteng, keberadaan Credit Union       (CU) dinilai positif dalam membantu perekonomian masyarakat. Bergabung menjadi anggota Credit Union berarti merubah hidup. Demikian ungkapan Bernadinus Imang warga Telok Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan Kalteng.

Pria 33 tahun dengan Nomor angggota BA. 100.469 di Tempat Pelayanan Batu Lampang Telok ini menambahkan, dengan adanya Credit Union, mampu membantu masyarakat luas terutama masyarakat Dayak yang berada di daerah pedesaan. “Menabung di lembaga Credit Union benar-benar bermanfaat dan menolong diri sendiri dan keluarga kita, sangatlah berbeda dengan lembaga keuangan lainnya,” ujar Imang sapaan akrab Bernadinus.

Ayah dua anak ini menuturkan, pada awal di bukanya Credit Union Betang Asi Tempat Pelayanan Batu Lampang Telok, ditambah dengan mendengar penjelasan aktivis CU pada September 2003 lalu, ia, istri dan anaknya langsung bergabung menjadi anggota CU.

Di Tempat Pelayanan Batu Lampang Telok inilah, Imang sudah beberapa kali memanfaatkan produk pinjaman. Pinjaman awal sebesar Rp. 1.000.000-, untuk kapitalisasi menambah tabungan, sedangkan pinjaman kedua sebesar simpanan untuk membeli 4 ekor anak sapi untuk menambah  investasi, pinjaman ke tiga sebesar Rp. 60.000.000,- untuk menambah modal usaha beli karet.

Berkat semangat dan kegigihan dalam menjalankan usahanya, kini ayah dua anak ini sudah merasakan hasilnya, selain usaha beli karet, Imang juga mempunyai usaha penyeberangan fery (Getek) di Desa Telok dengan 3 orang karyawan, sehingga pendapatan rata-rata sehari bisa mencapai Rp. 800.000,-bahkan bisa sampai dengan  Rp. 1.500.000,-.

“Karena CU saya mampu mengembangkan asset berupa tabungan, kendaraan, ternak sapi, serta usaha produktif, saya benar-benar merasakan manfaatnya sehingga usaha yang saya jalankan berjalan dengan lancar dan berkembang dengan pesat,” ungkap Imang dengan nada senang.

Terkait kekurangan menjadi anggota CU, Imang mengatakan, tidak ada kekurangan dan kerugian yang anggota dapatkan, bahkan setiap waktu investasi anggota terus bertambah selama menabung di CU. “Kalau menabung di CU mendapatkan masa depan yang cerah, jaminan hari tua dan masa depan anak,” tutur Imang.

“Jadilah anggota yang baik, rajin menabung dan membayar angsuran, karena Credit Unionlah masa depan kita bisa terwujud,” pungkas Imang kepada penulis.

Sumber tulisan dan foto: Yosi Monalisa, kontributor TP BL.

Keterangan foto: Bernardinus Imang saat di atas getek

Theodor: “Saya Kolektor Paling Tua”

April 11, 2012 by  
Filed under Testimoni

Ditemui di rumahnya Theodor (64) yang sering di panggil  Bapa Bambut, menerima penulis dengan hangat. “Awalnya saya mengetahui CU pada tahun 2006 dari  saudara ipar saya, Kristian Kalo yang sudah almarhum,” ungkap Theodor di kampung Kayu Bulan.

Berikutnya Theodor bercerita, Desember 2006 lalu, ada dilaksanakan Pendas di Pujon, di rumah Kristian Kalo, karena tertarik dengan CU saya mengajak F. Ali Suling, Hardiwel, Unan dan Rusdiana untuk ikut Pendas di Pujon dengan biaya sendiri. “Kami berangkat ke Pujon menggunakan taksi motor. Waktu itu tarif taksi motor 40 ribu per-orang. Namun itu tidak jadi masalah buat kami. Peserta Pendas waktu itu, sekitar 35 orang, yang terdiri dari masyarakat Kayu Bulan, Pujon, Marapit dan Tapen,” jelas pria yang mengaku sebagai kolektor paling tua di CU BESI.

“Saat pendas itulah saya menanyakan ke Gregorius Doni Senun sebagai fasilitator apakah dapat melaksanakan Pendas di Kayu Bulan?,” kata Theodore. Dijawab kalau bisa mengumpulkan minimal 25 orang di Kayu Bulan, maka akan dilaksanakan Pendas di Kayu Bulan.

Selanjutnya, pulang pendas, saya bawa buku materinya dan Poljak. Buku Materi dan Poljak itu saya beri ke Gerfrit Sihen sehari-hari disapa Bapa Tuja.  Dengan rasa percaya Gerfrit ke Palangka Raya, lalu menabung 50 juta di CU.

Pulang dari Palangka Raya, Gerfrit menemui saya dan menyampaikan sudah jadi anggota CU Palangka Raya dan mau ikut Pendas di Kayu Bulan. Dari target minimal 25 orangpun sudah terkumpul dan jadwal Pendas sudah dibuat, saya sampaikan ada Pendas di Kayu Bulan, pada bulan April 2007. “Nah, saat Pendas bulan April inilah saya ditunjuk untuk  jadi Kolektor di Kayu Bulan,” ungkap Theodor.

Menurut suami dari Lida dan ayah 9 anak ini, menjadi kolektor saat itu, banyak suka dukanya. Untuk tahap awal antar tabungan maupun setoran anggota masih ke Timpah. Jalan yang belum baik kadangkala menjadi penghalang perjalanan. Ada perasaan was-was, karena kita bawa uang orang. Namun semuanya sudah terlewati dan menjadi kenangan yang indah.

“Sekarang anggota semakin bertambah, pertumbuhan anggota makin meningkat, menyusul salah satu anggota pinjam di CU dan dicairkan 200 juta juga ada lagi anggota pinjam 250 juta juga di cairkan,” kata pria dengan nomor buku anggota 106.766.

Kemudian, ada anggota di Kayu Bulan yang stroke dan pinjaman sebesar 75 juta dihapus. Semua ini menambah keyakinan masyarakat pada CU. Dibalik itu semua, ada yang saya sesali, mungkin karena tidak mengerti, walau sudah dijelaskan berulang ulang, ada juga anggota yang keluar. Belum sampai sebulan setelah keluar jadi anggota CU, dia meninggal dunia. Sehingga CU tidak bisa berbuat apa apa.

Bapak yang lahir di Kayu Bulan, 28 Agustus 1948 ini, sudah meminjam di CU bulan Agustus 2009 lalu, sebesdar 40 juta, untuk beli kebun karet. Hasil tiap hari rata-rata 25 kg. Sisanya untuk modal saya jual sembako di rumah. Dari pengamatan penulis, sembako yang dijual,  jadi langganan para penambang emas (baca tukang sedot emas).

Kakek 17 orang cucu ini berharap, masyarakat jangan menunda jadi anggota CU. “Jangan menunggu uang banyak, apalagi sekarang menjadi anggota baru, semua dengan Pinjaman Kapitalisasi. Tidak ada alasan tidak ada uang untuk jadi anggota. Semua tergantung pada kita, kita yang mengatur keuangan,” pungkasnya kepada penulis.

Sumber tulisan dan foto: Sepmiwawalma, penggiat CU Betang Asi

Keterangan foto: Theodor, Kolektor CU di Kayu Bulan.

Jumrit K. Abes: “Menyesal Menunda Masuk CU”

April 6, 2012 by  
Filed under Testimoni

“Saya menyesal 2 tahun menunda jadi anggota CU setelah ikut pendidikan dasar di Pujon, karena menunggu uang cukup,” ungkap Jumrit K. Abes (32) kolektor desa Marapit membuka perbincangan kepada penulis.

Lebih jauh Jumrit menerangkan, saya menunda bukan karena tidak mengerti tentang CU, karena waktu ikut pendididikan dasar saya mendapatkan informasi tentang CU sangat jelas. Saya menunda karena tidak mau pinjam kapitalisasi untuk jadi anggota, maunya dengan uang tunai.

Ditambahkannya, tahun 2007 ia mengikuti pendidikan dasar, baru tahun 2009 menjadi anggota CU dengan cara pinjam kapitalisasi. Selama 2 tahun menunda, selalu tidak cukup uang tunai yang ia dapatkan untuk bisa menjadi anggota CU. Jumrit akhirnya menyesal karena tidak memulainya di tahun 2007 dengan pinjam kapitalisasi untuk jadi anggota. Toh, ketika ia masuk CU di tahun 2009 secara kapitalisasi 5 juta dengan jangka waktu 6 bulan pinjaman sudah dilunasi.

Dilatar belakangi pengalamannya, sekarang ia selalu memotivasi calon anggota kalau tidak punya uang tunai, masuk saja dengan cara pinjaman kapitalisasi. Ketika kita sudah pinjam, justru menyemangati kita untuk giat bekerja, karena kita merasa ada kewajiban yang harus di bayar kata ayah 2 orang anak ini.

Sejak diresmikan menjadi TPK Pujon ia dipercaya sebagai pengumpul (baca kolektor) di desa Marapit yang melayani 60 orang anggota. Ia berpendapat CU tidak hanya tempat menabung, tapi juga meminjam.

Terkait pengalaman meminjam dan menabung Jumrit menceritakan pada pertama kali meminjam untuk modal usaha sebesar 25 juta tunai, dari usaha yang telah dilakukan sekarang hanya tersisa 3 juta dari pinjamannya, tabungannyapun terus bertambah. “Bahkan insentif saya sebagi kolektor tidak pernah saya pakai, semuanya di tampung di Manda Mandau, nanti kalau ada kebaktian atau Natal baru saya ambil,” jelasnya.

Berbicara kemungkinan orang lambat menjadi anggota CU menurut Jumrit, karena tidak semuanya cepat memahami CU. Ada ketakutan uangnya hilang, ada juga yang langsung mau minjam cair (baca bawa uangnya pulang) atau karena tidak punya waktu ikut pendidikan dasar.

Jumrit menegaskan kalau soal uang belum cukup untuk menjadi anggota pinjam kapitalisasi saja, sedangkan untuk orang tua yang mau anaknya jadi anggota, karena anak dibawah umur tidak boleh pinjam, simpan saja dulu uangnya di Tabungan Anak Sekolah (TAS) tiap bulan dapat bunga yang cukup, kalau sudah cukup ditarik, lalu dipindahkan ke buku anggota. “Selalu ada jalan keluarnya kalau bersama CU,” kata Jumrit.

Jumrit menyadari mungkin kekurang-mampuannya untuk menjelaskan pada anggota, sehingga sebagian dari mereka belum mengerti juga. Namun ia tetap yakin ada waktunya para calon-calon anggota akan mengerti.

Jumrit berharap anggota dapat menggunakan produk yang ada di CU sehingga bisa mengubah pola hidup yang boros. “Ke depan ada usaha yang tetap tidak hanya bergantung pada alam, tunjukkan perbedaan bahwa kita anggota CU. Sebagai anggota CU kita punya rumah, punya usaha, anak bisa sekolah, karena bagi saya hanya CU harapan baik tempat pinjam untuk keperluan apapun agar kesejahteraan tercipta,” kata Jumrit.

Menyinggung pensiun saat tua, Jumrit mengatakan, sebagai orang swasta tidak ada tempat bergantung selain CU, kalau mau pensiun saya siapkan tabungan agar kelak saya nikmati pensiun dari bunga tabungan saya di CU, pungkasnya kepada penulis.

Sumber berita dan foto: Sepmiwawalma, penggiat CU Betang Asi.

Keterangan Foto: Jumrit K. Abes (32) kolektor desa Marapit

Sallie J.Dugung, Pengayuh Becak, Miliki Simpanan 100 Juta

February 23, 2012 by  
Filed under Testimoni

Disaat matahari hampir terbenam disertai gerimis yang mulai turun membasahi bumi, Kamis, 16 Februari 2012 saya berkunjung ke rumah salah satu anggota CU TP TAHASAK BATU SEPAN, PUJON.

Kunjungan ini dilandasi rasa penasaran karena mendengar kabar bahwa ada seorang bapak pengayuh becak yang punya simpanan di CU TP TAHASAK BATU SEPAN sampai 100 juta rupiah.

Di antar oleh salah satu staff di TP TAHASAK BATU SEPAN, tiba di depan rumah pengayuh becak ini, staff yang mengantar saya membuka komunikasi dengan menanyakan dengan bahasa Dayak Ngaju tege buekah (ada kakek kah)?, lalu dijawab oleh anak-anak yang sedang bermain didepan rumah sambil menunjuk ke arah jalan, kanih bue handak buli ndai ampi (itu kakek sudah dalam perjalanan pulang).

Saya mengarahkan pandangan ke jalan yang ditunjuk, benar saja ada seorang bapak yang wajahnya mulai menua, sedang mengayuh bejak menuju ke arah tempat kami menunggu. Begitu tiba saya menyapa dengan mengucap salam salamat halemei ma (selamat sore om), yang dijawab dengan salamat halemei kea (selamat sore juga). Beliau  turun dari becak, menyalami kami, lalu mengajak kami masuk rumahnya. Saya memperkenalkan diri dan mulai berbincang dengan beliau.

Nama saya Sallie J. Dugung, umur sekitar 55 tahun, keseharian mengayuh becak. Saya orang Dayak asli, beragama Kristen Protestan. Istri saya namanya  Dayah, kami memiliki 6 orang anak. Saya tidak ingat persis tahun berapa saya mulai narik becak, yang saya ingat waktu itu Bapak Basirun Sulang baru jadi camat di Pujon, kata kakek menjawab pertanyaan penulis ketika membuka perbincangan.

Sebelum menarik becak, kakek dari 3 orang cucu ini bekerja emas, nyadap karet dan berladang padi. Melihat perkembangan di Pujon, pasar sudah mulai ada, jalan sudah di aspal, “Saya ingin juga mencoba usaha yang lain, maka mulailah saya narik becak saat itu dengan tarif 3 sampai 5 ribu rupiah disesuaikan dengan jaraknya. Kalau sekarang uang 3 ribu itu sama dengan 10 ribu. Semakin lama banyak yang berlangganan dengan saya, untuk mengangkut barang mereka dari rumah ke pasar, pindah rumah atau mengantar anak sekolah atau ke puskesmas. Kalau sekarang penghasilan saya paling sedikit 50 ribu sehari, tapi yang normal itu 100 sampai 300 ribu per hari dan mereka bisa memanggil saya hanya dengan SMS karena mereka pegang nomor HP saya,” terangnya.

Saya narik becak, istri saya buka warung sembako kecil-kecilan. Suatu hari istri saya ikut pendidikan dasar CU dan langsung pinjam kapitalisasi 20 juta. Dari hasil jualannya istri saya membayar dan lancar tidak pernah menunggak. Melihat istri saya ikut CU, saya juga mau ikut dan langsung ikut pendidikan dasar. Setelah ikut pendidikan dasar, saya langsung pinjam kapitalisasi 50 juta.

Sewaktu mau pinjam saya ragu ragu, apa saya bisa disiplin membayarnya, karena kalau uang ada saja tiap hari dapat dan kelihatannya staff CU yang melayani saya juga ragu-ragu, mungkin karena pekerjaan saya tukang becak.  Namun saya bertekad saya bisa bayar, karena saya punya penghasilan, walaupun selama ini tidak pernah nabung.

Selain membayar pinjaman, tiap bulan saya juga menambah tabungan 200 ribu. Uang yang saya antar selalu tebal, karena uang yang saya antar uang receh, paling besar huruf 20 ribu, cuma sudah saya susun rapi ketika di rumah biar mereka di CU bisa diterima.

Saya senang dengan mereka di CU, karena walau saya tukang becak dan selalu membayar pinjaman dan nabung dengan uang receh mereka selalu ramah melayani saya dan memanggil saya bue kalau di kantor, sehingga saya merasa dihargai.

Saya sangat percaya pada CU, karena saat saya sakit saya diberi pinjaman. Di CU pertama saya pinjam kapitalisasi 50 juta, kemudian pinjaman kedua  70 juta, yang ketiga 103 juta. Pinjaman 103 juta itu  diberikan sesuai dengan tabungan saya yang ada di CU.

Karena saya sudah merasakan manfaat dari CU, saya sudah memberi pemahaman kepada anak anak saya, agar menjadi anggota CU dan 2 dari 6 anak saya sudah menjadi anggota CU. Anak  saya yang lain mungkin karena belum mengerti belum menjadi anggota.

Saya ingatkan anak anak saya, seperti apa yang saya dapatkan ketika saya ikut pendidikan dasar, kalau dapat duit, duitnya harus dikelola. Dibagi sebagian untuk makan, sebagian ditabung, nanti kalau kita sakit, tabungan yang akan menolong kita. Kalau uang simpan dirumah bisa hilang, kalau di CU dapat bunga. Nanti kalau saya sudah tidak mampu bekerja, saya mau terima pensiun lewat CU dari bunga uang yang saya tabung selama ini, kata pemilik tabungan lebih dari 100 juta ini.

Keterangan Foto: Sallie J.Dugung, bersama beca menabung di CU
Sumber foto dan tulisan: Sepmiwawalma.

Apriady L. Djaga : Saya menyesal baru masuk CU sekarang.

December 12, 2011 by  
Filed under Testimoni

Pria bertubuh tinggi besar dan berkulit putih ini bernama Apriady L. Djaga, dikenal didaerahnya dan akrab disapa dengan Bapak Deni. Pekerjaannya sebagai abdi negara (Pegawai Negeri Sipil) di lingkup Kabupaten Kapuas, tepatnya sebagai kepala UPTD Sei Hanyo Kecamatan Kapuas Hulu.

Selain sebagai Kepala UPTD, Apriady L. Djaga juga dipercaya oleh anggota CU Betang Asi yang berjumlah melebihi 250 orang di daerah Sei Hanyo sebagai Kolektor.

Dalam kesehariannya menjalankan kedua fungsinya melayani masyarakat baik sebagai kepala UPTD ataupun sebagai Kolektor CU, Pak Deni begitu menikmati dengan penuh semangat dan suka cita.

Kalau dilihat dan dipikir-pikir memang capek, cuma kalau aktivitas tersebut dinikmati dan disenangi, rasa capek tersebut tidak akan dirasakan. Kata Apriady.

Ditanya oleh Tim Website CU Betang Asi tentang cara mengatur waktunya dalam melakukan pelayanan publik ?

Saya kalau dari jam 07.00 wib s.d. 13.00 wib fokuskan urusan kantor, dan setelah itu saya persilahkan bagi anggota CU yang mau datang menyetor simpanan dan pinjamannya, sehingga tugas saya tidak terbengkalai dan pelayanan saya kepada anggota CU tetap berjalan. tidak ada yang komplen, semua memahaminya.

Saya rasakan bahwa keberadaan CU betul-betul membantu masyarakat, dan saya menyesal karena baru masuk di bulan Januari 2011 yang lalu padahal saya sudah mengenal CU sudah lama.

Pertolongan CU betul-betul saya rasakan ketika pada waktu itu saya membutuhkan uang untuk biaya pernikahan anak, dan melalui saudara ipar saya yang memfasilitasi saya untuk pinjam di CU. disitulah saya betul-betul merasa dibantu oleh pertolongan CU.

Harapan saya, masyarakat yang masih belum menjadi anggota supaya bisa bergabung di CU Betang Asi. Target saya selaku kolektor CU pada tahun 2013 akan terbentuk kantor tempat pelayanan khusus di Sei Hanyo.

Idoe Dasit (Pa Jarot): “Menjadi Anggota CU, Kita Diajar Untuk Tidak Ber Foya-Foya.”

October 24, 2011 by  
Filed under Testimoni

Ditengah kesibukkannya sebagai kepala desa dan kolektor CU Betang Asi, pria ini menerima penulis dengan senang hati. Berbincang mengenai pengalamannya dan harapannya terhadap masyarakat desa Lawang Uru.

Berikut petikan pembicaraan di rumahnya di desa Lawang Uru yang dilakukan penulis dengan pria yang sudah menjadi anggota CU aktif di wilayah pengembangan TP. Batuah Marajaki di akhir Oktober 2011 lalu.

Sudah berapa lama anda dipercaya sebagai kolektor di desa Lawang Uru?

Sampai hari ini sudah 5 tahun sejak awal tahun 2006.

Dari pengamatan dan penilaian anda, apa motivasi warga desa Lawang Uru masuk CU?

Mereka sangat antusias dan berambisi dan mereka punya harapan juga dengan CU. Karena CU mereka dengar dulu, mereka lihat dari desa-desa lain dari teman-teman mereka yang sudah masuk jadi dulu memang harapan warga kita supaya di sini ada kolektor. Pas… sekarang sudah ada, kelihatannya warga kita sangat berambisi masuk CU, itu harapan mereka.

Dengan kata lain, semenjak ada kolektor masyarakat semakin berkembang?

Iya,semakin rajin menabung

Jika dilihat persentase dari jumlah penduduk, berapa banyak yang sudah masuk CU?

Kalau melihat dari persentase memang 40% dari jumlah penduduk desa Lawang Uru yang sudah masuk CU. Tetapi, sebagai informasi saya ini sebagai kolektor 3 desa.

Desa apa saja itu?

Pos saya di Lawang Uru, juga kolektor desa Hurung dan Manen Kaleka/ Bukit Bakung

Dari 3 desa ini menurut pengamatan anda yang paling aktif  di desa mana?

Sekarang desa Lawang Uru yang paling aktif, malah kalau untuk desa Lawang Uru ini kelalaian hampir tidak ada dalam masalah kredit lalai.

Pengalaman apa saja yang paling berkesan sebagai kolektor CU hingga tahun ke lima sekarang?

Kalau pengalaman banyak ya…, kalau sampai pada hari dan tanggal saya milir, maklum kita orang desa ada yang berkata, “Pak Jarot, tolong tabung untuk saya. Besok saya keluarkan getah dulu”, itu pengalaman yang berkesan dan saya senang juga dan saya rasa harus membantu juga.

Dan ada lagi pengalaman di desa mestinya jam kerja dari jam 7 sampai jam 3, kalau di desa lain, hari Minggu tetap nabung, jam 7 bisa sampai jam 10 malam, ada yang mengetok pintu untuk menyetor tabungan.

Terkait keuntungan menjadi anggota CU, apa yang bisa anda bagikan pengalamannya ber-CU selama ini anda bisa berbagi ke calon anggota CU yang berminat?

Kalau keuntungan banyak menjadi anggota CU, pertama kita diajar untuk tidak berfoya-foya. Mengapa saya bilang begitu, karena dengan kita menjadi anggota CU terutama di desa ini, kita tidak jauh-jauh mengantar uang tidak pakai modal karena ada kolektor.

Yang kedua, keuntungannya jadi anggota CU kalau kita sakit dibantu, ada SOLKESnya dan kalau kita mau menambah modal pasti CU membantu. Contohnya saya, kemaren saya mau beli mobil minta bantu sama CU, dibantu. Kemaren saya mau tambah modal untuk membantu adik saya, datang lagi saya ke kantor CU dan minta tolong bahwa saya perlu uang mendadak, CU bantu saya, itu keuntungan menjadi anggota CU yang aktif, dan banyak lagi yang lain.

Harapan anda ke depan untuk desa Lawang Uru?

Saya selalu kampanye untuk desa, apalagi sekarang saya sudah menjadi kepala desa saya kampanye agar warga desa kita ini terutama desa Lawang Uru semua masyarakatnya baik kecil sampai yang tua-tua jadi anggota CU itu harapan saya dan itu bagian dari cita-cita saya dulu semenjak saya jadi kolektor saya selalu memperjuangkan itu hingga sekarang terus saya perjuangkan dan saya beri info tentang CU yang selalu berkembang.

Saya selalu bilang kepada masyarakat bukan tidak mempercayai omongan orang  lain, tetap datanglah ke meja saya untuk bertanya apa itu CU itu harapan saya kepada masyarakat desa Lawang Uru supaya tidak mendapat jawaban yang tidak baik dan tidak memuaskan.

Keterangan foto: Idoe Dasit berada di meja kerja di rumahnya, Lawang Uru

Ditulis oleh & sumber foto: Rokhmond Onasis.

Amu Lanu : Bermula dari Sikap Skeptis

September 6, 2011 by  
Filed under Testimoni

Pada mulanya Amu Lanu A. Lingu skeptis dan tidak percaya pada Credit Union (CU), Ia menganggap CU tidak ada bedanya dengan koperasi yang tidak banyak memberikan sumbangsih positif untuk masyarakat luas.

TETAPI, toh ia mempelajarinya juga. Selama dua tahun ia mempelajari CU dari berbagai literatur. Ia mencermati praktik pengelolaan CU di Kalimantan Barat. Ia menemukan keunikan dalam CU. Roh pergerakan CU berada pada swadaya, solidaritas, dan pendidikan terus-menerus kepada anggota. Ketiga hal tersebut adalah cermin dari filosofi CU itu sendiri yang merupakan dasar moral baagi seluruh komunitas CU.

Setelah terlibat akti di CU, Amu merasakan perubahan dalam dirinya. Pada tahun 2003 ia menulis sebuah artikel pada Optimal, Jurnal Ilmiah Fakultas Ekonomi Universitas Palangka Raya Vol 4 No. 1 ISSN 1411-8106, dengan judul “Menyelami Efektivitas dan Efisiensi Organisasi Credit Union sebagai Alternatif Solusi Pemberdayaan Financial Ekonomi bagi Masyarakat”.

Artikel tersebut tiada lain adalah ekspresi dari Amu yang hendak memberdayakan dunia ekonomi demokratis. Roh dan jiwa ekonomi demokrasi menjadi urat nadi gerakan organisasi CU. “Ekonomi demokrasi CU inilah yang sesungguhnya mendorong perubahan pola pikir saya,” kata Lektor Kepala pada Fakultas Ekonomi Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah ini.

Lebih lanjut, Amu yakin bahwa keterlibatannya dalam CU memberikan dampak positif bagi dirinya. Secara khusus, ia menyoroti paradigma dalam semangat CU. Pengetahuan dan dunia praktik pengelolaan CU yang berakar pada ekonomi demokratis tercermin dalam tiga pilar CU, yaitu pendidikan, swadaya, dan solidaritas. Tiga pilar ini menjadi kerangka dan paradigma untuk “meneropong” dinamika di dalam maupun diluar organisasi CU.

“CU membantu saya lebih arif melihat, mempertimbangkan segala bentuk tindakan, perumusan kebijakan, pembuatan peraturan yang berkaitan dengan sumber daya ekonomi agar lebih adil”.

Modal membangun CU adalah orang yang berkumpul menjadi satu. Dari sana, modal modal manusia terbentuklah modal uang. CU dibangun dengan dasar moral ekonomi, serta menjadi unit kegiatan financial ekonomi masyarakat. “Disinilah fungsi pemberdayaan komonitas CU sangat signifikan untuk membangun hidup sejahtera banyak orang, saling mengangkat, dan membuang sikap saling menindas satu sama lain,” kata Amu.

CU Betang Asi Palangka Raya tidak bisa dilepaskan dari sosok Amu Lanu A. Lingu. Pada 2003 A.R. Mecer berkunjung ke Kalimantan Tangah untuk berlokakarya dan membuat perencanaan strategis pendirian CU. “Pada waktu itu saya terpilih menjadi Ketua Pengurus pertama sampai sekarang pun masih dipercaya untuk priode yang ketiga,” kata doktor ilmu ekonomi dengan spesialisasi pengelolaan CU ini.

Amu merasa optimis bahwa CU akan tetap eksis dan berkembang. Partisifasi aktif dan antusiasme komunitas CU serta para pengelola yang terlibat, seperti penasihat, pengawas, pengurus, dan manajemen menjadi jaminan. Mereka harus senantiasa sehati sepikir dalam CU.

SUMBER : JEJAK, 14 Agustus 2011 halaman 10

M. Yahya : dulu sewa, tapi sekarang berkat CU saya punya 8 gerobak pentol

July 13, 2011 by  
Filed under Testimoni

Merantau dari pulau Jawa ke Kalimantan merupakan sesuatu hal yang nekat bagi M. Yahya Zein H.  Tuntutan hidup membuatnya nekad memberanikan diri untuk meninggal kan pulau Jawa menuju Kalimantan Tengah (Palangka Raya) untuk mengadu nasib mencari rejeki.  Pulau Kalimatan yang dia kenal dulu merupakan pulau yang begitu asing dan menakutkan, ini disebabkan jauhnya jarak dari pulau Jawa dan pasca konflik dulunya.  Namun setelah berada dipulau Kalimantan, M. Yahya merasa apa yang dia takutkan itu salah “orang Kalimantan yang saya jumpai selama ini baik dan ramah semua, bahkan usaha yang saya kelola sekarang ini sukses berkat saya bergabung dengan lembaga keuangan yang diorganisir oleh orang Dayak”. kata M. Yahya.

M. Yahya Zein H. biasa juga akrab dipanggil dengan nama Ahong lahir di Madiun pada tanggal 05 Mei 1982.  Pria berusia 29 tahun ini memulai usahanya dengan menjadi kuli upahan sebagai penjual pentol keliling di Palangka Raya dengan hasil yang pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Bermula dari rutinitasnya berjualan didepan kantor CU Betang Asi dan ajakan dari manajemen CU Betang Asi untuk masuk menjadi anggota CU Betang Asi, maka pada tanggal 20 Juni 2008, Ahong menyisihkan uangnya untuk masuk menjadi anggota CU Betang Asi dengan nomor 108.367.

Selama 3 tahun menjadi anggota CU Betang Asi, Ahong sudah meminjam sebanyak 5 kali di CU Betang Asi, yang mana penggunaan pinjaman pertama untuk membeli gerobak pentol dan modal membuat pentol, pinjaman kedua untuk menambah modal memuat pentol, pinjaman ketiga untuk membantu berobat adiknya yang ada di kampung, pinjaman keempat untuk membantu merehap rumah dikampung, dan pinjaman kelima untuk membuat gerobak pentol, sehingga sampai sekarang Ahong memiliki 8 (delapan) gerobak pentol.

Ahong yang dulu menyetor setoran uang dari penjualan pentolnya ke pemilik gerobak, sekarang ini Ahong hanya tinggal menunggu setoran dari 8 (delapan) gerobak pentol miliknya.

Fatur: CU, Pendidikan untuk Mengelola Uang

July 9, 2011 by  
Filed under Testimoni

Di awal bulan Juli 2011 tim web CU betangasi.com berkesempatan mengunjungi desa Mantangai Hulu, Kabupaten Kapuas. Desa ini dapat ditempuh dengan menggunakan jalan darat dan melewati jalur sungai sekitar 4 jam.

Salah seorang kolektor CU Betang Asi berada di desa ini. Berikut petikan diskusi dengan Fatur (37) saat penulis berada di rumahnya:

Sudah berapa lama anda menjadi kolektor CU di Mantangai Hulu?

Sejak tahun 2006 saya sudah masuk anggota CU di daerah ini, sudah aktif menjadi kolektor sejak tahun 2008.

Selama 2008-sampai sekarang sebagai kolektor, pengalaman apa yang paling berkesan?

Pengalaman yang paling berkesan adalah mengajak anggota dengan memberikan pengertian. Karena anggota CU yang masuk dulu, belum mengerti secara penuh mengenai tujuan CU itu sendiri. Mereka  hanya ikut-ikutan saja dan tidak memahami secara mendalam.

Jadi anda terus memberikan pemahaman agar lebih mengerti?

Iya…, disamping saya menyampaikan pengalaman saya sendiri. Bila sudah dipahami akan menambah pengalaman baru.

Dari sisi peluang, bagaimana anda melihat masyarakat (Dayak) di Mantangai Hulu ini, bagaimana mereka bersikap dengan adanya CU?

Mereka menanggapi dengan bagus, ditambah mereka sudah menerima pendidikan  sehingga ada pengertian baru, peluang baru dapat mereka gali. Otomatis karena mereka kekurangan modal sehingga berusaha untuk menambah modal salah satunya adalah menyadap karet.

Namun, kelemahannya mereka tidak tahu cara mengelola uang, padahal jika dilihat dari uang yang masuk dari menyadap karet per orang mendapatkan 20 kg dengan dikalikan harga sekarang (8-10 ribu per kg). Cuman dengan mendapat uang sedikit, langsung dihabiskan.  Dengan adanya CU mereka dapat pengertian baru dari pendidikan untuk mengelola uangnya.

Bagaimana cara anda mengajak calon anggota CU supaya dapat lebih berperan aktif ?

Jika saya bertemu dan berbicara dengan mereka, saya menanyakan bagaimana kondisi kehidupan mereka saat ini, jika kalian ingin berubah coba saja dengar informasi tentang CU dan bagaimana  supaya dapat ikut. Mereka juga melihat anggota yang lain, karena mereka penasaran, bagaimana melihat kemajuan dari anggota yang terdahulu.

Rohtie Kamang Iman : Jalinan CU membantu meringankan duka keluarga kami.

June 13, 2011 by  
Filed under Testimoni

Hidup dan mati merupakan rahasia Sang Ilahi yang bisa menentukan kapan dan dimana akan terjadi.    Hal ini lah yang dialami oleh keluarga besar ibu Rohtie Kamang Iman yang telah ditinggal pergi anaknya yang tercinta kembali ke sang penciptanya.

Romianto, pria berusia 24 tahun ini meninggal dunia diusianya yang masih muda, meninggalkan istri dan satu orang anaknya yang masih berusia 2,5 tahun.  Duka yang mendalam sudah pasti dirasakan oleh seluruh keluarga yang ditinggalkan.

Dimasa hidupnya Romianto tercatat sebagai salah satu anggota CU Betang Asi dengan nomor anggota 102.503 masuk pada tanggal 28 Juni 2004.  Sebagai salah satu anggota CU Betang Asi, ahli waris Romianto mendapatkan bantuan solidaritas dari seluruh anggota CU Betang Asi yang terhimpun dalam produk Solidaritas Dukacita (Solduka) sebesar Rp. 2.000.000,- dan ditambah dengan bantuan perlindungan dari Jalinan (Tunas) sebesar simpanan yang dimiliki oleh anggota yang meninggal berdasarkan flapon yang telah ditentukan oleh Jalinan.

Bantuan yang diberikan tersebut sedikit banyak telah meringankan beban duka ahli waris, yang mana sebagian bantuan tersebut langsung diwarsikan ke simpanan anaknya Adlinata dengan nomor 111.662 untuk jaminan masa depan anak tersebut.

Ibu Rohtie Kamang Iman mewakili ahli waris duka mengucapkan syukur dan terima kasih atas bantuan yang diberikan dan begitu merasa terbantu dalam meringankan beban duka yang dirasakan oleh istri dan anak almarhum.

Next Page »